
BANDUNG, KabarKampus – Lebih dari 50 orang penyandang disabilitas tunanetra melakukan aksi jalan mundur dari Panti Wiyataguna, Jalan Padjajaran menuju Gedung Sate Bandung, Kamis, (31/01/2019). Aksi jalan mundur ini sebagai ungkapan protes, perubahan status Panti Sosial Wiyataguna menjadi Balai, yang dianggap merugikan penghuni panti.
Sepanjang aksi, para peserta aksi yang seluruhnya tunanetra, saling memegang bahu untuk mundur bersama hingga Gedung Sate. Dalam perjalanan yang menempuh jarak sekitar empat kilometer tersebut, mereka juga membawa spanduk yang berisi tuntutan aksi.
“Aksi jalan mundur ini menggambarkan, adanya kemunduran yakni status Panti Wiyataguna berubah menjadi balai. Dari yang sebelumnya menampung 175 orang, dikikis menjadi 50 orang,” kata Charisma Nurhakim, Koordinator Aksi.
Tak hanya itu, kata mahasiswa yang akrab disapa Aris ini, durasi pendidikan juga dipangkas dari dua tahun menjadi enam bulan. Sebelumnya juga bila sekolah formal dari Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi dilayani di sini, namun sekarang akan dihilangkan.
Bahkan, menurut Aris, penghuni panti yang menempuh pendidikan di Wiyataguna dan tidak dibiayai pemerintah, maka akan dipulangkan ke orang tuanya. Sehingga meskipun kegiatan belajar mengajar belum selesai, hak penghuni panti anak dicabut paksa.
“Kami tidak tahu harus mengadu ke siapa dan pulang ke mana. Karena mereka hanya menjamin sampai bulan Juni 2019 nanti,” ungkap Aris yang juga seorang mahasiswa tuna netra yang sedang menempuh kuliah di jurusan Pendidikan Luar Biasa Uninus Bandung ini.
Hal serupa disampaikan Elda Fahmi, penghuni Panti Wiyataguna. Ia mengaku sedih, karena merasa tidak diperhatikan Negara.
“Kami tunanetra kebanyakan dari latar belakang yang sedikit suram. Ada yang dikucilkan keluarganya. Ada yang baru penyesuaiankan diri sebagai tuna netra, ada yang depresi dan sebagainya. Namun sekarang kami juga akan diusir dari Panti Wiyataguna ini,” kata Elda.
Menurut Elda, tak cuma penghuni Panti Wiyataguna yang diusir, namun sudah ada tiga panti bina netra lainnya yang dibubarkan di Indonesia. Sudah ada satu dan dua orang yang telah dipulangkan secara paksa maupun halus.
Selain itu, tambah Elda, kemarin ada penyandang tunanetra bernama Akbar. Dia baru lulus SMA dan ingin masuk panti. Namun tidak boleh, karena Wiyataguna sekarang statusnya bukan panti, melainkan sudah menjadi balai.
“Karena sudah menjadi balai, mereka tidak menerima orang lagi tahun ini. Karena di Jawa Barat ini pendidikan mendengah untuk tunanetra tidak ada, namun langsung ke advance,” terangnya.
Aksi jalan mundur ini dimulai sekitar pukul 10.00 WIB dan tiba di Gedung Sate sekitar pukul 13.00 WIB. Jalan mundur ini berlangsung lancar hingga aksi selesai.[]






