Konsep EMAS pada awalnya dimaknai sebagai simbol nilai tinggi yang terus meningkat. “Yang terlintas di kepala saya waktu itu, emas nilainya terus naik. Artinya UKI juga harus punya nilai jual tinggi, terutama dari kualitas lulusannya,” katanya.
Seiring perumusan lebih lanjut, EMAS kemudian dirinci menjadi empat pilar utama. Pilar pertama, Empowerment, berfokus pada penguatan kapasitas seluruh sumber daya manusia di lingkungan kampus. “Untuk bisa berdaya, semua SDM harus kita kembangkan. Dosen harus terus meningkatkan kompetensinya, tenaga kependidikan profesional dan mahasiswa dibekali kemampuan yang relevan dengan zaman,” katanya.
Pilar kedua, Meaningful, menekankan dampak sosial dan kontribusi nyata bagi masyarakat. “Setelah berdaya, UKI harus bermakna. Harus berdampak bagi masyarakat, gereja, bangsa, bahkan dunia,” ujar Angel.
Pilar ketiga, Agile, mendorong UKI untuk adaptif dan responsif terhadap perubahan global. “UKI harus lincah melihat peluang kerja sama, baik dengan alumni, mitra nasional, maupun internasional. Kita tidak boleh pasif,” katanya.
Adapun pilar keempat, Sustainable, menitikberatkan keberlanjutan institusi dalam jangka panjang. “Bukan hanya soal lingkungan dan ‘Sustainable Development Goals”, tetapi juga bagaimana UKI mandiri secara finansial, tata kelolanya sehat, dan terus berkembang,” ujar Angel.
Melalui pendekatan ini, UKI juga mengembangkan konsep eco-smart campus yang mengintegrasikan teknologi digital, efisiensi energi, dan kepedulian lingkungan. “Kampus juga harus ramah lingkungan, efisien, dan tetap modern. Itu bagian dari tanggung jawab kita terhadap generasi mendatang,” katanya.
Di bawah kepemimpinan Prof Angel, UKI akan memprioritaskan peningkatan mutu dosen, tenaga kependidikan, serta mahasiswa, sekaligus memperluas kolaborasi nasional dan internasional. Sejumlah program studi telah meraih akreditasi unggul dan baik sekali, didukung dosen bergelar doktor dan profesor yang aktif dalam publikasi internasional serta riset kolaboratif.
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






