More

    Buku Koleksi Perpustakaan Universitas Teknologi Sydney Dikelola Enam Robot

    Photo: Handrail besi keemasan di sepanjang balkon di Mortlock Wing, SA State Library.
    Photo: Handrail besi keemasan di sepanjang balkon di Mortlock Wing, SA State Library.

    Jika biasanya pengelolaan buku-buku di perpustakaan dikendalikan oleh para pustakawan, maka perpustakaan milik Universitas Teknologi di Sydney mengandalkan tenaga robot untuk mengelola ribuan buku koleksi mereka yang disimpan diruang bawah tanah menggantikan rak-rak  yang kerap membuat buku berdebu.

    Perpustakaan Universitas Teknologi (UTS) di Ultimo telah memindahkan 325,000 buku koleksi perpustakaan itu kedalam 12 ribu kotak besi yang ditempatkan di ruang penyimpanan bawah tanah.

    - Advertisement -

    Namun ruang penyimpanan koleksi buku bawah tanah itu tidak lagi dipelihara para pustakawan melainkan oleh enam robot derek.

    Sebelum dipindahkan ke ruang bawah tanah, buku-buku itu lebih dahulu dibersihkan dan diberikan tag menggunakan gelombang radio.

    Para mahasiswa bisa mencari buku yang mereka perlukan secara online dan siapa saja yang menghendaki pelayanan konfensional, pengelola perpustakaan menyediakan pilihan “tampilan rak” yang memungkinkan pengguna untuk membaca dengan teliti buku itu karena mereka akan dimuncul di rak.

    Ketika mahasiswa sudah melakukan pemesanan buku secara online, maka robot akan membaca label yang tertera dan mengambil item itu dari ruang penyimpanan yang berjumlah lima tingkat.

    Pustakawan dari Universitas Teknologi Sydney, Mal Booth mengatakan teknologi ini memungkinkan tersedianya ruang yang lebih banyak bagi buku populer yang  sering kali digunakan atau dipinjam.

    “Kami menyeleksi buku-buku yang kurang sering digunakan meskipun mereka bisa saja dikembalikan dengan segera dan kami meletakannya disini,” katanya.

    “Kemudian ruang penyimpanan itu bisa digunakan untuk kepentingan lain oleh perpustakaan,” katanya.

    “Dengan cara itu perpustakaan tidak perlu  memiliki rak buku yang tinggi sehingga tidak bisa digapai orang – terutama kaum difabel,”

    Sejak sistem ini diperkenalkan Juli lalu, jumlah pengunjung tetap.

    Manajer pelayanan perpustakaan Universitas Teknologi, Sharlene Scobie, mengatakan meski ada enam robot yang membantu mengambilkan buku dari ruang penyimpanan, namun buku itu tetap diberikan kepada pengguna dengan cara tradisional yakni oleh para pustakawan yang membawa buku itu dengan kereta dorong.

    “Ada sekitar 600 buku yang diminta pengguna, kita memang tidak perlu lagi merawat buku-buku itu, tapi kami tetap menyerahkan buku tersebut kepada mereka,” katanya.

    Tiru teknologi penyimpanan suku cadang di bandara

    Tercatat ada dua perpustakaan di Australia yang menggunakan robot untuk mengurus buku-buku koleksi mereka, satunya lagi adalah Perpustakaan Universitas Macquarie di Sydney.

    Namun teknologi penyimpanan di UTS lebih unik, karena sepenuhnya berada di bawah tanah dan menggunakan tag gelombang radio diseluruh koleksinya.

    Proyek ini mencontoh teknologi yang umum digunakan dalam transportasi dan logistik.

    “Teknologi ini digunakan untuk menyediakan suku cadang pesawat ketika diperlukan dengan cepat,” kata Booth menjelaskan.

    “Woolworths dan Coca-Cola Amatil juga memiliki fasilitas penyimpanan dengan teknologi serupa.

    Sistem penyimpanan bawah tanah seperti ini ama digunakan di perpustakaan Eropa, dimana ruangan sangat penting, namun mereka  masih dioperasikan secara manual dan sangat lamban kerjanya.

    Universitas Teknologi mengelontorkan uang senilai $28.5 juta atau sekitar Rp300 miliar untuk membangun fasilitas yang diberinama – Sistem Pengembalian Perpustakaan.

    Meski sudah ada tenaga robot untuk mengurus buku-buku koleksi mereka, namun menurut pengelola perpustakaan UTS masih ada jutaan buku koleksi  perpustakaan di kedua universitas di Sydey yang sampai saat ini masih dipajang di rak-rak buku di perpustakaan itu.

    Mereka juga mengaku kehadiran teknologi buku elektronik yang semakin populer dikalangan mahasiswa bukan ancaman bagi keberadaan perpustakaan. karena banyak mahasiswa seni dan arsitektur misalnya yang lebih memilih membaca dari buku secara langsung, lantaran hanya 9 persen buku-buku pelajaran mereka saja yang teksnya sudah dipindahkan menjadi edisi online.

    Selain itu ada juga beberapa koleksi perpustakaan yang tidak akan mungkin tersedia dalam bentuk online di internet, yakni seperti jurnal kuno, peta, mikro film dan koleksi seperti surat kabar.

    “Ada banyak koleksi perpustakaan yang masih belum didigitaliasasi sehingga kita masih harus melihat secara langsung,” tuturnya.

     

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here