More

    Dosen Universitas Merah Putih Singkap Misteri DN Aidit

    IMAN HERDIANA

    Nama Dipa Nusantara Aidit atau biasa disebut DN Aidit lama terkubur di zaman Orde Baru. Masa itu Aidit jadi nama terlarang. Kini Orde Baru sudah lama tumbang. Misteri DN Aidit perlahan terungkap.

    Peter Kasenda, sejarawan dan penulis buku bertema Peristiwa 65. FOTO : IMAN HERDIANA
    Peter Kasenda, sejarawan dan penulis buku bertema Peristiwa 65. FOTO : IMAN HERDIANA

    Di Indonesia, nama Peter Kasenda menjadi salah satu sejarawan yang serius mendalami sosok DN Aidit. Sejarawan kelahiran Bandung 13 Januari 1957 ini adalah alumnus Sastra Perancis dan Sejarah di Fakultas Sastra (sekarang Ilmu Pengetahuan Budaya) Universitas Indonesia.

    - Advertisement -

    Peter Kasenda benar-benar jatuh hati pada sejarah Peristiwa 65. Salah satu buktinya, ia telah menerbitkan buku terbaru berjudul “Kematian DN Aidit dan Kehancuran PKI”. Buku ini bercerita tentang biografi pimpinan tertinggi Partai Komunis Indonesia (PKI).

    “Saya menulis dengan pendekatan biografis. Supaya orang tahu Aidit dan sejarah partai yang bersangkutan (PKI). Selama ini yang banyak dibahas adalah partainya. Hanya sedikit yang menulis riwayat hidup beliau,” terang Peter Kasenda, kepada KabarKampus, Rabu (14/12/2016).

    Sebelum bukunya terbit November lalu, kata dia, buku yang mengulas biografi DN Aidit baru laporan Majalan Tempo. Di luar itu, ada beberapa buku versi keluarga, misalnya buku yang ditulis Sobron Aidit, adik DN Aidit, serta buku DN Aidit terbitan Universitas Negeri Jakarta.

    Selain menulis buku biografi DN Aidit, Peter Kasenda menulis tiga tokoh lain yang terkait erat dengan Peristiwa 65, yakni “Hari-hari Terakhir Sukarno”, “Hari-hari Terakhir Orde Baru”, dan buku tentang Sarwo Edhie Wibowo, Komandan Jenderal RPKAD (kini Kopassus).

    Peter Kasenda kini mengajar di Kampus Merah Putih, Jakarta. Buku tersebut kemudian dibedah dalam Festival Indonesia Menggugat#3: Pekan Literasi Kebangsaan di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintiskemerdekaan, Bandung, 1-7 Desember 2016 lalu.

    Yang baru dalam buku “Kematian DN Aidit dan Kehancuran PKI”, kata dia, DN Aidit memiliki darah Malaysia yang didapat dari sang ibu. Sementara tempat kelahiran DN Aidit hingga kini masih menjadi perdebatan, ada yang bilang lahir di Minangkabau, di Medan, dan di Belitung.

    DN Aidit, Ketua Partai Komunis Indonesia.
    DN Aidit, Ketua Partai Komunis Indonesia.

    Berdasarkan laporan Harian Rakyat, kata Peter Kasenda, DN Aidit lahir di Medan 30 Juli 1923. Tempat lahir ini berbeda dengan versi peneliti yang menyebutkan bahwa DN Aidit lahir di Pangkal Lalang, Tanjung Pandan, Belitung, 30 Juli 1923.

    Peter Kasenda sendiri lebih condong pada sumber resmi PKI. “Menurut surat kabar resmi PKI (Harian Rakyat), Aidit lahir di Medan, besarnya di Belitung,” kata Peter yang juga menulis kisah fiksi berjudul “Heldy, Cinta Terakhir Bung Karno”.

    Perdebatan itu mengesankan tempat lahir DN Aidit menjadi rebutan banyak daerah.

    “Jadi sekarang bangga punya tokoh, dulu kan buruk rupa, sekang jadi rebutan. Aidit punya leluhur dari Hadramaut, di sana ada kampung yang namanya Aidid, yang kemudian jadi Aidit,” katanya.

    Berdasarkan penelitiannya, sebelum meletus Peristiwa 65, di Indonesia banyak orang bernama Aidid. Saking dahsyatnya Peristiwa 65, nama-nama Aidid pun lenyap, tak lagi dipakai orang tua menamai anaknya.

    Aidit tenggelam setelah Peristiwa 65. Walau demikian, Aidit sebenarnya sosok istimewa. Pada tahun tersebut Aidit baru berusia 33 tahun, namun berhasil memimpin PKI menjadi partai peraih suara keempat terbanyak pada Pemilu 1955.

    Padahal, kata dia, sebelumnya PKI dicap sebagai partai pemberontak akibat pemberontakan 1927-1927 di Banten dan Sumatera Barat pada zaman Belanda dan pemberontakan PKI Madiun oleh Muso 1948. Namun dalam waktu singkat DN Aidit mampu membalikan keadaan membuat PKI jadi partai besar dan disegani.

    “Setelah peristiwa Madiun, PKI menjulang jadi partai komunis terbesar setelah Rusia dan Cina. Menurut saya, Aidit ini orang hebat, dia muda dan kontroversial,” katanya.

    Kontroversi juga terjadi hingga akhir hayatnya. Menurut Peter Kasenda, pihak keluarga DN Aidit meyakini Aidit dikubur di Boyolali. Tetapi hingga kini belum ada penelitian ilmiah.

    Peter Kasenda melakukan penelitian menulis biografi DN Aidit sejak 2015. Referensi penulisan biografi ini mengandalkan sumber-sumber yang ada di Indonesia, khususnya sumber dari keluarga.

    Menurutnya, masih banyak sumber lain yang perlu ditelusuri lebih lanjut, terutama jika ingin meneliti pemikiran Marxisme dan Leninisme DN Aidit. Ia mengatakan, referensi pemikiran DN Aidit banyak terdapat di Belanda.

    “Sumber di Belanda masih banyak yang bisa digali. Tapi tidak semua bisa diakses, meskipun dalam buku saya ini tidak mengarah ke sana, tapi lebih ke biografi. Mungkin sumber-sumber tersebut bisa dipakai untuk penelitian selanjutnya,” katanya. []

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here