More

    Aren, Transisi Energi, dan Pencegahan Banjir di Aceh

    Oleh: Jainakri Phonna*

    Untuk memastikan potensi aren tidak berhenti sebagai wacana, diperlukan kerangka kebijakan yang lebih terintegrasi. Pemerintah pusat dan daerah dapat menetapkan pengembangan aren sebagai bagian dari strategi transisi energi berbasis wilayah hulu melalui skema perhutanan sosial dan hutan rakyat.

    Jainakri Phonna

    Transisi energi kini menjadi agenda penting dalam kebijakan publik Indonesia. Namun, isu ini sejatinya tidak hanya menyangkut peralihan sumber energi, melainkan juga pilihan pembangunan jangka panjang yang berdampak pada ruang hidup, ekonomi lokal, dan keberlanjutan lingkungan. Karena itu, transisi energi perlu dibaca melampaui target teknis dan angka bauran energi semata.

    Indonesia memilih pendekatan bertahap melalui pengembangan bioenergi, termasuk bioetanol. Pilihan ini mencerminkan upaya membangun kemandirian energi berbasis sumber daya domestik. Pemerintah tengah mematangkan kebijakan pencampuran etanol dalam bahan bakar, menandai bahwa transisi energi dipahami sebagai proses jangka menengah—bukan lompatan instan yang mengabaikan kesiapan produksi maupun dampak sosial.

    - Advertisement -

    Rencana mandatory campuran etanol secara nasional menunjukkan konsistensi arah kebijakan. Namun, tantangan utama bukan hanya pada besaran persentase campuran, melainkan pada pilihan bahan baku dan model pengembangannya. Di titik inilah diskursus bioetanol perlu diperluas: bahan baku seperti apa yang mampu memenuhi kebutuhan energi tanpa menciptakan tekanan baru terhadap lingkungan dan tata ruang.

    Aren (Arenga pinnata) menawarkan alternatif yang kerap luput dari pembahasan arus utama. Berbeda dengan tanaman energi yang menuntut pembukaan lahan skala besar, aren tumbuh alami di kawasan perbukitan, hulu daerah aliran sungai, dan hutan rakyat. Ia tidak bersaing langsung dengan pangan pokok serta tidak menuntut perubahan fungsi lahan secara drastis. Karakter ini menjadikan aren relevan bukan hanya dalam konteks energi, tetapi juga pengelolaan lanskap.

    Keterkaitan tersebut menjadi penting ketika dikaitkan dengan kondisi Aceh. Provinsi ini memiliki topografi yang sangat bergantung pada kualitas kawasan hulu. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana menunjukkan bahwa banjir dan longsor masih menjadi bencana paling sering terjadi di Aceh dalam satu dekade terakhir, dengan kerugian yang tidak hanya bersifat material, tetapi juga sosial. Fakta ini menegaskan bahwa persoalan banjir tidak selalu berakar pada kapasitas sungai di hilir, melainkan pada degradasi vegetasi di bagian atas daerah aliran sungai.

    Secara ekologis, aren memiliki fungsi yang kerap terabaikan dalam diskursus energi. Sistem perakarannya yang dalam dan menyebar membantu meningkatkan infiltrasi air serta menahan erosi tanah. Sebagai tanaman tahunan, aren menjaga kontinuitas tutupan lahan. Dalam perspektif hidrologi, vegetasi permanen di kawasan hulu berperan penting dalam menekan limpasan permukaan—salah satu faktor utama pemicu banjir bandang. Dengan demikian, pengembangan aren berpotensi berkontribusi pada pengurangan risiko bencana, di luar manfaat ekonominya.

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here