SURABAYA, KabarKampus – Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan alat penghasil listrik dari bakteri. Bakteri tersebut mereka ambil dari limbah cair tahu skala rumah tangga.
Para mahasiswa ini adalah Valianto Rojulun Afif, Ahmad Nailul Firdaus dan Wahyu Prayuda yang merupakan mahasiswa teknik lingkungan ITS. Tim yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) ITS ini menamai alat tersebut dengan Abactor-Cells.
Valianto, Ketua Tim menjelaskan, Indonesia memiliki jumlah industri tahu yang cukup banyak. Namun sebagian besar sektor industri tahu skala rumah tangga belum memiliki unit pengolah limbah cair tahu.
“Hal tersebut disebabkan oleh sebagian besar industri tahu skala rumah tangga memiliki keterbatasan finansial dan lahan,” ujarnya seperti yang dirilis humas ITS.
Situasi ini, kata Valianto membuat mereka membuang limbah cair yang dihasilkan ke sungai tanpa pengolahan terlebih dahul. Padahal tingginya kandungan polutan organik dalam limbah cair tahu bisa mengakibatkan penurunan daya lingkungan.
Alat Abactor – Cells yang mereka garap, digarap mengadopsi prinsip kerja dari Anaerobic Baffled Reactor (ABR) dan Microbial Fuel Cells (MFCs) yang dikombinasikan menjadi satu unit pengolah. MFCs merupakan unit pengolah air limbah yang memanfaatkan bakteri untuk mengkonversi polutan organik menjadi energi listrik. MFCs dikombinasikan dengan ABR yang merupakan unit pengolah praktis dan tidak memakan biaya operasional yang tinggi.
“Sehingga alat ini cocok untuk diaplikasikan pada sektor industri tahu skala rumah tangga,” ungkap mahasiswa tingkat akhir ini.
Pemerosesan melalui Abactor-Cells ini membutuhkan waktu pemrosesan selama 12 jam. Dengan proses tersebut, mampu menghasilkan listrik sebesar 0,336 Watt.hour. Selain itu, unit ini mampu mengurangi kandungan Chemical Oxygen Demand (COD) dari 1563,86 mg/L menjadi 297,474 mg/L dengan persentase sebesar 81 persen yang setara dengan berat COD sebesar 0,055 kg.
Sedangkan, lanjutnya persentase removal untuk kandungan Biochemical Oxygen Demand (BOD) sebesar 84,4 persen dengan inlet BOD sebesar 953,74 mg/L dan outlet BOD sebesar 148,74 mg/L. Adanya penurunan nilai COD dan BOD ini menunjukkan bahwa selain menghasilkan energi listrik, Abactor-Cells dapat juga berperan untuk mengurangi pencemaran lingkungan terutama pada badan air.
Valianto mengaku mendapat inspirasi untuk menciptakan pembangkit energi dari mikroorganisme ini ketika ia pergi ke sebuah pameran buku. Ia berharap alat Abactor-Cells ini ini bisa menjadi inovasi pembangkit listrik yang bisa diaplikasikan di Indonesia.
“Khususnya di industri tahu, karena alat ini bisa menghasilkan listrik sekaligus mengolah limbah tahu,” pungkasnya.