More
    Home UTAMA OPINI Bukan Kalimat-Mumun Atau Kalimat Pocong

    Bukan Kalimat-Mumun Atau Kalimat Pocong

    Mumun adalah hantu gentayangan. Pocong adalah mayat yang sudah dikafani. Dalam sintaksis (ilmu bahasa tentang kalimat) ada rumus yang sederhana: Kalimat = Subyek + Predikat. Subjek ibarat tubuh dan predikat ibarat jiwa. Namun, dalam prosa dan puisi yang katanya sastra di Indonesia, banyak dan banyak kali bermunculan aneka “kalimat-mumun” dan “kalimat-pocong”. Kalimat-Mumun adalah kalimat yang tanpa subjek. Kalimat-Pocong adalah kalimat yang tanpa predikat.

    Berikut ini adalah contoh kombinasi yang kelewat “baik” dari Kalimat-Mumun dan Kalimat-Pocong: “Aku duduk membaca. Sendiri. Menatap setiap huruf.” Tampaknya, penulis kalimat di atas memang tak bisa membedakan antara kalimat dengan klausa (dulu biasa disebut anak kalimat).

    Jika menulis kalimat yang benar saja tidak bisa, ya, repot jadinya. Belum lagi soal wacana, ikatan kalimat dalam paragraf, logika kalimat, dan keberterimaan kalimat. Ini adalah hal-hal mendasar bagi penulis prosa dan puisi, apalagi penulis sastra; sama mendasarnya dengan teknik sapuan kuas bagi seorang pelukis atau penguasaan kunci-kunci gitar bagi seorang gitaris.

    Dalam ilmu linguistik (ilmu tentang bahasa), kalimat terdiri dari tiga unsur yang membentuk suatu kalimat, yaitu: kata, frase (gabungan kata), dan klausa. Klausa adalah unsur sintaksis yang predikatif, artinya di dalam satu klausa itu mesti ada minimal satu predikat. Berdasarkan kategori yang mengisi fungsi predikat dalam klausa, maka dapat dibedakan beberapa jenis klausa:

    1. Klausa Verbal: “Pak Lurah membaca koran.” Kata “membaca” adalah predikat dari jenis kata kerja (verbal).

    2. Klausa Nomina: “Kakap itu ikan.” Kata “ikan” adalah predikat dari jenis kata benda (nomina).

    3. Klausa Edjektifal: “Anak itu sangat kurus.” Kata “kurus” adalah predikat dari jenis kata sifat (ejektifal).

    4. Klausa Preposisional: “Mereka dari Medan.” Frase “dari Medan” adalah predikat dari kata preposisional atau kata depan, misalnya: kata “di, ke, dari, pada” dan ditambah kata keterangan tempat.

    5. Klausa Numeral: Gajinya hanya dua juta rupiah sebulan. Kata “dua juta” adalah predikat dari frase numeral (angka).

    Selain itu, klausa dalam sintaksis dapat berupa klausa bebas dan klausa terikat. Klausa bebas adalah klausa yang strukturnya memiliki fungsi subjek dan fungsi predikat dan fungsi objek (keterangan) secara lengkap. Sedangkan klausa terikat adalah klausa yang tidak lengkap fungsi-fungsi pembentuknya. Contoh: Saya akan datang ke pesta pernikahan adiknya, bila diundang. Klausa yang pertama (“Saya akan datang ke pesta pernikahan adiknya”) adalah klausa bebas, sedangan klausa kedua (“bila diundang”) adalah klausa terikat karena tidak punya fungsi subyek.

    Memang akan jadi lebih memikat jika pengetahuan tentang sintaksis itu bisa diaplikasikan langsung untuk menelaah karya sastra. Kuncinya adalah menemukan struktur dasar dari satu kalimat (subjek dan predikat). Di dalam kalimat luas (dulu disebut kalimat majemuk) baik fungsi subjek atau predikat sering dilesapkan ke dalam klausa sebelumnya. Relasi antar klausa dalam kalimat luas bisa dilakukan dengan penggunaan tanda baca koma (,) dan atau kata hubung seperti kata dan, yang, tetapi, dsb.

    Satu contoh yang cukup kompleks, tapi sangat indah adalah pada paragraf pembuka novel karya Ernerst Hemingway (1899 -1961, sastrawan USA peraih Nobel Sastra 1954), berjudul “A Farewell to Arms”, yang diterjemahkan Toto Sudarto Bachtiar berikut ini:

    “Pada penghujung musim panas tahun itu, kami tinggal di sebuah rumah di desa yang menghadap ke sebuah sungai dan ke sebuah dataran di pegunungan. Di dasar sungai itu ada batu-batu kerikil dan batu-batu gunung yang kering dan putih karena sinar matahari, yang pada saat ini airnya jernih dan deras dan biru di dalam alur-alurnya. Pasukan-pasukan tentara bergerak melewati rumah itu dan di sepanjang jalan itu debu-debu yang mereka kepulkan melumuri dedaunan pohon-pohon. Batang-batang pepohonan itu juga penuh debu dan daun-daun cepat berjatuhan tahun itu, dan kami melihat pasukan-pasukan tentara berbaris sepanjang jalan dan debu berkepulan dan daun-daun yang terhembus terbawa angin berjatuhan dan prajurit-prajurit berbaris dan sesudah itu jalan tampak kosong dan putih, yang tinggal hanyalah daun-daun.”

    Sebagai contoh saja, kita bisa membedah struktur sintaksis pada kalimat pertama dalam paragraf di atas. Satu kalimat luas (majemuk) dalam kalimat pertama pada paragraf pertama novel Hemingway tersebut, secara struktur terdiri dari 6 klausa. Begini analisanya:

    “Pada penghujung musim panas tahun itu, kami tinggal di sebuah rumah di desa yang menghadap ke sebuah sungai dan ke sebuah dataran di pegunungan.”

    Enam klausa itu adalah sebagai berikut:

    1. Klausa Preposisional (kata depan penunjuk waktu): Pada penghujung musim panas tahun itu. Struktur dasarnya: Pada penghujung (Keterangan subjek) + Musim panas (Subjek atau S) + pada tahun itu (Predikat atau P).

    2. Klausa Verbal: Kami tinggal di sebuah rumah. Struktur dasarnya: Kami (S) + tinggal (P) + di sebuah rumah (Keterangan Tempat).

    3. Klausa Preposisional (kata depan penunjuk tempat): Rumah itu di desa. Struktur dasarnya: Rumah itu (S) + di desa (P).

    4. Klausa Verbal: Rumah itu menghadap ke sebuah sungai. Struktur dasarnya: Rumah itu (S) + menghadap (P) + ke sebuah sungai (Keterangan Tempat).

    5. Klausa Verbal: Rumah itu menghadap ke sebuah dataran. Struktur dasarnya: Rumah itu (S) + menghadap (P) + ke sebuah dataran (Keterangan Tempat).

    6. Klausa Preposisional (kata depan penunjuk tempat): Dataran itu di pegunungan. Struktur dasarnya: Dataran itu (S) + di pegunungan (P).

    Secara sintaksis, berdasarkan pendekatan linguistik, satu kalimat luas dari kalimat pertama pada paragraf pembuka novel Hemingway itu adalah benar dan sahih adanya.

    Coba bayangkan, apa jadinya bila Hemingway menulis kalimat pertama dalam novelnya itu dengan cara begini: “Terjadi pada penghujung musim panas tahun itu. Kami tinggal di sebuah rumah di desa. Menghadap ke sebuah sungai dan ke sebuah dataran. Di pegunungan.” Hancurlah jadinya keindahan kalimat pembuka pada novel Hemingway tersebut. Dan, saya yakin sangat, tak bakal dia dapat Nobel Sastra pada tahun 1954, jika model kalimatnya ditulis ala Kalimat-Mumun dan Kalimat-Pocong begitu.

    Bagaimana pengetahuan tentang sintaksis ini bisa berguna untuk praktek menulis, utamanya penulisan kreatif (sastra)? Awalnya memang rumit, tetapi bila sudah terbiasa menganalisa, maka pengetahuan dari hasil berlatih menganalisa itu akan menjadi semacam kemampuan (seperti refleks saja) dalam menulis. Selain itu, pengetahuan tentang sintaksis linguistik itu juga akan sangat bermanfaat sewaktu seorang penulis melakukan evaluasi pada tahap revisi tulisan.

    *

    Anda yang gemar karya sastra “absurd”, maka Anda mesti membaca novel absurd (benar-benar absurd), misalnya karya sastrawan avant garde Samuel Beckett yang berjudul “Molloy”. Novel ini pertama kali ditulis oleh Becket dalam bahasa Prancis pada tahun 1947, dan diterbitkan tahun 1951. Sastrawan kelahiran Dublin-Irlandia yang tinggal di Prancis dan Inggris ini lebih kenal sebagai penulis naskah “teater absurd” yang berjudul “Menunggu Godot”. Padahal ia juga cukup banyak menulis karya lainnya berupa skenario film dan televisi, novel, cerpen, esai, atau bahkan puisi. Karya-karyanya sebagian besar bergaya satir atau “komedi hitam”. Pada tahun 1969, ia dianugerahi penghargaan nobel sastra atas karya-karya “absurd”-nya.

    Pada novel Molloy ini Beckett menggunakan teknik naratif-minimalis. Dialog tokoh-tokohnya (yang sering tidak nyambung) “ditanamkan” dalam narasinya. Kalimat-kalimatnya pendek-pendek, mengingatkan saya pada novel dan cerpen sastrawan Indonesia Iwan Simatupang yang anehnya, sampai sekarang, masih dianggap sebagai ciri sintaksis prosa sastra modern Indonesia (entah siapa yang memulai pendapat gegabah ini?). Novel ini merupakan novel pertama dari trilogi novel Samuel Beckett, yaitu: Molloy, Malone Dies, dan The Unnamabble.

    Novel Molloy ini terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama dinarasikan oleh Molloy dan bagian kedua oleh Moran. Kedua bagian bergerak paralel dalam waktu; saling terkait. Bagian pertama berupa serangkaian ocehan ambigu dari Molloy yang ompong dan bermata satu; terbaring lumpuh di sebuah ruang milik ibunya. Molloy adalah makhluk asing bagi siapa pun, bahkan bagi tangannya sendiri, terus mengoceh tanpa bisa bergerak sambil menunggu kematiannya. Bagian kedua novel ini berkisah tentang Moran, seorang lelaki bertampang dingin yang hobi membawa serenteng kunci seberat satu pound dan senang membentak anaknya yang berusia 13 tahun. Suatu Minggu pagi yang aneh, seseorang bernama Gaber mendatangi Moron dan menyuruhnya mencari Molloy. Bersama putranya, Moran pun berkeliaran mencari Molloy. Begitulah kisah “absurd” dalam novel ini, dengan tema-tema absurd yang khas Beckett: menunggu (entah apa) dan mencari (entah mengapa).

    *

    Lantas, bagaimana konteks novel Molloy mesti diletakkan di dalam prosa fiksi sastra modern Indonesia? Kalimat-kalimat prosa dalam cerpen dan novel modern di Indonesia nyaris miskin variasi teknik, terutama sejak Iwan Simatupang mengenalkan teknik “kalimat sederhana” yang pendek-pendek itu, eksplorasi sintaksis dalam prosa Indonesia jadi mandeg. Seolah gaya sintaksis ala Iwan Simatupang itu jadi standar penulisan kalimat dalam cerpen atau novel Indonesia modern, meski sebenarnya Iwan Simatupang “mencuri” tekniknya itu dari novel Molloy karya Samuel Backett. Yang cukup mengherankan, sekaligus menyedihkan juga, hingga abad ke-21 ini pendapat ganjil soal sintaksis sederhana sebaga ciri sintaksis prosa sastra di Indonesia masih terus bertahan tanpa alasan yang jelas. Padahal dengan ditemukannya teori linguistik modern pada tahun 50-an, seperti teori linguistik generatif transformatif dari Noam Chomsky, maka sintaksis dalam bahasa Indonesia makin terbuka untuk dieksplorasi secara lebih luas lagi. Adanya konsep tentang klausa telah memungkinkan eksplorasi kalimat luas menjadi dapat berterima secara ilmiah pula.

    Teknik penulisan sintaksis sederhana di dalam prosa sastra fiksi dunia, dengan ciri-ciri: penggunaan kalimat “simple present tense” (bukan “past tense” sebagaimana lazimnya sintaksis sastra di Prancis dan Inggris), cenderung memakai kata kerja sederhana. Dan yang menjadi ciri khas sintaksis jenis ini di dalam prosa fiksi sastra adalah penggunaan seminimal mungkin kata sambung, sehingga kalimat-kalimatnya terkesan “terpulau-pulau”. Sebenarnya teknik sintaksis sederhana di dalam prosa fiksi sastra dunia dipelopori oleh Albert Camus pada novel “Orang Asing” (terbit tahun 1942 di Prancis). Bahkan Samuel Backet juga “berguru” pada Albert Camus untuk teknik ini. Episteme yang melatari teknik ini sebenarnya ada dalam filsafat “absurd”-nya, yang menyatakan kehidupan manusia di kolong langit ini sama sekali tak bertujuan, terputus-putus, dan cenderung tak terkait dengan kepercayaan sebagian besar orang tentang kausalitas.

    Jadi, sungguh keliru besar, jika penggunaan sintaksis sederhana dalam prosa sastra di sini dianggap sebagai ciri sintaksis prosa sastra di Indonesia. Itu cuma pendapat mereka yang tak tahu sejarah teknik penulisan dalam sastra dunia.

    *

    Prosa hanya bisa disebut bernilai sastra, bila ekspresi sintaksisnya mengandung stilistika (perlu diingat yang dimaksud stilistika dalam prosa sastra bukan cuma soal sintaksis sederhana atau majas saja, ada banyak aspek lainnya, misalnya soal narator). Ini bukan perkara gampang. Seorang penulis prosa sastra, pertama kali mesti menguasai linguistika dengan baik. Baru setelah itu ia dituntut menguasai juga stilistika agar ekspresi bahasanya bernilai sastra.

    Seorang penulis puisi atau penyair, mungkin bisa lebih “longgar” dalam konteks linguistika, dan diberi kebebasan untuk mengeksplorasi linguistika sebaga bagian dari eksperimen stilistika. Namun, seorang penulis prosa sastra, dituntut untuk mencapai keseimbangan antara linguistika dan stilistika dalam ekspresi bahasanya. Misal, ekspresi metaforis dalam satu kalimat luas (majemuk) yang dituliskan pada satu prosa sastra akan jadi berantakan ketika klausa-klausa yang menyusun kalimat luas itu tidak bisa berterima secara gramatika. Beberapa ekspresi kalimat dalam prosa sastra, yang sekilas terlihat melakukan pelanggaran gramatika (misalnya klausa atau kalimat tanpa subjek dan atau predikat seperti dalam novel-novel Cormac McCarthy), bila dikaji lebih dalam ternyata menggunakan formula sintaksis tertentu yang merupakan bagian dari stilistika. Dan hal itu tidak bisa sembarangan saja dilakukan. Karena ekspresi kalimat begitu ketika diuji harus bisa lolos baik dari “pengujian” linguistika maupun stilistika.

    Saya katakan kepada Anda, yang namanya ciri khas prosa fiksi sastra modern Indonesia itu belum ada, Tuan dan Puan. Kita baru sebatas peniru-peniru teknik sastra Barat, peniru yang belum tuntas belajarnya, sekadar main comot teknik secara serampangan tanpa memahami estetika dan episteme yang melatari munculnya teknik itu. Jadi, kita jangan merasa besar kepala dulu seolah telah menjadi pembaharu dalam sastra dunia atau sastra Indonesia, padahal secara struktur saja cara kita menulis prosa masih berantakan.

    *

    Dalam konteks ekspresi puitik, inti puisi itu bukan di kata melainkan sintkasis puitik–baik klausa maupun kalimat. Ada banyak jenis sintaksis puitik dalam teknik perpuisian dunia tergantung ars poetica yang mendasarinya, di antaranya: sintaksis puitik klasik, sintaksis puitik romantik, sintaksis puitik ekspresionistik, sintaksis puitik imajistik, sintaksis puitik impresionistik, sintkasis puitik surealistik, hingga sintaksis puitik abstrak. Setiap sintaksis puitik memiliki “ciri” tekniknya sendiri.

    Agak aneh juga bahwa di Indonesia yang jadi penekanan di dalam teknik ekspresi puitik justru adalah soal “kata”, bukan sintaksis (baik frasa, klausa, maupun kalimat). Kenapa aneh? Karena, baik secara linguistik maupun stilistika, kata mendapatkan “kebermaknaan puitiknya” justru di dalam sintaksis, yaitu dalam konteks sintagmatis dan pragmatika, bukan di dalam kata itu sendiri.

    Namun, banyak penyair atau kritikus atau apresian di sini yang mencoba berargumen bahwa inti ekspresi puisi adalah “kata”, bukan sintaksis, dengan mengambil contoh dua puisi karya Sutardji Calzoum Bachri (SCB) ini:

    ———-
    KALIAN
    ———-

    pun

    ——–
    LUKA
    ——–

    ha ha

    Mereka berpendapat bahwa kedua puisi SCB itu hanya menampilkan satu kata bahkan onomatope (tiruan bunyi), dan tak ada kalimat di dalam badan puisinya. Namun, mereka lupa peran dari judul puisi. Pada kedua puisi SCB itu, bila judul puisi dikaitkan dengan isi puisinya, maka jelas hal itu adalah sebuah sintaksis. Bila judulnya dihilangkan, maka terbukti kedua puisi SCB itu tak memiliki makna sebagai sebuah puisi.

    Di sisi lain, kita kerap menemukan pendapat, bahkan di dalam buku-buku teks pelajaran sastra di Indonesia, inti ekspresi puisi ada pada kata sedangkan prosa pada kalimat. Hal itu jelas keliru. Sebab, seperti sudah saya buktikan dalam konteks dua puisi SCB di atas, hanya dengan menyusun kata secara acak di dalam satu teks puisi, tanpa memerhatikan aspek sintagmatik dan pragmatikanya di dalam sintaksis, tak akan menghasilkan kebermaknaan melainkan racauan. Puisi jelas bukan racauan.

    *

    Sekarang banyak penulis puisi yang menulis puisi dengan kalimat yang acak-acakan. Mereka melakukan berbagai teknik pemadatan kata dan penghilangan fungsi klausa dengan tidak tepat. Sehingga sintaksis puitik yang dihasilkan malah terlihat ngawur. Hal itu tampaknya karena mereka belum menguasai ilmu sintaksis dengan benar.

    Dan, yang sungguh menyedihkan, ternyata banyak penyair Indonesia saat ini–atau yang mengklaim dirinya penyair–tidak mampu menyusun kalimat sederhana (SP, SPO, SPK, SPOK) dengan benar di dalam sintaksis puitiknya. Itu sudah gejala umum rupanya. Tanpa memahami pelajaran dasar itu, mereka mencoba bermain kalimat luas (dulu disebut kalimat majemuk), melakukan penghilangan kata dan penghilangan awalan atau akhiran pada kata secara sembarangan–sementara mereka sendiri tidak tahu bahwa kebutuhan akan teknik ini berdasarkan gita-puitik–yang akhirnya malah membuat kalimat menjadi “ruwet” (bukan kompleks) dan mengacaukan makna kalimat itu sendiri.

    Dan, lucunya, gejala ini dilazimkan dengan dalih “kebebasan puisi” (licentia poetica). Mereka tidak tahu bahwa “licentia poetica” bukan “kengawuran berdasarkan ketidaktahuan”, melainkan “inovasi berdasarkan pengetahuan”.

    Ketika saya bilang belajar menulislah kalimat dengan benar dari dasar, itu bukan berarti saya mau merendahkan atau menghina Anda, tetapi karena faktanya Anda memang tidak bisa menulis kalimat (yang sederhana sekalipun) dengan benar dan, oleh karenanya, saya memberikan saran bagaimana mesti memperbaikinya.

    Belajar, pada halikatnya, membutuhkan kesadaran “rendah hati” yang sangat besar (egoless). Karena itu tidak semua orang siap belajar dengan benar dan tuntas, tetapi selalu bisa belajar dengan ngawur dan tidak tuntas.

    *

    Sintaksis, ilmu tata kalimat, memiliki unsur-unsur, yaitu: kata, frase (gabungan kata), klausa (satuan kalimat yang mesti memiliki predikat), kalimat, dan wacana. Baik sintaksis prosa maupun sintaksis puisi pastilah memiliki kelima unsur itu.

    Struktur dasar dari satu klausa atau kalimat secara umum mininal terdiri dari S (Subyek) + P (Predikat), dan atau yang lengkap adalah S (Subyek) + P (Predikat) + O (Obyek) dan atau K (Keterangan).

    Kalau Anda sudah memahami benar soal struktur dasar klausa atau kalimat ini, barulah Anda bisa beranjak menyusun kalimat luas (majemuk) dengan berbagai variasinya.

    Setelah itu, barulah Anda bisa menggunakan berbagai jenis inversi (pembalikan) dari berbagai fungsi kalimat atau klausa (S, P, O atau K) dengan tepat.

    Selanjutnya, dalam tahap terakhir, barulah Anda bisa melakukan teknik pemadatan atau pelesapan kata dan atau fungsi kalimat/klausa.

    Ada satu penulis puisi yang menulis kalimat (larik) begini: “Lututku gemetar bimbang malam berkabut.” Maksudnya apa kalimat itu? Hahaha. Coba dibedah strukturnya, mana S, mana P, mana O atau K dalam kalimat aneh itu? Berikut ini, contoh kalimat-kalimat ngawur lainnya, yang justru dianggap puitis:

    “Bergulung ombak putaran nasib siapa tahu.”

    Atau,

    “Jalan bergerak dalam mataku tak melihat.”

    Atau,

    “Hidup adalah nasib hancur lebur terasa.”

    Atau,

    “Kau memburu rindu jalan-jalan malam panjang.”

    Itu contoh-contoh kalimat ngawur yang dianggap puitis oleh sebab penulisnya tidak mampu membuat kalimat dengan benar.

    *

    Sebagai perbandingan, coba telisik dengan cermat bagaimana para penyair modern dunia ini menuliskan dengan benar sintaksis puitiknya:

    BUMI DALAM DIRIMU

    Karya Pablo Neruda

    Mawar
    mungil,
    bulu-bulu halus
    cerpelai,
    terkadang,
    mungil dan telanjang,
    kelihatannya
    seperti itulah engkau akan tercipta
    di genggaman telapak tanganku,
    seolah aku akan memetikmu
    dan membawamu ke bibirku,
    namun
    tiba-tiba
    kakiku menyentuh kakimu dan mulutku di bibirmu:
    kau telah tumbuh,
    bahumu naik seperti sepasang bukit,
    payudaramu mengembarai dadaku,
    lenganku hampir bersatu
    melingkari
    bulan mungil di pinggangmu:
    di dalam arus cinta kau meregang seperti pasang laut:
    sebab tak mampu mengukur keluasan langit dalam matamu
    aku pun merunduk mencium bumi di bibirmu.

    —————————————————–

    DINI HARI

    Karya Li-Young Lee

    Sementara bebulir gandum melunak
    dalam air, gemeletak
    di atas api tungku, sebelum
    sayur asin musim dingin diiris
    untuk sarapan, sebelum burung bernyanyi,
    ibuku meluncurkan sisir gading
    pada rambutnya, berat
    dan hitam seperti tinta kaligrafi.

    Dia duduk melipat kakinya pada ranjang.
    Jam tangan ayahku, mendengarkan
    musik sisir
    pada rambut.

    Sisir itu,
    menarik rambut ibuku
    ke belakang, menggulungnya
    sekira dua jari, ibuku menjepitnya
    dalam sebuah sanggul di belakang kepalanya.
    Selama setengah abad ibuku telah melakukan hal ini.
    Ayahku suka melihat rambut ibuku tergelung.
    Dia memujinya sebagai rambut yang resik.

    Tetapi, aku tahu
    hal begini oleh cara
    rambut ibuku diurai
    tatkala ia menarik penjepitnya.
    Meluncur, seperti tirai
    sewaktu mereka melepasnya pada malam hari.

    —————————————————–

    STUDI TENTANG DUA BUAH PIR

    Karya Wallace Steven

    I
    Paedagogum Opusculum.
    Sepasang pir jelas bukan biola,
    Bentuk telanjang atau botol labu.
    Mereka tak menyerupai apa pun.

    II
    Mereka cuma kuning muda
    Tercipta dari garis kurva
    Gembung manis ke bawah
    Kemudian disentuh merah.

    III
    Mereka permukaan tak rata
    Miliki gerak lengkung.
    Mereka macam putaran
    Terangkat runcing di ujung.

    IV
    Dalam cara mereka dimodelkan
    Ada semacam irisan biru.
    Sehelai daun kering terjuntai
    Pada tangkai.

    V
    Kilauan kuning.
    Kilauan dari aneka jenis kuning,
    Sitrun, jeruk dan sayuran
    Mekar pada kulit.

    VI
    Bayangan dua buah pir
    Hanya bulatan pada selembar kain hijau.
    Buah-buah pir tak selalu nampak
    Sebagaimana pengamat berkehendak.

    ————–
    CATATAN:
    ————–

    APENDIKS 1: PRINSIP LEDAKAN (ABSURDITAS) DAN LOGIKA

    Prinsip ledakan (Latin: ex falso quodlibet: “dari kesalahan dapat muncul kesimpulan apa pun”; atau ex contradictione quodlibet: “dari kontradiksi dapat muncul kesimpulan apa pun”), atau prinsip “Pseudo-Scotus”, adalah salah satu prinsip inferensi di dalam logika klasik, logika intuisionalistik, dan sistem logika yang sejenis. Di dalam prinsip ledakan pernyataan apa pun dapat dibuktikan dari kontradiksi atau kesalahan infrensi logis. Artinya, sekali inferensi logis memunculkan kontradiksi, maka setiap konklusi apa pun dapat tercipta darinya. Bila hendak dituliskan dalam bahasa logika intuisionalistik, maka prinsip ledakan itu dapat diformulasikan menjadi sebuah inferensi logis seperti ini: (ϕ ∧ ¬ϕ) ⊢ ψ. Contoh, bila saya menyatakan bahwa “saya ada di sini” dan (sekaligus) “saya tak ada di sini”, maka konklusinya adalah “sebuah meteor sedang melintasi langit”. Itu jelas merupakan inferensi logis yang absurd karena konklusi itu tidak ada sebagai terma di dalam premis-premisnya, seperti tiba-tiba saja muncul dari kehampaan.

    Dengan menggunakan bahasa logika intuisionalistik, berikut bukti (proof) dari prinsip ledakan: (ϕ ∧ ¬ϕ) ⊢ ψ

    Bila:
    ϕ (phi), ψ (psi), ω (omega) = proposisi atomik
    ∧ = konjugasi (operator logika untuk “dan”)
    ¬ = negasi
    ∨ = disjungsi (operator logika untuk “atau”)
    ⊢ = “terbukti (dalam satu sistem tertentu)” atau “implikasi” (operator logika untuk “maka”)

    Maka:
    1. ϕ ∧ ¬ ϕ (asumsi)
    2. ϕ (dari 1 dengan menggunakan eliminasi konjungsi)
    3. ¬ ϕ (dari 1 dengan menggunakan eliminasi konjungsi)
    4. ϕ ∨ ψ (dari 2 dengan menggunakan penambahan disjungsi)
    5. ψ (dari 3 dan 4 dengan menggunakan silogisme disjungtif)
    6. (ϕ ∧ ¬ϕ) ⊢ ψ (dari 5 dengan menggunakan pembuktian implikasi pada asumsi 1)

    Logika parakonsistensi berusaha membantah argumen dari logika klasik tentang “prinsip ledakan”. Menurut para logikawan parakonsistensi, seperti Jean-Yves Beziau dan Graham Priest, bila hendak meninggalkan “prinsip ledakan”, maka seseorang harus meninggalkan setidaknya satu dari tiga prinsip logika proposisional berikut ini:

    1. Penambahan disjungsi: ϕ ⊢ ϕ ∨ ψ
    2. Silogisme disjungsi: ϕ ∨ ψ, ¬ ϕ ⊢ ψ
    3. Transitivitas dari infrensi: Jika ϕ ⊢ ψ dan ψ ⊢ ω, maka ϕ ⊢ ω

    Jika dan hanya jika para logikawan telah meninggalkan satu dari tiga prinsip logika di atas di dalam inferensinya, maka kontradiksi akan terbukti koheren secara parakonsistensi, tanpa menjadi absurd:

    4. Bukti kontradiksi adalah logis: Jika ϕ ⊢ ψ ∧ ¬ ψ, maka ⊢ ¬ ϕ

    Namun, sayangnya, jika prinsip “negasi eliminasi” (¬ ¬ ϕ ⊢ ϕ) digunakan dalam bukti kontradiksi itu, maka setiap proposisi masih dapat dibuktikan dari kontradiksi. Negasi eliminasi ini masih merupakan kelemahan bukti kontradiksi dari logika parakonsistensi, meski logika intuisionalistik tidak mengenal prinsip negasi eliminasi.

    Intinya logika parakonsistensi mencoba membuktikan bahwa kontradiksi bisa tetap koheren secara logika dan tidak terjebak pada absurditas. Logika parakonsistensi membuktikan bahwa dua hal yang bertentangan tidaklah menghasilkan kesimpulan yang absurd, melainkan kesimpulan yang logis. Bila prinsip ledakan menyatakan bahwa dua premis yang berkontradiksi akan menghasilkan konklusi apa pun (tidak peduli apa pun premisnya), maka logika parakonsisten membuktikan bahwa dua premis yang bertentangan tidak bisa menghasilkan konklusi apa pun.

    ————————————-

    APENDIKS 2: TENTANG PUISI, KOMPOSISI PUITIK, DAN ARS POETICA

    1) Puisi adalah seni berbahasa dengan mendayagunakan secara optimum komposisi puitik. Tanpa komposisi puitik, maka itu bukan seni berbahasa, bukan puisi.

    2) Komposisi puitik itu adalah kesatuan dari unsur-unsur yang membentuk puisi. Ada beberapa unsur pembentuk puisi: 1. Kedalaman tema. 2. Ketepatan sintaksis linguistik. 3. Ketepatan gita-puitik (aspek bunyi atau irama dalam puisi). 4. Ketepatan lukisan puitik (aspek majas visual dalam puisi). 5. Inovasi atau kebaruan (baik dalam tema maupun ekspresi puitik). Semua unsur itu haruslah padu tersusun di dalam satu puisi.

    3) Ars poetica adalah satu konsep tentang seni puisi. Ars poetica ada bermacam-macam. Ada ars poetica puisi klasik, puisi romantik, puisi imajisme, puisi surealisme, puisi linguistik, dll. Namun, semua ars poetica itu dibangun dengan selalu memerhatikan komposisi puitik. Jadi, komposisi puitik adalah sesuatu yang lebih umum daripada ars poetica. Komposisi puitik ada pada semua ars poetica. Sedangkan ars poetica bisa berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya.

    ————————————————–
    Esai karya Ahmad Yulden Erwin​, 2012
    ————————————————–

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here