Motif: Kedekatan Tanpa Komitmen
Kasat Reskrim Polresta Pekanbaru, Anggi Rian Diansyah, menyebut antara pelaku dan korban memang pernah memiliki kedekatan, namun tidak pernah berstatus sebagai pasangan resmi. “Bisa dibilang si pelaku ini memiliki harapan atau perasaan lebih terhadap korban, namun korban tidak menanggapinya sesuai dengan yang diharapkan pelaku. Mungkin bahasa sekarang hubungan tanpa status,” ujarnya.
Menurut Anggi, pelaku menganggap relasi yang terjalin selama beberapa bulan sudah layaknya hubungan pacaran. Namun persepsi tersebut tidak sejalan dengan pandangan korban. “Si pelaku merasa dia ke korban itu sudah seperti layaknya pacaran, namun korban tidak merasakan hal yang sama. Pelaku menyatakan memang sakit hati saja karena menurut pelaku korban menyudahi hubungan yang sudah dijalani beberapa bulan ke belakang,” jelasnya.
Fakta ini sekaligus membantah dugaan awal bahwa perasaan pelaku sepenuhnya bertepuk sebelah tangan. Polisi menegaskan memang ada kedekatan, tetapi tidak dalam komitmen resmi. Belakangan beredar pula sejumlah video di media sosial yang memperlihatkan kebersamaan korban dan pelaku, termasuk momen bermain gim dan berfoto bersama.
Video tersebut memicu spekulasi publik terkait hubungan keduanya. Korban diketahui telah memiliki kekasih bernama Ferdi. Ia disebut tidak mengetahui adanya kedekatan khusus antara korban dan pelaku sebelum insiden terjadi. Polisi menduga pemicu utama aksi tersebut adalah keputusan korban untuk mengakhiri kedekatan karena telah memiliki pasangan lain.
Akibat serangan tersebut, korban mengalami luka pada bagian tangan kiri dan kepala akibat sabetan senjata tajam. Dalam kondisi terluka dan bersimbah darah, korban berusaha keluar dari ruangan untuk meminta pertolongan. “Korban mau memutuskan hubungan karena korban sudah punya pacar lain,” pungkasnya.
Selain luka fisik, peristiwa ini juga menimbulkan dampak psikologis yang tidak ringan. Sebagai mahasiswi yang tengah menyelesaikan studinya, insiden tersebut berpotensi mengganggu kondisi mental dan proses akademiknya. Hingga kini, korban masih menjalani perawatan medis dan mendapat dukungan dari keluarga serta rekan-rekannya.
Kasus ini menjadi sorotan luas karena terjadi di lingkungan pendidikan yang seharusnya menjadi ruang aman bagi mahasiswa untuk belajar dan berkembang. Peristiwa tersebut sekaligus menjadi refleksi penting tentang pengelolaan emosi dalam relasi personal serta perlunya sistem keamanan kampus yang lebih ketat.
Upaya pencegahan kekerasan di lingkungan kampus dinilai perlu diperkuat, mulai dari peningkatan pengawasan, penyediaan unit penanganan kasus kekerasan, hingga edukasi mengenai relasi sehat dan manajemen konflik.Pihak kepolisian memastikan proses hukum terhadap pelaku akan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Sementara itu, penyidik masih terus mendalami motif lengkap serta kondisi psikologis pelaku dengan memeriksa sejumlah saksi. Kasus ini diharapkan menjadi momentum evaluasi bersama agar lingkungan kampus tetap menjadi ruang aman, nyaman, dan kondusif bagi seluruh mahasiswa.






