Penulis : Ilham Setiawan
BANDUNG, KabarKampus – Calon Direktur STT Tekstil Bandung 2020-2024 akhirnya menandatangani komitmen bersama yang diajukan mahasiswa. Sebelumnya komitmen bersama ini berisi tuntutan agar para calon pimpinan STTT Bandung memiliki komitmen terhadap kemahasiswaan.
Sebelumnya para calon direktur menolak menandatangi pakta integritas yang diajukan mahasiswa. Mereka beralasan ingin menggelar dialog bersama mahasiswa.
Kemudian Direktur Politeknik STTT Bandung mengundang mahasiswa dan manajemen kampus untuk dialog lanjutan. Kegiatan ini digelar kampus STTT Bandung, Jumat, (10/01/2020).
Dalam dialog kemarin, suasana yang terbangun lebih terbuka dan interaktif tanpa adanya pembatasan-pembatasan penyampaian pendapat antara kedua belah pihak. Beberapa perwakilan mahasiswa yang merupakan delegasi dari organisasi kemahasiswaan unjuk bicara dalam dialog tersebut.
Kemudian mahasiswa tetap dengan maksud semula yakni harus adanya komitmen bersama dalam pembangunan kampus, tuntutan kembali diberikan kepada masing-masing calon direktur 2020-2024 pada dialog tersebut. Pemaparan data objektif kondisi kampus serta harapan keterlibatan mahasiswa disampaikan sehingga tersusun menjadi tuntutan yang secara garis besar terbagi pada lima kelompok yakni perihal; anggaran dana kemahasiswaan, fasilitas penunjang kegiatan pembelajaran, kebijakan kampus, fasilitas organisasi mahasiswa serta pelayanan akademik.
Menanggapi tuntutan tersebut, masing-masing calon direktur memiliki maksud selaras dengan pembenahan dan peningkatan kelima poin tuntutan dalam pembangunan kampus kedepannya. Namun dilandasi kausa komitmen bersama, kedua belah pihak harus terlibat aktif di dalamnya. Dengan maksud tersebut akhirnya narasi tuntutan diubah menjadi piagam komitmen bersama yang di dalamnya terdapat poin keterlibatan masing-masing kedua belah pihak.
Dalam dialog tersebut, Tina Martina, AT,. M. Si, Direktur STTT Bandung menyampaikan bahwa sinergi seluruh pihak sangat diperlukan. Ia ingin pada akhir kepengurusannya ada evaluasi dan pembenahan di seluruh lini, bagian insfrastruktur, fasilitas pembelajaran dan laboratorium serta fasilitas organisasi mahasiswa.
“Pembenahan tersebut harus kerja bersama, baik dari kami pihak manajemen juga mahasiswa dalam perawatannya,” kata Tina.







