More

    Antara Takdir dan Kelayakan Sosial di Tengah Zaman yang Goyah

    Masyarakat Hari Ini: Krisis Kelayakan

    Kita hidup di era di mana popularitas sering dianggap sebagai kelayakan. Media sosial menjadikan algoritma sebagai hakim moral baru. Viral lebih dihargai daripada benar. Kaya lebih dihormati daripada jujur.

    Max Weber menyebut pergeseran dari otoritas kharismatik dan tradisional menuju rasional-legal. Namun kini kita menyaksikan transformasi lain: otoritas algoritmik. 

    - Advertisement -

    Apa yang sering dilihat, dianggap penting.

    Di tengah itu, ayat ini adalah penyeimbang: bukan algoritma yang menentukan kepantasan, bukan pula senior, melainkan ukuran ilahi yang melampaui statistik.

    Ketika generasi muda merasa tersingkir oleh sistem yang tak adil: pekerjaan langka, harga rumah melambung, ruang ekonomi politik terasa eksklusif, ayat ini bukan candu yang membuat pasrah seperti uraian Karl Marx yang sering disalahartikan. 

    Ia adalah etika perjuangan: perbaiki dirimu, perkuat integritasmu, dan yakinlah bahwa struktur yang menghalangi tidaklah abadi. 

    Sejarah tidak pernah kekurangan memberikan contoh dan pelajaran bagi mereka yang berakal. 

    Indonesia memberi contoh, ketika B. J. Habibie diremehkan sebagai “teknokrat yang terlalu idealis”, ia tetap bekerja dalam sunyi. Ketika krisis 1998 meledak, sejarah menempatkannya pada posisi transisi yang menentukan. Ia mungkin tidak populer dalam semua kalangan, tetapi waktu membuktikan relevansinya. Habibie berhasil menangani masa transisi yang sulit. 

    Kisah lain datang dari Nelson Mandela. Dipenjara 27 tahun. Secara politik, ia dihalangi. Secara struktural, ia dimatikan. Namun kepantasan moralnya sebagai simbol keadilan tidak bisa dibungkam. Apartheid runtuh, sementara namanya ditinggikan oleh waktu dan sejarah.

    Psikologi modern memberikan perkakas analisanya lewat Angela Duckworth: grit (ketekunan dan daya tahan) sebagai faktor penting keberhasilan. 

    Namun ayat ini melampaui grit. Ia berbicara tentang korespondensi antara etika dan sejarah. Bahwa waktu, pada akhirnya, berpihak pada yang layak.

    Sering kali ayat-ayat tentang janji ilahi disalahpahami sebagai legitimasi pasif. Padahal, Surah Al-Insyirah secara keseluruhan berbicara tentang perjuangan: “Fa idza faraghta fanshab” (maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan tetaplah bekerja keras untuk urusan lain).

    Ini bukan teologi kemalasan. Ini teologi revolusioner.

    Dalam kacamata filosofis, resilience modern, individu yang memiliki meaning framework lebih mampu bertahan dalam tekanan. Meminjam Viktor Frankl, penyintas kamp konsentrasi Nazi, menyebut makna adalah daya tahan terdalam manusia.

    Ayat ini hendak menegaskan: jerih payah yang etis tidak akan pernah sia-sia.

    Peringatan bagi Zaman yang Goyah

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here