More

    Lama di Luar Tetap Memilih Indonesia

    ABC AUSTRALIA NETWORK
    L. Sastra Wijaya

    Soegito sudah menetap di Australia sejak tahun 1979 dan sekarang tinggal di ibukota Australia Canberra, menghuryusi Balai Wisata Budaya milik KBRI. Soegito. Photo: KBRI Canberra
    Soegito sudah menetap di Australia sejak tahun 1979 dan sekarang tinggal di ibukota Australia Canberra, mengurusi Balai Wisata Budaya milik KBRI. Photo: KBRI Canberra

    Pesta demokrasi seperti pemilihan umum yang berlangsung sekali lima tahun bukan saja menjadi hak bagi warga yang tinggal di Indonesia. Banyak warga Indonesia yang sudah lama meninggalkan Indonesia, tetap mempertahankan paspor mereka, dan karenanya berhak memilih.

    ABC berbicara dengan tiga warga Indonesia di Australia, Soegito di Canberra, Tri W Mardjuki dan Yuhana Achmad di Melbourne mengenai pilihan mereka dalam pemilu, dimana pemungutan suara akan dilakukan di Melbourne hari Sabtu (5/4/2014).

    - Advertisement -

    Sudah Tujuh Kali Ikut Pemilu
    Soegito sudah menetap di Australia sejak tahun 1979 dan sekarang tinggal di ibukota Australia Canberra, menghuryusi Balai Wisata Budaya milik KBRI.

    Tetap memilih menjadi warga negara Indonesia, walau isterinya asal Belanda adalah warga negara Australia. “Setiap pemilu selalu memilih, dan pilihan saya tidak pernah berubah.” kata Soegito, yang sebelumnya pernah bekerja sebagai guru bahasa Indonesia, di beberapa kota di Australia seperti Perth, Sydney, dan Armadale.

    Apa yang diharapkanya dari pemilu 2014? “Di Indonesia sudah banyak mencapai kemajuan sejak saya meninggalkannya di tahun 1979. Namun kemakmuran belum lagi merata. Yang paling memprihatikan sekarang adalah korupsi. Sebenarnya negara kita subur makmur, dan kekayaan alam yang kita miliki cukup untuk mensejahterakan rakyat, kalaulah pemerintahan dilaksanakan dengan baik, tanpa korupsi.” katanya lagi.

    Selalu Mengikuti Perkembangan Indonesia
    Tri W Mardjuki tiba di Australia di tahun 1984 dan menetap di Melbourne sejak itu tetapi mengakui tetap mengikuti perkembangan Indonesia terus menerus.

    “Selain internet, di rumah kita juga memiliki parabola sehingga kita bisa mengikuti siaran televisi dari Indonesia 24 jam, jadi saya tahu perkembangan Indonesia.” kata ibu rumah tangga tersebut. Tri juga mengatakan tidak pernah absen memberikan suara setiap lima tahun sekali, walau pilihannya selalu berubah-ubah.

    “Saya tidak pernah golput. Saya memilih calon atau partai tertentu, namun bila kemudian lima tahun berlalu saya kecewa dengan apa yang saya pilih, ya saya milih yang lain lagi.” kata Tri.

    Korupsi diihatnya juga sebagai masalah yang paling utama dihadapi oleh Indonesia saat ini. “Masalah korupsi yang paling berat dan harus dihilangkan. Kalau bisa hilang, otomatis Indonesia akan makmur.” tambah Tri Mardjuki lagi.

    Untuk pemilu 2014 dimana yang dipilih selain partai dan juga nama caleg, Tri merasa kesulitan dengan nama-nama caleg yang tidak begitu dikenalnya.

    Memilih Sesuai dengan Perkembangan Situasi
    Juhana Achmad pindah dari Bandung ke Melbourne di tahun 1986, dan sekarang bekerja sebagai pastry chef (juru masak di bidang pembuatan kue-kue) di daerah Collingwood. Sama seperti Soegito dan Tri Mardjuki, Juhana juga selalu menggunakan hak demokrasinya dengan memberikan suara setiap pemilu diselenggarakan. Pilihannya juga selalu berubah sesuai dengan kondisi yang dilihatnya ketika pemilu berlangsung. Informasi mengenai keadaan politik Indonesia didapatnya dari internet dan juga saluran televisi melalui jaringan kabel di rumah.

    Mengapa ketiga warga Indonesia yang sudah lama tinggal di Australia ini masih mempertahankan paspor Indonesia mereka? “Jelek-jelek masih kampung sendiri.” kata Yuhana Achmad. “Sebenarnya tidak banyak bedanya antara menjadi permanent resident (penduduk tetap) dengan tetap memegang paspor Indonesia, dengan warga negara Australia.” tambah Yuhana.

    Menurut Tri Mardjuki, dia mempertahankan paspor Indonesia karena di satu saat nanti ketika pensiun masih berkeinginan menghabiskan waktu di Indonesia. “Ya mungkin tidak selamanya. Misalnya setengah tahun tinggal di Indonesia, setengah tahun tinggal di sini. Lagipula bedanya dengan warga negara Australia, cuma kita tidak bisa memilih saja.” kata Tri Mardjuki.

    Bagi Soegito, karena keluarganya masih banyak di Indonesia membuatnya terus mempertahankan kewarganegaraannya. “Kan mudah kalau sewaktu-waktu harus berkunjung lama ke Indonesia.” kata Soegito yang sudah tinggal di Australia selama 35 tahun tersebut. []

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here