More
    Home UTAMA OPINI Benarkah Bahasa Melayu Tidak Punya "Rasa"?

    Benarkah Bahasa Melayu Tidak Punya “Rasa”?

    Yang setuju dengan pendapat “filolog Jawa” Tuan Manu W. Padmadipura Wangsawikrama dari UGM, bahwa bahasa Melayu “tidak punya rasa” dalam kosa katanya, berarti belum tahu sejarah linguistik dari bahasa Melayu secara komprehensif. Bahasa Melayu itu tidak kenal istilah “Bahasa Melayu Tinggi” dan “Bahasa Melayu Rendah” seperti dalam bahasa Jawa–sebuah istilah yang berakar pada sistem feodalistik.

    Kemudian, perihal istilah bahwa bahasa Melayu adalah bahasa “Lingua Franca” (dari bahasa Latin yang artinya adalah “bahasa bangsa Franka”) juga mesti dipertanyakan ulang. Lingua Franca adalah sebuah istilah linguistik yang artinya adalah “bahasa pengantar” atau “bahasa pergaulan” di suatu tempat di mana terdapat penutur bahasa yang berbeda-beda. Istilah lingua franca adalah istilah yang diartikan secara fungsional, tidak bergantung pada sejarah linguistik maupun struktur bahasanya (lihat: “Sociolinguistics: Intro to Pidgins & Creoles”, Autumn 2004, Peter L Patrick, University of Essex, British). Jadi, istilah bahasa Melayu sebagai bahasa lingua franca itu juga tidak jelas argumennya, seolah bahasa Melayu itu tidak punya sejarah linguistik maupun struktur bahasa sendiri.


    Saya bisa membuktikan bahwa argumen-argumen dasar dari Manu W. Padmadipura Wangsawikrama dalam wawancaranya di Koran Jakarta (ada pada komentar pertama status ini) adalah ngawur. Argumennya yang ngawur itu mungkin karena ia tidak benar-benar paham dengan ilmu linguistik, serta kaitannya dengan ilmu logika, epistemologi, dan metafisika/ontologi. Argumennya soal “rasa” dari bahasa yang hanya diukur berdasarkan jumlah kosa kata, soal bahasa Jawa dan bahasa Melayu (berakar dari bahasa Sansekerta) yang dianggap tidak mengenal sintaksis dan mengira kedua bahasa itu hanya fokus pada soal makna kata an sich, pula soal struktur kalimat yang seolah hanya berasal dari masa kolonialisme Barat di Nusantara menunjukkan bahwa filolog feodal dari Jawa itu tidak paham perkara yang dibicarakannya.

    2/ Makna Kontradiktif dalam Satu Kata

    Dalam bahasa Sanskerta, akar kata “laya” adalah “li”. Kata “li” berarti melekat, menempel, mematuhi; berbaring di, menetap di, berbohong; menghilang, larut. Sementara kata “laya” juga mengandung banyak arti, tergantung konteks kalimatnya (sesuai dengan prinsip gramatika dalam bahasa Sanskerta dari Panini, Patanjali, dan Bhartṛhari).


    Di dalam gramatika Sanskerta kata “laya” bukan hanya berarti senjata (anak panah yang meluncur ke bawah), atau bencana (seperti dalam kata majemuk “pralaya”), tetapi juga bisa memiliki makna yang saling bertentangan:
    1. kelekatan, ketaatan;
    2. solusi;
    3. penghilangan, pembubaran, perusakan;
    4. konsentrasi yang dalam;
    5. istirahat;
    6. sebuah tempat untuk beristirahat, tempat tinggal;
    7. membuat pikiran aktif, acuh tak acuh;
    8. kesadaran yang tidak aktif;
    9. sesuatu yang pingsan;
    10. jeda dalam musik;
    11. tari dan musik instrumental, dll.


    Sama seperti kata Sanskerta lainnya, kata “laya” merangkum banyak makna yang berbeda dalam berbagai konteks, dan beberapa makna kata tidak relevan untuk semua konteks. Orang lain mungkin menunjukkan konotasi yang lebih positif, sementara yang lainnya negatif. Oleh karena itu kata dalam bahasa Sansekerta harus dipahami dalam konteks yang tepat. Kenapa? Karena makna kata dalam bahasa Sanskerta itu tidak bisa berdiri sendiri, tetapi mesti diletakkan dalam konteks kalimatnya.


    Ini baru satu keunikan dari bahasa Sanskerta yang secara semantik bisa merangkum makna kontradiktif, makna yang saling bertentangan dalam satu kata, tergantung pada konteks kalimatnya. Kontradiksi (p dan -p) adalah satu hal yang tak ditolerir dalam logika formal dari Barat sejak masa Aristoteles sampai saat ini. Namun, kenapa hal itu dimungkinkan dalam bahasa Sansekerta? Jawabnya, karena bahasa Sanskerta tidak meletakkan makna kata sebagai atom yang terpisah, tetapi diletakkan dalam konteks kalimat, dalam relasi dengan kata-kata lainnya. Ini adalah salah satu ciri dari pemikiran Timur di India dalam konteks linguistik.


    Jadi, bila ada filolog Indonesia yang bilang bahwa pemikiran linguistik Timur itu tidak mengenal sintaksis, tidak mengenal logika, tetapi hanya berkutat pada soal semantik atomistik dan semata terkait dengan perasaan, maka jelas ia tidak paham dengan sejarah linguistik, logika, dan epistemologi Timur–baik di India, Cina, maupun Persia.


    Kata-kata dalam bahasa Sanskerta bisa merangkum makna kontradiktif, karena menurut Bhartṛhari (abad ke-5 M) dalam buku Vākyapadīya, (sanskrit grammar and linguistic philosophy), semua kata merupakan “aksi” atau manefestasi yang hidup dari Pranava, dari Suara Awal (Om), Suara Tuhan. Bahasa manusia tidak terpisahkan dari bahasa Ilahi itu. Yang ilahi dalam tradisi spiritual Hindu merangkum semuanya, sama seperti dalam tradisi Islam juga ketika Allah dimaknai memiliki sifat Ya Zahir (Yang Maha Hadir) dan Ya Batin (Yang Maha Tersembunyi). Karena setiap kata dalam bahasa Sansekerta merupakan perwujudan dari Suara Ilahi itu, maka manusia sebagai pengguna bahasa bisa memilih satu kata akan diletakkan dalam konteks makna yang mana (positif atau negatif) dengan meletakkan kata itu dalam kalimat (berhubungan dengan kata-kata lainnya).


    3/

    Bahasa Jawa dan Bahasa Melayu kuno itu muasalnya dari bahasa Sansekerta. Kebanyakan para ahli filologi di sini beranggapan bahwa bahasa Jawa dan Bahasa Melayu itu tidak mengenal gramatika, tidak mengenal sintaksis, dan menganggap keduanya hanya fokus pada soal makna kata an sich. Benarkah demikian?


    Mari kita lihat kajian soal itu dalam tata bahasa Sansekerta, sebagai sumber dari Bahasa Jawa dan Melayu, pada abad ke-5 M. Bhartṛhari adalah seorang filsuf, penyair, dan ahli tata bahasa Sanskerta yang hidup pada abad ke-5 M di India, dan mungkin ia telah menulis dua naskah tata bahasa Sansekerta yang terkenal hingga saat ini:


    1. Vakyapadiya: adalah buku tata bahasa Sanskerta dan filsafat linguistik, teks dasar dalam tradisi tata bahasa India, yang menjelaskan banyak teori tentang kata dan kalimat. Dalam naskah ini, Bhartrhari juga membahas masalah logika seperti “paradoks pembohong” dan paradoks yang “tak dapat dinamakan” yang kemudian dikenal sebagai paradoks Bhartrhari.


    2. Satakatraya, sebuah naskah puisi, yang terdiri dari tiga koleksi yang masing-masing terdiri dari sekitar 100 bait.


    Bhartṛhari mengembangkan pemikirannya soal tata bahasa Sansekerta dari Patanjali (abad ke-2 SM). Sedangkan Patanjali mengembangkan pemikirannya tentang tata bahasa Sanskerta dari Panini (abad ke-5 SM).


    Sebelum membahas tata bahasa Bhartrhari, mari kita simak artikel wawancara di Koran Jakarta dengan pakar bahasa-bahasa Nusantara, Manu W Padmadipura Wangsawikirama, di Yogyakarta, Rabu (26/10). Berikut petikan selengkapnya:


    “Inti dari semua bahasa lokal kita adalah semantik. Di Jawa, ada anjing, kirik, asu. Ada cemeng, ada kucing. Untuk menyebut beras saja ada pari, gabah, beras, menir, yang masing-masing menandakan hubungan-hubungannya yang berbeda dengan diri manusia dan alam.


    “Orang Jawa tidak pernah belajar kalimat. Yang diajarkan adalah kosakata. Ketika tahu kosakata maka akan dengan sendirinya terbentuk sebuah dunia, karena kosa kata diajarkan dengan sistem rasa, yakni makna yang menjelaskan hubungan rasa antar semuanya. Itulah hubungan bahasannya.


    “Bahasa kolonial yang terpenting adalah struktur subjek, predikat, dan objek, di mana manusialah subjek dan alam adalah objek yang harus dikuasai. Dalam kosakata Bahasa Jawa, alam dan manusia kedudukannya sejajar, horizontal, tidak ada subjek atau objek, tidak ada eksplitasi subjek atas objek, melainkan satu kesatuan yang utuh…….


    “Semula kita memiliki bahasa kuno. Bahasa Jawa Kuno, misalnya. Sanskerta tumbuh oleh bangsa Indo Arya dari lembah Sungai Reins yang kemudian hidup dan tinggal di India. Bahasa di dunia saat ini banyak yang akarnya dari Bangsa Indo Arya itu…..


    “Masuknya bangsa Barat ke Nusantara menjadi sejarah berikutnya yang kemudian keberhasilan penguasaan mereka atas kita, ratusan tahun mereka di sini, salah satunya membawa perkembangan filsafat dan bahasa di sana yakni filsafat strukturalisme. Saya menduga Revolusi Prancis–saya belum pernah meneliti ini sendiri, saya tahu dari penelitian beberapa teman saja–menjadi awal dari berkembangnya seluruh bangunan masyarakat Barat ini. Yang di dalam bahasa tersimpan dalam struktur subjek predikat objek tersebut.”


    Kalau menyimak dari argumen Manu W Padmadipura Wangsawikirama di atas, tersirat kesimpulan bahwa bahasa Jawa dan Melayu Kuno, yang diakuinya bersumber dari bahasa Sanskerta, tidak memiliki gramatika (khususnya sintaksis) dan hanya berfokus pada semantik (makna) kata saja. Ia juga seolah hendak menyiratkan bahwa bahasa Sanskerta tak memiliki gramatika, tak memiliki aturan sintaksis. Seluruh aturan sintaksis, yang menurut Manu W Padmadipura Wangsawikirama berasal dari kolonialisme Barat. Sekarang saya akan buktikan bahwa argumen dari Manu W Padmadipura Wangsawikirama ngawur. Begini:


    Di dalam buku Vakyapadiya, Bhartrhari berpendapat: “Bhavapradhanam akhyatam.” (suatu tindakan atau proses adalah makna utama dari kata kerja.) Jadi, bagi Bhartrhari, inti tata bahasa berpusat pada proses, pada aksi.


    Bhartrhari membahas berbagai kemungkinan definisi ‘aksi’, sebagai berikut: “Setiap kali sesuatu itu, baik telah selesai maupun belum selesai disajikan sebagai sesuatu yang harus dicapai (yaitu, sadhya), maka disebut ‘aksi’ karena hal dihasilkan dari bentuk urutan kata-katanya.”


    Fakta bahwa “aksi” adalah sesuatu yang memiliki bentuk bagian-bagian yang diatur dalam urutan akan menyatakan bahwa hal itu tidak bisa langsung dirasakan. Hal itu berarti makna satu kata tidak bisa berdiri sendiri tanpa proses sintagmatik di dalam satu kalimat, dan hanya dapat disimpulkan oleh pikiran berdasarkan kalimatnya. Begini pandangan Bhartrhari dalam Vakyapadiya terkait soal tersebut:


    “Apa yang disebut tindakan adalah kumpulan dari bagian-bagian yang diproduksi secara berurutan dan oleh pikiran dipahami sebagai kesatuan dan identik dengan bagian-bagian yang subordinasi untuk itu (yaitu, keseluruhan).” (III.8.4)


    Brahmakanda (Bab I) dari Vakyapadiyam adalah risalah tentang metafisika dan ontologi/fisika dari bentuk dan makna aspek bahasa. Hal tersebut terutama ada pada relasi berikut: 1. antara kata dalam pikiran dengan kata yang diucapkan; 2. antara keseluruhan dan bagian dalam struktur bahasa; 3. antara universal dan partikular; 4. antara kata dan dunia.


    Membandingkan teori Bhartrhari dan Wittgenstein tentang makna dan pemahaman, philsopher kontemporer, K.J. Shah membuat observasi yang sangat relevan yang perbedaan mereka terletak pada kenyataan bahwa mantan menekankan pada pemahaman dalam sekejap ‘dan yang terakhir pada pemahaman sebagai penguasaan teknik’. Pendekatan ‘teknik’ saya rasa, akan cocok dengan sebagian besar analisis kecenderungan (filosofis) serta dengan tren ‘generatif’ dalam linguistik. Dalam hal ini, sebagai Shah benar menunjukkan, “dalam penjelasan arti kata komponen internal yang tidak relevan”. Tidak adanya komponen semantik bawaan mungkin tidak dalam kepentingan terbaik dari tata bahasa generatif dan berbagai cabang-cabangnya.


    Ketika Bhartrhari menegaskan bahwa seorang anak yang baru lahir memiliki pengetahuan bawaan, dia tidak melihat pengetahuan ini dalam hal beberapa semantik atau lainnya universal yang dapat diinventarisasi. Pengetahuan bawaan dianggap sebagai semacam ‘tindakan-skema’. ide tampaknya bahwa sama seperti bayi memiliki kemampuan untuk bernapas, atau untuk membuat sederhana gerakan (serta tidak ada yang mengajarkannya), semua itu adalah pemilik dari benang (kekal) pengetahuan. (Lih Subramania Iyer, 1969: 103)


    Hubungan antara kata dalam intelek dan kata yang diucapkan tidak ditafsirkan sebagai hubungan antara internal dan eksternal, tetapi sebagai salah satu di antara tetap dan statis di satu sisi sisi dan mobile dan dinamis di sisi lain. Perbandingan dibuat dengan gerakan nyata dari hal yang statis ketika tercermin dalam bergerak air. Ada juga (lebih jitu) dibandingkan dengan struktur sensasi (yaitu, akal-mengamati organ) dan benda-benda yang dirasakan:


    “Sama seperti bentuk diri (yaitu, indra) terlibat dalam persepsi/kognisi objek, sehingga bentuk makna yang terlibat dalam pengakuan kata.” (Dari terjemahan “Sebagian Improvisasi”, Vakyapadiya, I.50)


    Dalam pandangan Bhartrhari, hanya kalimat-benar dapat mengekspresikan ‘realitas’, dan bukan kata yang mungkin menunjukkan benda. Selain itu, “realitas dinyatakan hanya dalam bentuk ‘itu ada’ yang berarti bahwa sebuah kata untuk mengungkapkan kenyataan harus diperparah dengan kata kerja, yaitu ‘ada’.”


    Oleh karena itu, “kata kerja harus menjadi bagian dari sebuah kalimat … Jika kata kerja disebutkan sebagai mengungkapkan tindakan untuk disampaikan, kata benda yang diperlukan untuk efek tindakan.” (Pillai, xxxiii). Kata kerja merupakan isi penting dan minimal kalimat. (Ibid., Xxxiv)


    Kalimat-makna yang terutama dalam sifat dari suatu tindakan juga relatif terhadap subjek berbicara:


    “Tata bahasa … membuat perbedaan antara kata-makna yang menyebutkan obyek, dan makna dari kalimat yang terutama tindakan, dilakukan oleh laki-laki melalui benda-benda.” (Ibid., Xxxiii)


    Untuk tata bahasa, kenyataannya dipahami hanya melalui pidato (bahasa) dan dapat dipahami hanya dalam bentuk itu disajikan oleh pidato (kata/bahasa). Tetapi bahasa tidak bisa menggambarkan sifat intrinsik dari hal-hal, meskipun kita tahu hal-hal hanya dalam bentuk di mana kata-kata menggambarkan mereka. (Ibid., Xxxiii)


    Bhartrhari menolak keberadaan makna dari kata-kata individu. Individu kata-makna adalah ilusi, menurut dia. Hanya berdiferensiasi kalimat-makna nyata. Kalimat-makna bukanlah gabungan dari kata-makna sebagaimana didalilkan oleh para filsuf Mimamsaka, tetapi harus dipahami dalam hal kognisi kompleks. Bhartrhari membandingkan kognisi kompleks ini dengan bahwa dari kognisi dari gambar (citrajnana). “Sebuah kognisi yang mencakup banyak objek pada saat yang sama adalah kognisi kompleks. Sebagai kognisi, itu adalah satu tetapi karena banyaknya benda yang mencari di dalamnya, orang melihat pluralitas di dalamnya, meskipun terpisahkan.” (Subramania Iyer, 1969: 186, 187)


    Mengikuti pendekatan top-down-nya, Bhartrhari menganggap kalimat-yang berarti menjadi primer, dan kata-yang berarti hasil analisis agak buatan. Hubungan antara kalimat-makna dan kata-makna dibandingkan dengan hubungan antara gambaran holistik dan komponen-komponen:


    “Hanya sebagai persepsi terpadu komposit (gambar) dapat dianalisis (dalam keasyikan dari bagian komponen) tergantung pada bagian mana diperlukan dirasakan sehingga juga adalah pemahaman tentang makna kalimat.”


    Dan,


    “Hanya sebagai gambaran homogen tunggal digambarkan melalui berbagai fitur sebagai biru (hijau, dll) sebagai hasil dari yang sedang dirasakan dalam cara yang berbeda, sama kalimat yang tunggal dan tidak memiliki harapan dijelaskan dalam hal kata-kata yang memiliki saling harapan. ” (. Vakyapadiyam, Tr K. R. Pillai, 1971: 38)


    Selain analogi gambar, perbandingan lebih menarik dengan struktur kain telah dibuat oleh Mandana Misra, pengikut kedua-hari Bhartrhari. Dalam membahas persepsi holistik berarti dalam cara sphota, Mandana menunjukkan bahwa “ketika kita melihat kain kognisi kami adalah kain secara keseluruhan dan sangat berbeda dari berbagai benang dan warna yang terlibat” (Lihat Coward, HC, 1980 : 13).


    Kami akan meringkas pandangan Bhartrhari pada kalimat dan maknanya dengan cara berikut. Kalimat mewakili/mengungkapkan setidaknya sebuah fragmen dari aktivitas yang kekal di alam semesta, yang disajikan dari sudut pandang pembicara. Kata kerja menyoroti karakter tertentu dari kegiatan ini, dinyatakan dalam aksesoris/sarana dan kualitas mereka. Ketika hal ini dinyatakan sebagai sesuatu yang harus dicapai, itu sadhya, tetapi ketika dinyatakan sebagai dicapai, itu adalah Siddha. Sarana yang terlibat dalam pemenuhan suatu tindakan adalah sadhana. Pengakuan kalimat-makna berlangsung dengan cara yang sphota vakya menyiratkan pemahaman agak gestalt-seperti.


    Saya tidak bicara soal bahasa kreol/pijin dalam konteks penyerapan bahasa asing (penjajah) ke dalam bahasa Indonesia. Sebaliknya, justru argumen kreolisasi itu digunakan oleh Manu W. Padmadipura Wangsawikrama, yang kemudian dia coba memberikan solusinya berupa pengutamaan penyerapan kosa kata dari bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia, ketimbang bahasa asing. Di dalam teori sosiolinguistik, jika ada kreol mesti didahului pijin. Pijin merupakan ragam bahasa yang tidak memiliki penutur asli. Biasanya ragam bahasa ini ditemukan di negara-negara dunia ketiga yang dulunya merupakan daerah jajahan atau koloni. Ragam bahasa ini tumbuh karena ada dua pihak yang ingin berkomunikasi satu sama lain tetapi sangat berbeda ragam bahasanya. Mereka tidak menggunakan bahasa ketiga sebagai bahasa perantara, tetapi mereka menggabungkan dua bahasa mereka. Bahasa kreol muncul sesudah generasi pertama atau kedua dari pengguna bahasa pijin. Misalnya bahasa kreol di Kampung Tugu-Jakarta yang merupakan gabungan dari bahasa Portugis dan Melayu-Betawi.


    Nah, yang jadi masalah sekarang, apakah alih kosa kata bahasa asing (Inggris misalnya) ke dalam bahasa Indonesia pada saat ini sudah bisa masuk ke dalam konteks kreolisasi? Pertanyaan berikutnya apakah penyerapan bahasa-bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia bisa masuk kategori kreolisasi? Jika ya, maka bahasa “penjajah”-nya yang mana: apakah bahasa Melayu bisa dianggap “base” dari pijin dan bahasa daerah jadi “substrate” dari pijin–atau sebaliknya? Apakah gerakan penolakan penyerapan kosa kata dari bahasa asing oleh Badan Bahasa atau para filolog yang mengutamakan penyerapan bahasa daerah bisa dikategorikan sebagai bentuk perlawanan terhadap kreolisasi atau justru kreolisasi itu sendiri?


    4/

    Penelitian bahasa Sanskerta oleh bangsa Eropa dimulai oleh Heinrich Roth (1620–1668) dan Johann Ernst Hanxleden (1681–1731), dan dilanjutkan dengan proposal penelitian tentang rumpun bahasa Indo-Eropa oleh Sir William Jones. Penelitian ini memainkan peranan penting pada perkembangan ilmu perbandingan bahasa di dunia Barat.


    Sir William Jones, saat berceramah pada Asiatick Society of Bengal di Kalkuta, 2 Februari 1786, berkata: “Bahasa Sanskerta memiliki struktur yang menakjubkan; lebih sempurna daripada bahasa Yunani, lebih luas daripada bahasa Latin dan lebih halus dan berbudaya daripada keduanya. Namun, ada keterkaitan yang lebih erat pada ketiganya, baik dalam bentuk akar kata-kata kerja maupun bentuk tata bahasa, yang tak mungkin terjadi hanya secara kebetulan. Keterkaitan itu memang sangat erat, sehingga tak ada seorang ahli bahasa yang bisa meneliti ketiganya, tanpa percaya bahwa mereka muncul dari satu sumber yang sama, yang kemungkinan sudah tak ada.”


    Bahasa Sanskerta adalah salah satu bahasa Indo-Eropa paling tua yang masih dikenal dan sejarahnya termasuk yang paling lama. Bahasa yang bisa menandingi kekunoan bahasa ini dari rumpun bahasa Indo-Eropa hanya bahasa Het. Kata “Sanskerta”, dalam bahasa Sansekerta, berasal dari kata “Saṃskṛtabhasa” yang berarti “bahasa sempurna”.


    Posisi bahasa Sanskerta dalam kebudayaan Asia Selatan dan Asia Tenggara mirip dengan posisi bahasa Latin dan Yunani di Eropa. Bahasa Sansekerta berkembang menjadi banyak bahasa-bahasa modern di anak benua India. Bahasa ini muncul dalam bentuk praklasik sebagai bahasa Veda. Bahasa Sanskerta yang ada dalam kitab Rgveda merupakan fase yang tertua dan paling arkhais. Teks ini ditarikhkan berasal dari kurang lebih 1700 SM.


    Sebuah peradaban yang tinggi, dalam teori sejarah peradaban, adalah peradaban yang telah mampu memformulasikan bahasa lisan menjadi bahasa tulis. Sebuah peradaban tinggi yang maju adalah sebuah peradaban yang mampu memformulasikan bahasa tulisnya menjadi teks abstrak. Abstraksi adalah kunci dari kreativitas berpikir manusia. Kemampuan berpikir logis suatu bangsa berkorespondensi dengan kemampuan memformulasikan bahasa tulisnya menjadi teks abstrak. Bahasa Sanskerta adalah contoh dari bahasa abstraksi tulisan. Bahasa Sansekerta, termasuk bahasa awal di Nusantara, mampu memprogram sebuah simbol (kata atau suku kata) menjadi memiliki arti yang bertingkat sesuai kesadaran penggunanya. Uniknya bahasa Sanskerta tak mengenal kata benda, tetapi kata benda dikategorikan sebagai bagian dari kata sifat. Ini menunjukkan bahwa pengguna bahasa Sansekerta–khususnya versi veda–menyadari episteme keesaan dan memahami representasi serta persepsi adalah sebuah proses dari sebuah sistem. Hal ini mirip dengan bahasa komputasi saat ini.


    Kenapa dalam bahasa Sanskerta tak ada jenis kata benda? Karena benda dalam bahasa Sansekerta dilihat sebagai sebuah proses, sebagi sebuah gerak. Contohnya begini: dalam sistem bahasa tulis Sanskerta versi veda, ada banyak kata untuk pohon, misalnya pohon yang dipotong bagian bawahnya (A1 = kata 1 untuk pohon), pohon berdaun rimbun (A2), pohon meranggas (A3), dst. Setiap kata juga memiliki tingkatan makna S (1, 2, 3) sesuai kesadaran penggunanya [A1 = S(1, 2, 3)], dst. Seorang pengguna bisa membuat formulasi sintaksis yang berlapis terkait kombinasi makna dan definisi dari kata sifat tersebut. Jadi, kata dalam bahasa sansekerta itu mirip sebuah variabel atau proposisi dalam bahasa logika modern. Kemampuan memformulasikan bahasa dengan cara seperti ini jelas merupakan cerminan dari episteme yang sudah sangat maju. Bahkan dalam sistem bahasa modern pun tak ada yang secanggih ini dalam memformulasikan bahasa secara linguistik. Kemungkinan besar sistem linguistik Sanskerta ini mendekati bahasa kecerdasan buatan (AI) pada saat ini atau masa depan.


    Contoh lainnya, di dalam sintaksis bahasa Sanskerta dengan sistem Veda, susunan fungsi kata dapat ditukar-tukar urutannya tanpa memengaruhi makna. Dalam struktur sintaksis yang standar, bahasa Inggris misalnya, susunan fungsi-fungsi kalimat atau klausanya akan berbentuk: Subjek + Predikat + Objek/Keterangan (S + P + O/K). Ketika susunan ini diubah, maka secara sintagmatik kalimat itu menjadi tak bermakna. Tapi, dalam bahasa Sanskerta susunan itu boleh diubah-ubah dalam berbagai kombinasinya, misalnya O + P + K + S, tanpa memengaruhi makna kalimat. Hal ini mirip dengan sistem bahasa orde tinggi untuk logika matematika. Model sintaksis seperti bahasa Sansekerta ini ada terjejak juga dalam sintaksis bahasa Melayu Kuno atau bahasa Indonesia modern (utamanya dalam sintaksis puitik), misalnya “Aku pergi ke pasar (S + P + K)” dapat diubah susunanannya menjadi “Ke pasar pergi aku (K + P + S)”, atau, “Pergi ke pasar aku” (P + K + S), atau, “Aku ke pasar pergi” (S + K + P). Bagi pengguna bahasa Melayu atau Indonesia perubahan susunan fungsi-fungsi kalimat ini tak memengaruhi arti kalimat. Hal yang seperti ini tak mungkin terjadi dalam sintaksis bahasa Inggris atau Latin yang dibangun berdasarkan episteme monistik yang bersandar pada urut-urutan kausalistik itu. Episteme bahasa Sanskerta atau bahasa Melayu Kuno atau bahasa Jawa Kuno atau mungkin juga bahasa lainnya di Nusantara dibangun oleh prinsip keserentakan atau keesaan, yang bersandar pada kesadaran Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa (berbeda tapi tetap satu, tak ada kebenaran yang mendua). Jadi, struktur sintaksis dalam bahasa Sansekerta atau bahasa Melayu Kuno itu mencerminkan gerak, fungsi-fungsi yang dinamis, dari bahasa.


    Memang, ilmu linguistik modern–terutama bidang fonologi–pertama kali muncul di antara para ahli bahasa India kuno yang berusaha menetapkan hukum-hukum bahasa Sanskerta. Ilmu linguistik modern, mau tidak mau, mesti mengakui telah banyak berhutang kepada bahasa Sansekerta. Dengan kata lain, tak akan ada ilmu linguistik modern tanpa adanya tata bahasa Sanskerta.

    —————————————–

    Esai Ahmad Yulden Erwin

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here