Frino Bariarcianur

BANDUNG, KabarKampus-Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh aktivis Kaukus Pergerakan Jawa Barat – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (KPJ – PMII) di dekat kantor Komisi Pemilihan Umum Jawa Barat (KPU Jabar), berakhir bentrok, Bandung, Sabtu (03/05/2014). Sembilan orang dilarikan ke RS. Muhamadiyah kota Bandung.
Aktivis yang menjadi korban dalam bentrok tersebut adalah Asep Abdurahman, Apendi, Acil Sopandi, Nidom Fikri, Feny, Ibnu, Bayu, Usep dan Adri
“Akibat bentrok itu, kawan kami, Nidom Fikri mengalami cedera di bagian bahu. Ia diinjak salah satu anggota polisi. Nidom Fikri mengalami pergeseran tulang bahu dan dirujuk ke RS Sartika Asih,” kata Ateng koordinasi aksi yang masih mendampingi korban di RS. Muhammadiyah.
Selain Nidom Fikri, korban lain bernama Acil Sopandi harus menerima 12 jahitan di bagian kepala. Sementara yang lain diperbolehkan pulang.
Kepada Kabarkampus Ateng menceritakan kronologis saat bentrokan. “Kami datang sekitar pukul 10.00 WIB dan berorasi untuk mendesak KPU menghentikan sidang pleno,” kata Ateng.
Aksi demonstrasi KPJ-PMII merupakan lanjutan dari aksi mereka sebelumnya di depan Gedung Sate pada hari Selasa (29/04/2014). Mereka menilai KPU Jabar telah melakukan manipulasi data. Dengan demikian penyelenggaraan Pemilihan Legislatif 2014 inkonstitusional.
Pada waktu itu aksi berjalan damai dengan pengawalan pihak kepolisian. Mereka juga mendatangi kantor KPU Jabar untuk menyampaikan aspirasi.
Bila aksi demonstrasi sebelumnya hanya 50 orang kali ini jumlahnya cukup banyak. Sekira 100 orang. Mereka juga membawa mobil yang dilengkapi dengan pengeras suara. “Kami didukung oleh mahasiswa lain,” ungkap Ateng.
Aksi demonstrasi berlangsung di depan jalan Garut, sekitar 300 meter dari kantor KPU Jabar. Sepanjang penyelenggaraan Pemilu di Jabar, tidak ada satu kelompok pun yang bisa menembus pengamanan pihak kepolisian. Aksi demonstrasi selalu ditahan di pertigaan Jalan Laswi dan Jalan Garut. Pengamanan Pemilu memang ketat.
Selang beberapa waktu terjadi dorong-dorongan antara massa aksi dan aparat kepolisian. Satu orang aktivis terkenal pukulan yang mengakibatkan bibirnya terluka. Situasi sempat memanas namun kembali kondusif.
“Kami kembali berorasi,” kata Ateng.
Di ruangan KPU Jabar pleno masih berlangsung alot. Hari ini pihak KPU Jabar akan memutuskan hasil penghitungan suara yang semula ditolak dalam rapat pleno KPU Pusat. Penolakan KPU Pusat terhadap laporan KPU Jabar dikarenakan data tidak sinkron. Sehingga KPU Jabar harus melakukan koreksi. Dalam rapat pleno yang digelar sejak pagi, saksi dari sejumlah partai politik juga turut hadir.
Sementara di luar ruangan massa aksi masih berorasi. Kembali terjadi dorong-dorongan. “Saya memerintahkan kawan-kawan untuk mundur,” kata Ateng.
Tetapi menurut Ateng, pihak kepolisian menembakkan watercanon. Tidak hanya itu pihak kepolisian juga memukuli massa aksi.
“Seharusnya ketika kami mundur, pihak kepolisian tidak lagi menghantam massa aksi.”
Tidak hanya massa aksi, 4 anggota kepolisian pun mengalami luka-luka. Bertepatan dengan waktu itu, pihak KPU Jabar memutuskan sidang pleno diskorsing untuk istirahat. []






