Radio Australia Network
Di saat tanaman menyerap kotoran cair, dan tumbuh berkembang, mereka menyerap lebih banyak karbon, mengubah lautan menjadi penyerap karbon yang besar.
Profesor Stephen Nicol dari University of Tasmania adalah salah seorang dari sepuluh ilmuwan yang terlibat dalam laporan baru yang dimotori oleh University of Vermont di Amerika Serikat.
Dikatakannya, kotoran ikan paus itu telah ada untuk waktu yang lama, tapi orang tidak tahu apa yang harus dilakukan tentang hal itu.
“Kelompok kami di Hobart melihat berapa banyak zat besi ada dalam kotoran ikan paus. Zat besi ini penting, karena tidak banyak di Samudra Selatan,” katanya.
Profesor Nicol mengatakan, paus menelan krill yang memiliki konsentrasi zat besi 10 juta kali lebih tinggi dari zat besi yang ditemukan di air laut.
“Ikan paus memakan krill, dan mengubahnya menjadi zat besi cair, dan itu keluar kembali sebagai pupuk cair.”
Studi menemukan, gerakan ikan paus melalui air dapat menyebarkan makanan ke berbagai daerah. Tanpa gerakan hewan itu, makanan tidak akan sampai ke sana, dan bangkai membusuk memberi nutrisi kepada makhluk yang hidup di dasar laut.
Jumlah ikan paus besar telah menurun drastis dalam seabad terakhir. Perburuan luas membuat jumlah ikan paus biru berkurang menjadi satu persen dari jumlah yang ada sebelumnya. Sirip ikan paus biru juga jadi incaran.
Dikatakan oleh Prof Nicol, ekosistem yang stabil merupakan salah satu di mana kita memiliki semua tingkat keanekaragaman kejadian berlangsungnya evolusi mereka.[]







