Di Tengah Reruntuhan Gaza
Selama lebih dari dua tahun, ia mencari dengan tangannya sendiri jenazah anggota keluarganya yang tewas akibat serangan. Bagi Hammad, pencarian tersebut bukan sekadar upaya menemukan sisa-sisa tubuh di antara reruntuhan, tetapi bentuk penghormatan terakhir bagi orang-orang yang dicintainya.
“Ketika saya mulai menemukan sisa-sisa keluarga dan orang-orang terkasih saya, saya merasakan kedamaian dan kelegaan psikologis,” katanya. “Terutama ketika saya menemukan sisa-sisa istri saya dan anak yang belum lahir. Saat itulah saya merasa telah memenuhi sumpah yang saya buat kepada diri sendiri.” seperti dikutip dari PNN.
Saat serangan meningkat, Hammad tinggal di rumah itu bersama istrinya yang tengah hamil sembilan bulan dan enam anak mereka. Meski selebaran peringatan telah dijatuhkan agar warga mengungsi ke selatan, ia memilih tetap bertahan. “Kami memutuskan untuk tetap tinggal di rumah kami, apa pun keadaannya,” katanya.
Menurut penuturannya, wilayah tersebut kemudian dibombardir secara intensif hingga rumahnya terkena serangan langsung. Istri dan anak-anaknya tewas, sementara ia menjadi satu-satunya yang selamat. Ia menggambarkan kehancuran yang terjadi begitu parah hingga sisa-sisa tubuh manusia bercampur dengan debu dan puing bangunan.
Tanpa alat berat dan dengan bantuan yang sangat terbatas, Hammad membersihkan reruntuhan secara manual menggunakan peralatan sederhana. “Saya harus merangkak melalui reruntuhan untuk membedakan antara batu dan sisa-sisa keluarga saya,” katanya, seraya menambahkan bahwa ia tidak dapat tidur pada malam hari selama hampir 27 bulan.
Ia menyebut proses tersebut melelahkan, baik secara fisik maupun emosional, serta membebani kondisi keuangannya. “Saya membeli hampir 5.000 karung tepung kosong, masing-masing seharga sekitar satu dolar, agar saya bisa mengumpulkan puing-puing tanpa menghalangi jalan,” katanya.
Karung-karung tersebut digunakannya untuk menampung puing sekaligus membangun dinding darurat sebagai tempat berlindung. Menurutnya, dinding itu juga memberikan perlindungan dari tembakan di sekitar lokasi, termasuk dari drone.
Bagi Hammad, menemukan jenazah istri dan bayi yang belum lahir menjadi titik balik dalam pencariannya. Kisahnya menggambarkan realitas kemanusiaan yang lebih luas di Gaza. “Saya merasakan ketenangan,” katanya. “Saya merasa telah menjalankan kewajiban saya terhadap mereka.”
Banyak keluarga masih berusaha mencari kerabat yang hilang atau menggali reruntuhan untuk menemukan jenazah, di tengah keterbatasan alat dan sumber daya. Di antara angka-angka penahanan dan laporan pelanggaran, terdapat duka personal yang terus membekas pada mereka yang kehilangan rumah, keluarga, dan masa depan.






