Inovasi Energi Biomassa dan Pemanfaatan Karet Alam
Penelitian ini disampaikan oleh Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Unri, Erman Taer. Menurut Erman, Indonesia memiliki potensi biomassa yang sangat besar untuk dikembangkan sebagai material energi masa depan. “Berbagai jenis biomassa lokal seperti tempurung kelapa, bakau, sawit, hingga limbah organik dapat diolah menjadi material karbon yang memiliki konduktivitas listrik tinggi dan dapat digunakan sebagai elektroda superkapasitor,” ujar Erman.
Penelitian yang dimulai sejak 2015 tersebut melibatkan sejumlah perguruan tinggi dalam Konsorsium Biomassa untuk Energi Hijau. Selama hampir satu dekade, tim peneliti telah menghasilkan lebih dari 170 publikasi ilmiah terindeks Scopus serta sejumlah paten. Saat ini, penelitian tersebut telah memasuki tahap pengembangan prototipe dengan tingkat kesiapan teknologi yang terus meningkat.
“Salah satu prototipe yang kami kembangkan sudah mampu menghidupkan lampu menggunakan perangkat penyimpanan energi berbasis biomassa. Ke depan kami menargetkan teknologi ini dapat diaplikasikan pada kendaraan listrik, dimulai dari sepeda atau motor listrik,” tambah Erman.
Selain itu, riset lain juga dipaparkan oleh dosen Fakultas Teknik Unri, Bahruddin, yang mengembangkan pemanfaatan lateks karet alam sebagai binder pada cat emulsi untuk menggantikan bahan sintetis impor yang selama ini digunakan dalam industri cat. “Sekitar 80% penggunaan karet alam dunia masih didominasi oleh industri ban. Padahal sektor lain seperti industri cat memiliki potensi besar untuk menyerap karet alam sebagai bahan baku,” ujar Bahruddin.
Ia menjelaskan bahwa konsumsi cat tembok di Indonesia mencapai sekitar 1 juta ton per tahun dengan komposisi binder sekitar 6–30 persen. Jika sebagian kebutuhan tersebut digantikan dengan lateks karet alam, maka berpotensi meningkatkan konsumsi karet hingga 100 ribu ton per tahun.
Inovasi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan nilai tambah komoditas karet nasional sekaligus memperkuat kesejahteraan petani melalui pengembangan industri berbasis sumber daya alam lokal. Menanggapi berbagai paparan riset tersebut, Wamen Stella menekankan pentingnya penguatan aspek hilirisasi agar hasil penelitian perguruan tinggi dapat lebih mudah diadopsi oleh industri.
“Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memiliki Direktorat Hilirisasi dan Kemitraan yang berfokus pada penguatan kerja sama antara perguruan tinggi dan industri, termasuk dalam memastikan aspek kelayakan ekonomi dari hasil riset,” jelas Wamen Stella.
Ia juga menambahkan bahwa pemerintah tengah mendorong kolaborasi antara perguruan tinggi dan koperasi melalui program Koperasi Merah Putih agar inovasi hasil penelitian dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat. “Kami ingin universitas tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga mampu menjembatani kekayaan alam Indonesia menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan perekonomian,” pungkasnya.
Universitas Maranatha Terima Pendanaan Tujuh Penelitian
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






