More

    Mumun Kelana, Sarjana Teknik Mesin yang Memilih Bisnis Onthel

    ENCEP SUKONTRA

    Di kalangan pecinta sepeda tua atau onthel, Mundakir dikenal dengan nama Mumun Kelana. Setiap kali ada acara onthel di Indonesia, ia tidak pernah absen membuka lapak untuk menjual onthel koleksinya yang dibandrol jutaan hingga puluhan juta rupiah.

    Mundakir alias Mumun Kelan. FOTO : ENCEP SUKONTRA
    Mundakir alias Mumun Kelan. FOTO : ENCEP SUKONTRA

    Di acara Bandoeng Lautan Onthel gelaran Paguyuban Sapedah Baheula Bandung (PSBB), Sabtu dan Minggu (07-08/05/2016), Mumun Kelana tak ketinggalan buka lapak. Delapan sepeda tuanya turut meramaikan bazar barang antik di acara onthelis (sebutan pecinta onthel) Bandung tiga tahunan itu.

    - Advertisement -

    “Bagi saya jualan onthel itu bukan sekedar dagang cari profit. Saya harus banyak belajar mengenal onthel, ada silaturahim, tukar informasi sesama komunitas,” kata Mumun di sela Bandoeng Lautan Onthel, Jalan Sukabumi, Bandung.

    Awal perkenalan Mumun dengan dunia onthel berkat kegemarannya berdagang yang sudah dilakukannya sejak kuliah di Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah, Solo. Kuliah di teknik mesin bukannya mendorongnya menekuni mesin-mesin industri atau otomotif, tetapi justri membuatnya makin serius jualan barang antik.

    “Dulu pertama senang onthel mungkin saya punya jiwa pedagang. Jadi ya terjun sekalian sambil belajar,” kata pria kelahiran Boyolali 36 tahun lalu.

    Ayah dua anak ini menyebutkan, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari onthel. Mulai dari tahun pembuatan, besi atau logam yang menjadi komponen onthel, sejarahnya, orisinalitasnya, cara memburu sepeda bekas, hingga keandalannya di bidang transportasi yang ramah lingkungan.

    Ia mempelajari onthel dari komunitas-komunitas onthel yang tersebar di seluruh Indonesia sambil membuka lapak. Hampir seluruh basis onthel di Pulau Jawa sudah ia datangi, ke pelosok maupun perkotaan.

    Kini, koleksi onthelnya sudah mencapai 40 unit yang terdiri dari berbagai merek yang jika dihitung nilainya mencapai Rp300 juta. Sepeda onthel terkenal yang dikoleksi Mumun antara lain Gazelle dan Burgers, dua sepeda legendaris buatan Belanda. Merek-merek tersebut tergolong onthel sepuh tapi elit. Disebut elit karena harganya selangit.

    Sebut saja Gazelle tahun 1955 seri ke-11, Mumun pernah menjualnya antara Rp12 juta sampai Rp35 juta. Sedangkan sepeda Burgers tahun 1936 yang disertakan dalam pameran Bandoeng Laoetan Sepeda ia bandrol Rp40 juta, angka yang melampaui harga sepeda motor baru.

    Khusus Gazelle 1955 seri ke-11, menurut Mumun harganya bisa selangit karena turut dipengaruhi mitos emas. Ia menuturkan, Gazelle tahun dan seri tersebut sempat diyakini framenya terbuat dari emas. Mitos ini kemudian berkembang hingga membuat pemilik Gazelle 1955 seri ke-11 merasa memiliki sepeda emas (mewah).

    “Pemiliknya bangga karena punya sepeda dengan frame emas,” tuturnya.

    Terlepas dari mitos tersebut, harga sepeda antik sangat dipengaruhi usia dan orisinalitas. Makin tua dan makin orisinal sepeda akan makin tinggi harganya. “Komponen sepeda harus orisinal, harus bawaan sepedanya,” jelasnya.

    Sudah 10 tahun Mumun menekuni bisnis jual beli sepeda tua dan onderdilnya. Harga onderdil sepeda tidak kalah mencengangkan. Mulai dari stang, velg, gear, dynamo, lampu, dan sparepart lainnya. Onderdil yang orisinal dan masih berfungsi dengan baik harganya bisa makin tinggi lagi.

    Misalnya satu set lampu sepeda Gazelle bisa dibanderol Rp6,5 juta. Satu set lampu terdiri dari lampu atas, lampu bawah atau ban dan dinamo. Selama 10 tahun menekuni bisnis sepeda antik, Mumun mengaku baru sekali memiliki satu set lampu dengan harga selangit itu.

    Mumun cukup terkenal di komunitas sepeda onthel. Ia memiliki banyak sobat di Komunitas Sepeda Tua Indonesia (Kosti), organisasi sepeda klasik yang menaungi komunitas-komunitas sepeda antik di Indonesia.

    Berkat hubungan baik pula ia pernah terbang ke beberapa negara di Eropa untuk mengikuti kongres International Veteran Cycling Association (IVCA) 2015 di Swedia bersama Kosti. Padahal ia bukan anggota Kosti.

    Ia kemudian mampir ke Belanda, Italia, Denmark sambil sekalian belanja sepeda dan onderdilnya. Menurutnya, di Eropa pengguna sepeda begitu dijunjung tinggi. Sepeda menjadi alat transportasi utama masyarakat kota. Bahkan di Belanda, pengguna sepeda sangat dimanjakan, ada jalur khusus sepeda, tempat perkir khusus, serta jalan yang hanya boleh dilalui pesepeda.

    “Di sana sepeda menjadi transportasi utama warga kota. Di sana motor tidak laku karena tidak ramah lingkungan, pakai BBM. Kalau di kita kan sepeda yang kelindes motor,” ujarnya.

    Ia berharap, suatu hari nanti masyarakat Indonesia menggunakan sepeda sebagai transportasi utama dalam kota. Sebagai alat transportasi, sepeda memiliki banyak nilai lebih, nilai yang tak dimiliki moda transportasi yang mengandalkan minyak fosil.

    Di luar bisnis sepeda tua, ia membuka konter ponsel di rumahnya. Berbeda dengan bisnis onthel, bisnis HP-nya murni untuk mencari keuntungan. []

    - Advertisement -

    1 COMMENT

    1. wwoooh…. banget harga yang sangat fantastis untuk sebuah sepeda tua bung… selain sepeda barang antik apa lagi yg mempunyai harga jual tinggi

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here