More

    Mahasiswa UGM Kembangkan Plastik Ramah Lingkungan Dari Biji Durian

    Andika Cahya Widyananda, dan Dyah Ayu Permatasari Tedjo Pradipto menunjukkan tepung biji durian yang digunakan sebagai campuran pembuatan bioplastik. Dok. UGM
    Andika Cahya Widyananda, dan Dyah Ayu Permatasari Tedjo Pradipto menunjukkan tepung biji durian yang digunakan sebagai campuran pembuatan bioplastik. Dok. UGM

    Durian tak hanya miliki rasa yang enak, namun juga memiliki manfaat yang lain yaitu bijinya bisa dimanfaatkan sebagai kantong plastik atau bioplastik. Penelitian kantong plastik dari biji durian ini dilakukan oleh mahasiswa Departemen Teknik Kimia Fakultas Teknik. Mereka adalah Fajar Bayu Prakoso, Andika Cahya Widyananda, Annisa Fakhriyah Rofi, Dyah Ayu Permatasari Tedjo Pradipto, dan Adiyat.

    Fajar Bayu, ketua pengembang bioplastik biji durian mengatakan, pengembangan bioplastik biji durian ini berawal dari keprihatinan mereka terhadap penggunaan kantong plastik yang semakin meningkat. Sementara fasilitas dan sistem pengelolaan sampah di Indonesia masih sangat kurang.

    “Sehingga banyak tumpukan sampah di berbagai tempat. Bahkan, sebagian besar plastik yang digunakan masyarakat terbuat dari bahan yang sulit terurai (non-degradable),” kata Fajar di Laboratorium Polimer Teknik Kimia FT, Jumat kemarin, (11/03/2015).

    - Advertisement -

    Atas dasar tersebut, mereka berupaya mencari solusi dengan membuat plastik yang bersifat mudah terurai. Caranya dengan memanfaatkan biji durian sebagai bahan pembuat plastik.

    Menurut Fajar, pilihan pada biji durian sebagai bahan untuk pembuatan plastik karena memiliki kandungan pati yang cukup tinggi. Sementara, pati berfungsi sebagai pengisi (filler) pada campuran agar kerapatan bioplastik menjadi tinggi, sehingga meningkatkan kuat tarik plastik.

    “Kandungan pati biji durian termasuk tinggi dengan kadar hampir 50 persen dari beratnya. Lebih tinggi dari kandungan pati dalam singkong yang berkisar 20 persen,” tuturnya.

    Langkah pertama yang mereka lakukan dalam pembuatan bioplastik biji durian ini yaitu dengan mengolah biji durian kedalam bentuk tepung. Langkah ini dimulai dari merendam biji durian di dalam air kapur selama 2-3 hari untuk menghilangkan getah. Kemudian dijemur selama 1 hari. Selanjutnya setelah kering, biji durian yang keras dipisahkan dari pati yang berwarna putih kecoklatan di bagian dalamnya dan mengolahnya menjadi tepung menggunakan alat penggiling (grinder).

    “Tepung tersebut lalu kami saring dan di oven selama sekitar 30 menit untuk menghilangkan kadar airnya,” ungkap Fajar.

    Langkah berikutnya, tepung yang dihasilkan dicampurkan dengan sejumlah bahan kimia tambahan, antara lain Low Density Polyethylene (LDPE), Maleic Anhydride (MA), lalu inisiator (Perbutyl D dan Perbutyl Z). Pati biji durian divariasikan dengan masing-masing bahan tersebut dalam berbagai variasi.

    “Kami membuat 30 sampel untuk dicampurkan dan dicetak dengan menggunakan alat Laboplastomill dan Hot Press di LIPI Bandung,” ungkapnya.

    Fajar menyampaikan, mereka telah melakukan pengujian terhadap sampel bioplastik yang sudah jadi. Uji yang dilakukan meliputi uji kuat tarik dan elongasi, uji biodegradasi, yaitu ditanam dalam tanah, uji difusivitas dalam air, uji Fourier Transform InfraRed (FTIR), dan uji Differential Scanning Calorimetry (DSC).

    Selain itu, mereka juga menggunakan sampel dengan berat 50 gram yang terdiri atas LDPE, pati biji durian, MAH, dan inisiator. Dari 50 gram sampel tersebut dapat diproduksi lembaran bioplastik sebanyak 3-4 lembar dengan ukuran tiap lembar 13×13 cm.

    “Hasilnya kualitas produk bagus, permukaannya rata dan tidak ada yang gosong. Akan tetapi ketebalannya masih kurang kecil masih kisaran 0,5-1 mm,” ungkap Fajar.

    Selain itu, bioplastik biji durian ini telah melalui uji biodegradasi yakni dengan menanamnya di media tanah kompos selama 2 bulan. Hasilnya menunjukkan bahwa sampel dapat terdegradasi ditandai penambahan berat pada sampel. Penambahan berat ini menunjukkan bahwa air sudah masuk ke dalam sampel dan seiring berjalannya waktu air tersebut akan mendegradasi kandungan pati di dalam bioplastik.

    “Pada sampel yang sudah menunjukkan lubang kecil pada permukaannya,” imbuh Annisa.

    Annisa menyampaikan dari hasil penelitian tersebut terdapat indikasi dapat terurai dan kekuatan tarik pasltik sudah masuk rentang standar plastik pada umumnya. Disamping itu, plastik ini juga tahan terhadap suhu yang panas.

    “Kedepan masih diperlukan penelitian lebih lanjut dan harapannya bisa diproduksi massal sehingga bermanfaat bagi masyarakat luas dalam upaya menangani masalah sampah plastik,” ungkapnya.[]

     

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here