ABC AUSTRALIA NETWORK
Pemilihan Umum di Indonesia akan diselenggarakan hari Rabu, 9 April di seluruh wilayah Indonesia. Bagi pemilih di luar negeri, proses pemungutan suara disesuaikan dengan kondisi setempat dan di Australia diselenggarakan hari Sabtu dan Minggu (5-6 April) 2014.

ABC menanyai beberapa sejumlah warga Indonesia yang tinggal di Melbourne.
1. Wajah Baru
Dua kata yang terlintas di benak Eugene Ezra mendengar Pemilu 2014 adalah “wajah baru”. Dengan pemilihan umum, terutama tahun ini dipastikan akan ada presiden baru, siapa pun pemenangnya. “Artinya akan ada wajah baru di dinding sekolah-sekolah,” ujar Ezra saat ditemui di pusat kota Melbourne. Mahasiswa jurusan advertising dari Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT) ini juga sangat antusias menyongsong masa depan baru. “Tidak hanya wajah baru, tapi ini juga merupakan awal baru dari kepemimpinan yang baru juga.”
2. Demokrasi
Alexander Zulkarnain sehari-hari adalah akuntan dan sudah bermukim di Melbourne sejak tahun 1994.”Banyak negara lain yang rakyatnya tidak dapat memilih pemimpin. Indonesia beruntung, rakyatnya dapat memilih pemimpin dan wakil-wakilnya di DPR,” kata Alexander.
“Ini merupakan suatu kehormatan karena tidak semua negara bisa seperti itu. Bahkan negara tetangga Singapura dan Malaysia, masih berlaku demokrasi semu meskipun katanya demokrasi, tapi tidak efektif. Meskipun ada pemilu di sana, tapi yang terpilih orang-orang yang sama,” kata Alexander lagi.
3. Berharap Indonesia Lebih Baik
Lies Pangestu, seorang ibu rumah tangga sudah tinggal di Melbourne lebih dari 20 tahun. Dia berharap Indonesia akan lebih baik lagi setelah pemilu dilaksanakan. Walau tinggal di luar negeri, Lies selalu memberikan suara di setiap pemilu namun mengatakan bahwa untuk pemilihan legislatif, dia sebenarnya tidak begitu tertarik dengan banyaknya partai dan calon yang bisa dipilih. Dalam memilih, Lies akhirnya memutuskan melihat calonnya langsung, dan bukan partai yang diwakili calon tersebut.
4. Masa Depan
Ricky Setiadi akan mengikuti pemilihan umum untuk pertama kalinya di tahun 2014 ini. Satu kata saja yang menjadi perhatian Ricky soal pemilu, yakni ‘future’ atau masa depan. Pemilihan umum di Indonesia yang dilakukan lima tahun sekali, menurut Ricky, artinya ada harapan baru.
“Pemilu artinya memilih pemimpin baru untuk lima tahun ke depan. Berarti ada masa depan yang baru dengan harapan baru,” ujar Ricky yang kuliah di Royal Melbourne Institute of Technology (RMIT), jurusan nutrisi makanan. Harapan baru yang dinginkan oleh Ricky tentu saja masa depan yang lebih baik bagi Indonesia.
5. Pemerintahan yang Lebih Baik
Shirley Hadisaputra adalah Ketua BKS (Badan Kerjasama Umat Kristen di Melbourne). Tinggal di Melbourne sejak 2000. Shirley ingin pemilu bisa menghasilkan orang-orang yang mampu membuat Indonesia lebih baik lagi dalam segala bidang.
Shirley juga mengharapkan pemerintahan yang jujur, bersih dari korupsi, yang memikirkan keadaan rakyat, terutama kesejahteraan sosialnya, menaikkan income per kapita dan mempersempit jurang antara kaya dan miskin. Shirley berpendapat reputasi Indonesia sejak peristiwa 1998 telah tercoreng, dan berharap ini bisa dipulihkan kembali.
6. Tempat Pemungutan Suara
Karensa Stama, ibu dua anak ini bekerja sebagai social worker di Melbourne. Mengapa yang pertama terlintas kata TPS, karena sewaktu dia masih kecil, dia melihat orang tuanya, ketika mengikuti pemilu, masuk ke ruangan TPS, dan penasaran ada apa di ruangan TPS tersebut. Dan ketika sudah waktunya memberikan suara sendiri, dia pun tahu fungsi TPS tersebut dan apa yang harus dia lakukan. Bagaimana cara memberikan suara tersebut.
7. Jujur dan Bersih
Utanto Pikmawan asisten manajer perusahaan pemrosesan makanan. Photo: Sastra Wijaya
Utanto Pikmawan sudah tinggal di Melbourne sejak tahun 1986, namun asisten manajer sebuah perusahaan pemrosesan makanan ini selalu mengikuti perkembangan politik Indonesia, dan tidak pernah lupa memilih tiap pemilu. “Pemimpin dan warga harus jujur mengikuti hati nurani dalam memilih, bukan karena kepentingan lain. Bersih dari juga kepentingan agama, suku dan lainnya juga menjadi dasar bagi mereka yang terjun di politik,” kata Utanto mengenai pemilihan legislatif Indonesia, 9 April mendatang.






