More

    Benarkah Bahasa Melayu Tidak Punya “Rasa”?

    1/

    Yang setuju dengan pendapat “filolog Jawa” Tuan Manu W. Padmadipura Wangsawikrama dari UGM, bahwa bahasa Melayu “tidak punya rasa” dalam kosa katanya, berarti belum tahu sejarah linguistik dari bahasa Melayu secara komprehensif. Bahasa Melayu itu tidak kenal istilah “Bahasa Melayu Tinggi” dan “Bahasa Melayu Rendah” seperti dalam bahasa Jawa–sebuah istilah yang berakar pada sistem feodalistik.

    Kemudian, perihal istilah bahwa bahasa Melayu adalah bahasa “Lingua Franca” (dari bahasa Latin yang artinya adalah “bahasa bangsa Franka”) juga mesti dipertanyakan ulang. Lingua Franca adalah sebuah istilah linguistik yang artinya adalah “bahasa pengantar” atau “bahasa pergaulan” di suatu tempat di mana terdapat penutur bahasa yang berbeda-beda. Istilah lingua franca adalah istilah yang diartikan secara fungsional, tidak bergantung pada sejarah linguistik maupun struktur bahasanya (lihat: “Sociolinguistics: Intro to Pidgins & Creoles”, Autumn 2004, Peter L Patrick, University of Essex, British). Jadi, istilah bahasa Melayu sebagai bahasa lingua franca itu juga tidak jelas argumennya, seolah bahasa Melayu itu tidak punya sejarah linguistik maupun struktur bahasa sendiri.

    - Advertisement -

    Saya bisa membuktikan bahwa argumen-argumen dasar dari Manu W. Padmadipura Wangsawikrama dalam wawancaranya di Koran Jakarta (ada pada komentar pertama status ini) adalah ngawur. Argumennya yang ngawur itu mungkin karena ia tidak benar-benar paham dengan ilmu linguistik, serta kaitannya dengan ilmu logika, epistemologi, dan metafisika/ontologi. Argumennya soal “rasa” dari bahasa yang hanya diukur berdasarkan jumlah kosa kata, soal bahasa Jawa dan bahasa Melayu (berakar dari bahasa Sansekerta) yang dianggap tidak mengenal sintaksis dan mengira kedua bahasa itu hanya fokus pada soal makna kata an sich, pula soal struktur kalimat yang seolah hanya berasal dari masa kolonialisme Barat di Nusantara menunjukkan bahwa filolog feodal dari Jawa itu tidak paham perkara yang dibicarakannya.

    2/ Makna Kontradiktif dalam Satu Kata

    Dalam bahasa Sanskerta, akar kata “laya” adalah “li”. Kata “li” berarti melekat, menempel, mematuhi; berbaring di, menetap di, berbohong; menghilang, larut. Sementara kata “laya” juga mengandung banyak arti, tergantung konteks kalimatnya (sesuai dengan prinsip gramatika dalam bahasa Sanskerta dari Panini, Patanjali, dan Bhartṛhari).

    Di dalam gramatika Sanskerta kata “laya” bukan hanya berarti senjata (anak panah yang meluncur ke bawah), atau bencana (seperti dalam kata majemuk “pralaya”), tetapi juga bisa memiliki makna yang saling bertentangan:
    1. kelekatan, ketaatan;
    2. solusi;
    3. penghilangan, pembubaran, perusakan;
    4. konsentrasi yang dalam;
    5. istirahat;
    6. sebuah tempat untuk beristirahat, tempat tinggal;
    7. membuat pikiran aktif, acuh tak acuh;
    8. kesadaran yang tidak aktif;
    9. sesuatu yang pingsan;
    10. jeda dalam musik;
    11. tari dan musik instrumental, dll.

    Sama seperti kata Sanskerta lainnya, kata “laya” merangkum banyak makna yang berbeda dalam berbagai konteks, dan beberapa makna kata tidak relevan untuk semua konteks. Orang lain mungkin menunjukkan konotasi yang lebih positif, sementara yang lainnya negatif. Oleh karena itu kata dalam bahasa Sansekerta harus dipahami dalam konteks yang tepat. Kenapa? Karena makna kata dalam bahasa Sanskerta itu tidak bisa berdiri sendiri, tetapi mesti diletakkan dalam konteks kalimatnya.

    Ini baru satu keunikan dari bahasa Sanskerta yang secara semantik bisa merangkum makna kontradiktif, makna yang saling bertentangan dalam satu kata, tergantung pada konteks kalimatnya. Kontradiksi (p dan -p) adalah satu hal yang tak ditolerir dalam logika formal dari Barat sejak masa Aristoteles sampai saat ini. Namun, kenapa hal itu dimungkinkan dalam bahasa Sansekerta? Jawabnya, karena bahasa Sanskerta tidak meletakkan makna kata sebagai atom yang terpisah, tetapi diletakkan dalam konteks kalimat, dalam relasi dengan kata-kata lainnya. Ini adalah salah satu ciri dari pemikiran Timur di India dalam konteks linguistik.

    Jadi, bila ada filolog Indonesia yang bilang bahwa pemikiran linguistik Timur itu tidak mengenal sintaksis, tidak mengenal logika, tetapi hanya berkutat pada soal semantik atomistik dan semata terkait dengan perasaan, maka jelas ia tidak paham dengan sejarah linguistik, logika, dan epistemologi Timur–baik di India, Cina, maupun Persia.

    Kata-kata dalam bahasa Sanskerta bisa merangkum makna kontradiktif, karena menurut Bhartṛhari (abad ke-5 M) dalam buku Vākyapadīya, (sanskrit grammar and linguistic philosophy), semua kata merupakan “aksi” atau manefestasi yang hidup dari Pranava, dari Suara Awal (Om), Suara Tuhan. Bahasa manusia tidak terpisahkan dari bahasa Ilahi itu. Yang ilahi dalam tradisi spiritual Hindu merangkum semuanya, sama seperti dalam tradisi Islam juga ketika Allah dimaknai memiliki sifat Ya Zahir (Yang Maha Hadir) dan Ya Batin (Yang Maha Tersembunyi). Karena setiap kata dalam bahasa Sansekerta merupakan perwujudan dari Suara Ilahi itu, maka manusia sebagai pengguna bahasa bisa memilih satu kata akan diletakkan dalam konteks makna yang mana (positif atau negatif) dengan meletakkan kata itu dalam kalimat (berhubungan dengan kata-kata lainnya).

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here