Memahami Hoaks, Misinformasi, dan Disinformasi
Dalam sesi edukasi, mahasiswa diajak membedakan istilah hoaks, misinformasi, dan disinformasi yang kerap disalahartikan. “Hoaks itu sendiri berita bohong atau berita tidak bersumber. Tapi ada 2 jenis, misinformasi dan disinformasi. Kalau disinformasi itu, hoaks nya itu dibuat dengan sengaja. Jadi orang-orang itu nyebarin emang sengaja untuk menciptakan resah, menciptakan kerugian, misalkan hoaks bagi-bagi uang, atau menciptakan konflik bagi masyarakat,” papar Vidi.
Ia juga menyoroti tantangan baru di era AI, di mana manipulasi visual dan audio semakin sulit dikenali. “Kalau misinformasi sebenernya enggak sengaja, orang penyebarnya ini enggak tau, karena mereka enggak tau yang di dalam konten itu benar apa enggak, tapi asal nyebarin aja,” lanjutnya
Vidi menegaskan bahwa proses verifikasi tidak memerlukan perangkat mahal. “Masalahnya yang sekarang, foto dan video, audio bahkan, itu sekarang udah pake AI. Jadi, untuk foto, mungkin masih gampang pakai Google Lense saja. Cuma yang pake AI ini agak harus teliti, karena kita juga harus cermat dan teliti untuk meriksanya gitu,” ungkapnya.
Ia turut merekomendasikan beberapa situs pendeteksi konten berbasis AI. “Di Cek Fakta Liputan6 dan juga media-media lain, tools-nya juga sederhana. Pakai handphone dan laptop, dan gak ada tools-tools canggih yang digunakan atau tools mahal, itu semua bisa digunain secara umum, secara free, salahsatunya google lense,” jelasnya.
Selain itu, publik dapat memanfaatkan layanan chatbot WhatsApp Cek Fakta Liputan6.com. “Tapi sebenernya kita juga dimudahkan, karena sebenernya ada website-website yang untuk mendeteksi ini foto AI atau bukan, audio AI atau bukan, video AI atau bukan. Ini buatan deepfake atau bukan, seperti fakeimagedetector.com , juga bisa pakai effectdetector.ai ,” paparnya. “Kita punya namanya chatbot cek fakta, bisa tanyakan suatu konten itu fakta atau tidak disitu,” sambung Vidi.
Pada sesi berikutnya, Jurnalis Liputan6.com Ratu Annisa membawakan materi “The Use of Nuance in Media Distribution.” Ia menekankan bahwa distribusi konten membutuhkan sensitivitas terhadap karakter platform, audiens, serta konteks sosial.
Menurutnya, pemilihan bahasa, visual, dan pendekatan penyampaian pesan harus mempertimbangkan etika jurnalistik agar informasi tetap relevan dan bertanggung jawab di tengah ekosistem multiplatform. Kegiatan ini mendapatkan apresiasi dari pihak kampus. Dr. Zulkarnain, M.Eng, selaku Ketua Jurusan Teknik Grafika PNJ, menyampaikan terima kasih atas terselenggaranya program tersebut.
Ia berharap mahasiswa semakin kritis, adaptif, serta siap menghadapi dinamika media digital yang terus berkembang. Selain sesi pemaparan materi, mahasiswa juga berkesempatan berdialog langsung dengan para narasumber. Seluruh peserta memperoleh e-certificate sebagai bentuk apresiasi partisipasi.
Melalui Liputan6 Connect 2026, mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga kreator dan pengguna digital yang kritis, mampu memverifikasi konten sebelum membagikannya, serta memahami risiko misinformasi dan disinformasi di era kecerdasan buatan.
Program ini akan terus digelar di berbagai kampus. Institusi pendidikan yang ingin berkolaborasi dapat menghubungi melalui email brandcom.team@kly.id






