Pendekatan ini juga membuka peluang ekonomi dari pemanfaatan kembali material yang masih memiliki nilai. Dalam diskusi bersama perwakilan industri, pemerintah daerah, serta pimpinan universitas, Menteri Brian juga memaparkan konsep pengelolaan sampah bertingkat yang dinilai lebih efisien dari sisi operasional dan biaya.
“Bagusnya, yang optimal itu dibangun Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) per 100 ton per hari. Jadi di tingkat kelurahan hanya memisahkan, kemudian dari kelurahan dibawa ke kecamatan untuk diproses,” Menteri Brian.
Kunjungan ini merupakan bagian dari tindak lanjut pemerintah setelah Rapat Koordinasi Percepatan Penanganan Sampah Nasional yang sebelumnya digelar di Kementerian Koordinator Bidang Pangan.
Dalam konteks tersebut, Menteri Brian menyoroti peran penting perguruan tinggi dalam mendukung solusi pengelolaan sampah nasional. Kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat penelitian, tetapi juga sebagai ruang uji coba nyata bagi pengembangan teknologi yang dapat diterapkan di masyarakat.
Implementasi teknologi reaktor plasma dingin di TPS Arcamanik menjadi salah satu contoh kolaborasi antara akademisi, pemerintah, dan industri dalam mengembangkan solusi inovatif untuk pengolahan sampah.
Perkembangan positif dari teknologi tersebut menunjukkan komitmen Unisba dalam mendorong inovasi pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan ramah lingkungan melalui kerja sama lintas sektor.
Melalui kolaborasi tersebut, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi berharap inovasi berbasis riset yang lahir dari perguruan tinggi dapat berkontribusi secara nyata dalam mengatasi persoalan sampah nasional sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.






