Anak Bandung Bikin Museum Digital Aksara Nusantara

Frino Bariarcianur

19 08 2013 museum digital aksara nusantaraSaat ini jangan bingung kalau melihat tulisan-tulisan kuno. Sebab sebentar lagi akan ada sebuah museum digital yang memperkenalkan naskah-naskah kuno lengkap dengan cara mempelajarinya. Bahkan museum ini juga akan dilengkapi dengan game.

Museum Digital Aksara Nusantara yang masih terus dikembangkan ini dibuat oleh anak muda di kota Bandung, Aksakun. Di Bandung, kelompok belajar Aksakun yang terdiri dari mahasiswa, siswa, musisi dan pemerhati benda sejarah dikenal sebagai komunitas yang memfokuskan mempelajari naskah-naskah kuno yang tersebar di seluruh Nusantara. Agar naskah-naskah kuno itu dapat diakses orang banyak mereka menyalin kembali naskah-naskah kuno tersebut ke bentuk digital. Kesungguhan mereka ini dimulai sejak tahun 2009 lalu.

Kini tibalah waktunya untuk melihat penjelajahan para pecinta aksara nusantara.

“Geng” Aksakun dengan bangga mempersembahkan acara Launching Museum Digital Aksara Nusantara di Bale Rumawat, Kampus Unpad Jalan Dipati Ukur No. 35 Bandung (Depan Gedung 4, Sebelah Perpustakaan Hukum, 2 Gedung dari Graha Sanusi), Jumat, 27 September 2013, pukul 18.30 Wib.

Kenapa museum digital aksara nusantara ini dibuat?

Sinta Ridwan, mahasiswi S3 Filologi Unpad, salah satu penggagas Museum Digital Aksara Nusantra mengatakan minat membaca naskah-naskah kuno di kalangan generasi  muda masih sedikit. Untuk itulah ia bersama “geng” Aksakun membuat museum digital.

Museum ini didirikan untuk memberikan informasi tentang keberadaan dan penggunaan aksara Nusantara.

“Keberadaan web aksakun ini memberikan informasi selain mengenai aksara, juga membuat kolom untuk tersebut membuat kolom untuk mempelajari aksara lewat game interaktif, lengkap dengan tulisan essai, referensi, dan artikel mengenai penelitian-penelitian yang sudah dilakukan para ahli filologi dan arkeologi,” ungkap Sinta Ridwan.

Menurut Sinta, generasi muda yang mempelajari naskah kuno akan mengetahui bagaimana pandangan hidup orang-orang di masa lalu itu. Di dalam naskah itu juga terdapat cara hidup sehat, ajaran-ajaran tentang menghargai alam, termasuk sastra.

Launching Museum Digital Aksara Nusantara akan menghadirkan pembicara Setiawan Sabana (Guru Besar FSRD ITB), Hawe Setiawan (Dosen Unpas/Budayawan) dan Sinta Ridwan (koordiantor, mahasiswa S3 Filologi Unpad). []

Komentar Kita

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.