More

    Serangan Udara Israel Hantam Universitas Lebanon

    Universitas Lebanon. (Foto: minanews)

    LEBANON, KabarKampus – Kabar duka menyelimuti dunia pendidikan tinggi di Lebanon. Satu-satunya kampus negeri di negara tersebut, Universitas Lebanon (LU) yang terletak di Hadath, pinggiran selatan Beirut, menjadi sasaran serangan udara militer Israel, Kamis (12/3).

    Insiden tragis ini merenggut nyawa dua akademisi terkemuka. Berdasarkan laporan Al Awsat dan kantor berita resmi Lebanon, NNA, korban tewas diidentifikasi adalah Hussein Bazzi, Dekan/Direktur Fakultas Ilmu Pengetahuan Universitas Lebanon.

    Sementara satu lagi bernama Mortada Srour, seorang profesor di universitas tersebut. Keduanya dilaporkan gugur saat serangan menghantam gedung fakultas yang berada di kawasan padat tersebut. Meskipun pihak Israel mengklaim serangan tersebut menyasar aset-aset milik kelompok Hizbullah di distrik pemukiman dan komersial, kepulan asap terlihat jelas membubung dari area halaman kampus sesaat setelah ledakan terjadi.

    - Advertisement -

    Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menyampaikan duka mendalam sekaligus mengecam keras tindakan militer tersebut. Ia menegaskan bahwa penargetan lembaga pendidikan adalah bentuk pelanggaran berat terhadap hukum internasional.

    Aoun juga mendesak agar komunitas internasional segera mengintervensi serangan ini guna melindungi warga sipil dan menjaga eksistensi institusi pendidikan dari kehancuran konflik bersenjata. “Serangan itu babak baru dalam penargetan warga sipil, baik di desa dan kota, maupun di tempat kerja dan tempat belajar mereka,” ujar Aoun sebagaimana dikutip dari kantor berita SANA.

    Serangan terhadap Universitas Lebanon ini merupakan bagian dari gelombang serangan udara besar-besaran yang diluncurkan Israel di wilayah selatan dan timur Lebanon, termasuk pinggiran Beirut. Eskalasi ini merupakan buntut dari konflik yang memanas sejak awal Maret 2026.

    Melansir laporan Anadolu, ketegangan meningkat setelah kelompok Hizbullah mulai melancarkan serangan ke posisi militer Israel pada 2 Maret lalu. Aksi tersebut diklaim sebagai respons atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam operasi gabungan AS-Israel pada akhir Februari 2026.

    Sejak saat itu, Israel membalas dengan kampanye militer intensif, termasuk memulai operasi darat terbatas di wilayah Lebanon selatan sejak 3 Maret. Namun, hancurnya fasilitas pendidikan dan tewasnya tokoh akademisi di Universitas Lebanon kini memicu gelombang kemarahan atas keselamatan warga sipil di tengah zona perang.

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here