More

    Mobil Tua Teman Berwirausaha

    Berbisnis Dengan Mobil Tua

     

    Foto : Mega
    Food Truck. Foto : Mega

    BANDUNG, KabarKampus – Bandung- Sudah satu tahun lamanya, mobil Chevrolet Suburban produksi tahun 1962 ini berkelana di jalanan Kota Bandung. Bukan sekadar berkelana, tetapi pemiliknya menjajakan camilan yang langsung dimasak di dalam mobil.

    - Advertisement -

    Istilah Food Truck sudah cukup lama muncul di Amerika. Tetapi baru muncul dan menjamur di Indonesia, khususnya Bandung selama beberapa bulan terakhir. Istilah tersebut diberikan kepada mobil-mobil yang berjualan makanan dari satu tempat ke tempat lain, layaknya para nomaden.

    Nama nomaden itu pula yang digunakan oleh sekelompok mahasiswa yang menggerakkan bisnis kulinernya melalui mobil tua. Mereka adalah, Pampam, Dije, Rizkia, Lele, Datu, dan Kokok.

    Sebelum berjualan makanan di mobil tuanya, keenam orang ini merupakan tim yang bekerja di salah satu Cafe di Bandung. Sayangnya, cafe tersebut tutup dan aktivitas mereka pun terputus. Bingung karena tidak memiliki kegiatan lagi, akhirnya mereka pun memodifikasi kendaraan pribadinya menjadi dapur portabel, yang diberi nama Nomad.

    “Lebih tepatnya memanfaatkan apa yang ada. Karena hanya punya Suburban ini, ya kami maksimalkan saja,” kata Derry Kokok kepada wartawan saat ditemui di Keuken No. 5, di Plaza Balai Kota Bandung, Minggu (19/10/2014).

    Menurut Kokok, dia dan teman-temannya belajar berbisnis untuk masa depan. Setelah lulus kuliah, mereka harus bisa menciptakan lapangan kerja. Karena alasan itu juga, setiap tiga bulan sekali, Nomad membuka lowongan untuk para mahasiswa.

    “Kami mengajak mereka untuk belajar berbisnis, juga membuka lapangan pekerjaan bagi yang membutuhkan. Pemikirannya adalah, jangan melamar pekerjaan, tapi jadilah pemberi pekerjaan,” jelas Kokok.

    Dalam satu tahun eksistensinya, Kokok dan teman-temannya mengaku sudah dua kali menerima dan mengajarkan bisnis kepada para mahasiswa. Bukan hanya itu, para pegawai baru ini juga diberi modal yang dihasilkan dari hasil berjualan mereka.

    “Tantangannya di sana, bagaimana mereka memutarkan modal itu untuk mendapat keuntungan. Tuntutannya kan kreatifitas mereka,” ujar Kokok.

    Selain memberikan pelatihan bisnis kepada para mahasiswa yang tertarik untuk membuka usaha, Nomad juga memberikan pelayanan jasa kulinernya ke berbagai daerah. Daerah paling jauh yang pernah disambangi Nomad adalah Jogjakarta.

    “Waktu itu ada acara Costum Festival, acara mobil-mobil tua. Dan kami datang ke sana, dan satu-satunya yang berjualan makanan menggunakan mobil di sana,” kata Kokok.

    Sementara sehari-hari, Nomad biasa mangkal di Taman-taman Kota Bandung. Biasanya keenam mahasiswa tersebut mulai beroperasi sejak pukul 17.00 WIB. “Kami jualan setelah selesai kuliah,” tutup Kokok.[ Mega Dwi Anggraeni]

    - Advertisement -

    1 COMMENT

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here