More

    Momentum Kebebasan Pers Internasional, Mahasiswa Tidak Perlu Takut Berekspresi

    Mega Dwi Anggraeni

    Adi Marsiela, Ketua Aliansi Jurnalis Independen Kota Bandung berorasi pada peringatan Hari Kebebasan Pers Internasional di depan Gedung Sate, Bandung, Sabtu (03/05/2014). FOTO : MEGHA DWI ANGGRAENI
    Adi Marsiela, Ketua Aliansi Jurnalis Independen Kota Bandung berorasi pada peringatan Hari Kebebasan Pers Internasional di depan Gedung Sate, Bandung, Sabtu (03/05/2014). FOTO : AJI Bandung

    BANDUNG, KabarKampus-Ada yang berbeda dengan peringatan Hari Kebebasan Pers Internasional di Bandung. Selain menyerukan penuntasan kasus pembunuhan jurnalis Udin, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung juga menyerukan kebebasan berekspresi di kalangan mahasiswa.

    Adi Marsiela, Ketua AJI Bandung mengatakan, dalam momentum Hari Kebebasan Pers Internasional kali ini pihaknya ingin membangun kesadaran pentingnya kebebasan berekspresi dan berbicara di kampus.

    - Advertisement -

    Kebebasan tersebut menurut Adi mampu meningkatkan intelektualitas mahasiswa.

    “Kebebasan berbicara dan berekspresi harus dibangun sejak dini. Ini mungkin telat untuk para mahasiswa, tapi kalau mereka tumpul mau seperti apa kehidupan dialektika di kampus yang mampu menumbuhkan intelektualitas,” kata Adi kepada Kabar Kampus usai memperingati Hari Kebebasan Pers Internasional bersama puluhan jurnalis di depan Gedung Sate, Bandung, Sabtu lalu (03/05/2014).

    Ia pun menyayangkan pembungkaman ekspresi mahasiswa yang terjadi akhir-akhir ini. Untuk itu pihak birokrasi kampus pun harus bijak menyikapi kegelisahan mahasiswa. Menurut Adi, kasus-kasus pembungkaman berekspresi membuat mahasiswa menjadi tertekan.

    Ada kesan, mahasiswa takut menyampaikan pendapat dan kritik terhadap berbagai persoalan kampus.

    “Kehidupan akademik sepertinya membuat mereka merasa tertekan, ketika mereka merasa tertekan dan diam makan kehidupan kampus menjadi sangat tidak sehat,” ujarnya.

    Meskipun begitu, Adi berharap mahasiswa bisa melawan pembungkaman tersebut dan terus menyuarakan aspirasinya tanpa perlu takut dengan adanya intervensi dari pihak universitas apalagi pihak-pihak dari luar kampus.

    “Mahasiswa harus tetap berani berpendapat. Lembaga mahasiswa harus bersatu karena aspirasi itu untuk semua mahasiswa. Sejak kapan menyampaikan aspirasi itu menjadi sebuah tabu? UUD 1945 telah menjamin itu.”

    Berdasarkan pengamatan KabarKampus telah terjadi pembungkaman berekspresi dan berpendapat di sejumlah kampus di Bandung. Salah satu contohnya adalah kasus demonstrasi yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa Universitas Pendidikan (UPI) Bandung ketika meminta penjelasan mengenai UKT.

    Dalam aksi demonstrasi tersebut, beberapa mahasiswa digiring meninggalkan aksi oleh para senior saat menyuarakan tingginya biaya UKT di kampus UPI Bandung.

    Kasus lain yang cukup menarik adalah kasus update status di situs jejaring sosial yang akhirnya menyebabkan mahasiswa FIKOM Unisba tidak bisa mengikuti salah satu mata kuliah.

    Dalam peringatan Hari Kebebasan Pers Internasional yang diperingati setiap tanggal 3 Mei, AJI Bandung menyerukan penuntasan kasus pembunuhan jurnalis, tolak impunitas terhadap wartawan dan tolak amplop.

    “Kami juga menyerukan kepada pemilik media agar tidak menjadi corong pengusaha dan penguasa,” kata Adi Marsiela. []

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here