
BENGKULU, KabarKampus – Menutup akhir tahun 2025, Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Bengkulu menghadirkan rangkaian kegiatan kampus yang memadukan ekspresi seni dan penguatan kepemimpinan mahasiswa. Dua agenda penting tersebut menjadi penanda dinamika kehidupan kemahasiswaan yang terus bergerak, baik di ranah kreativitas maupun organisasi.
Puncak perayaan seni kampus digelar melalui Pentas Seni Kampus dalam rangka memperingati hari ulang tahun Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni STIA Bengkulu. Acara ini berlangsung di Pantai STIA Bengkulu Land, kawasan Pantai Panjang Bengkulu, pada Sabtu (27/12), dan menjadi ruang terbuka bagi mahasiswa serta seniman daerah untuk mengekspresikan karya.
Beragam penampilan turut memeriahkan pentas seni tersebut, mulai dari monolog UKM Seni Teater Pangsa STIA Bengkulu, musikalisasi puisi Teater Waktu, penampilan Teater UKM Seni Universitas Dehasen, pembacaan puisi oleh Nur Saje dan Indri Annisya, pertunjukan Suceng Bae, musik akustik dari Noise Band, hingga atraksi pencak silat.
Penampilan-penampilan tersebut berhasil menarik perhatian penonton yang memadati area acara. Ketua Panitia Pentas Seni, Muhamad Aldino, menyebut kegiatan ini sebagai langkah awal pengembangan seni kampus ke arah yang lebih luas. “Ke depan, kegiatan seperti ini akan kami buat lebih meriah dan ditingkatkan skalanya hingga bertaraf nasional,” ujarnya seperti dikutip dari Kupas Bengkulu.
Sementara itu, Pelatih UKM Seni Teater Pangsa STIA Bengkulu, Swendewa, menjelaskan bahwa kelompok teater kampus menampilkan monolog bertema kemanusiaan berjudul “Sumatera Ambo”. Karya tersebut mengangkat kisah pilu korban bencana alam di Sumatera, mulai dari penderitaan warga, anak-anak yang berebut bantuan, hingga kehilangan orang-orang tercinta dan harta benda.
Monolog tersebut diperankan oleh Shity Nurrul Fadilla, Ririn Dwi Sapitri, dan Pepi Arianto. Ririn mengungkapkan bahwa tantangan terbesar dalam pementasan ini adalah mendalami karakter anak-anak korban bencana. “Kami cukup kesulitan mendalami karakter anak-anak, karena secara usia kami sudah dewasa,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa sejak menerima naskah, para pemain sudah membayangkan penderitaan yang dialami korban bencana. Namun di balik kisah pilu tersebut, mereka ingin menyampaikan pesan kebangkitan. “Namun dari cerita ini kami juga ingin menyampaikan pesan, agar keterpurukan tidak terlalu berlarut dan masyarakat dapat segera bangkit,” tuturnya.
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






