Di sisi lain, perhatian terhadap ketepatan penggunaan bahasa sering kali bukan menjadi hal utama dalam komunikasi sehari-hari. Selama maksud dari sebuah kata dapat dipahami oleh orang lain, persoalan benar atau tidaknya istilah yang digunakan sering kali dianggap tidak terlalu penting.
Padahal dalam lingkungan pendidikan, ketepatan penggunaan bahasa memiliki makna yang tidak kecil. Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana untuk menyampaikan konsep secara jelas dan tepat. Ketika istilah digunakan dengan benar, makna yang disampaikan pun menjadi lebih akurat.
Sekolah dan perguruan tinggi seharusnya menjadi ruang yang mendorong penggunaan bahasa secara baik dan benar. Tidak hanya dalam kegiatan akademik, tetapi juga dalam berbagai praktik administratif yang terjadi sehari-hari. Hal-hal kecil seperti penggunaan istilah sebenarnya dapat menjadi bagian dari upaya membangun budaya akademik yang lebih teliti.
Mungkin bagi sebagian orang, perbedaan antara absensi dan presensi tampak sebagai persoalan yang sederhana. Namun dari sudut pandang bahasa, hal tersebut menunjukkan pentingnya ketelitian dalam menggunakan istilah. Kesalahan kecil yang dibiarkan terus-menerus pada akhirnya dapat berubah menjadi kebiasaan yang sulit diperbaiki.
Karena itu, membiasakan penggunaan istilah yang tepat sebenarnya dapat dimulai dari langkah sederhana. Sesederhana ketika mencatat kehadiran peserta dalam suatu kegiatan, maka yang diisi adalah presensi, bukan absensi.
Dari hal-hal kecil seperti inilah kesadaran berbahasa dapat tumbuh. Ketepatan dalam memilih kata mungkin terlihat sederhana, tetapi di baliknya tersimpan sikap teliti dalam memahami makna. Dan dari ketelitian semacam itulah kebiasaan berpikir yang lebih cermat perlahan dapat terbentuk.






