More

    Alumni LPDP Dwi Sasetyaningtyas Disorot Usai Unggahan Soal Paspor Anak

    Profil dan Rekam Jejak

    Dwi Sasetyaningtyas, yang akrab disapa Tyas, merupakan lulusan Sarjana Teknik Kimia dari ITB. Ia melanjutkan studi magister Sustainable Energy Technology di Delft University of Technology, Belanda, melalui beasiswa LPDP pada periode 2015–2017.

    Setelah menyelesaikan pendidikan, Tyas kembali ke Indonesia pada 2017 untuk memenuhi kewajiban sebagai penerima beasiswa dan tinggal hingga 2023. Sebelum melanjutkan studi ke luar negeri, ia berkarier sebagai Customer Business Development Manager di Procter & Gamble (P&G) pada 2013–2015, memimpin strategi penjualan di sejumlah wilayah seperti Jakarta, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara.

    - Advertisement -

    Pada 2018, Tyas mendirikan Sustaination, sebuah social enterprise yang berfokus pada edukasi keberlanjutan dan produk lokal ramah lingkungan. Sejak 2020, ia juga menjadi Co-Founder Sustaination Institute yang bergerak di bidang riset, pendidikan, serta pengembangan komunitas.

    Ia dikenal aktif dalam berbagai inisiatif sosial dan lingkungan, seperti kampanye pengurangan sampah dan zero waste, pemberdayaan ibu rumah tangga melalui Bisnis Baik Club, program Sustain Cerita Kompos, penanggulangan bencana di Sumatera, pembangunan sekolah di Nusa Tenggara Timur, pengembangan platform energi surya gratis di Pulau Sumba, hingga pendampingan UMKM berbasis bisnis lestari.

    Tyas menikah dengan Arya Iwantoro, alumni Teknik Kelautan ITB yang menempuh studi doktoral di Utrecht University melalui beasiswa LPDP. Saat ini, Arya bekerja sebagai konsultan peneliti di University of Plymouth. Keluarga tersebut diketahui kini menetap di luar negeri.

    Perdebatan publik atas kasus ini mengerucut pada dua isu utama, yaitu komitmen alumni LPDP terhadap Indonesia serta persoalan kewarganegaraan anak penerima beasiswa pemerintah. Sebagian pihak memandang persoalan kewarganegaraan anak sebagai keputusan personal keluarga yang tidak dapat dicampuri publik. 

    Namun, ada pula yang menilai dimensi moral dan simbolik nasionalisme menjadi penting karena beasiswa LPDP dibiayai dari dana negara. Fenomena ini menunjukkan bagaimana unggahan pribadi dapat berkembang menjadi diskursus publik yang luas ketika berkaitan dengan program strategis pemerintah. 

    Terlepas dari pro dan kontra yang berkembang, isu ini membuka ruang diskusi lebih jauh mengenai nasionalisme, kontribusi diaspora, serta transparansi dan regulasi program beasiswa negara di masa mendatang.

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here