More

    Suara Mahasiswa Tak Terdengar di Pilpres 2019

    Diskusi “Jalan Panas Politik Mahasiswa di Pilpres 2019” di UIN Bandung, Kamis, (22/03/2019). Dok. Fauzan

    BANDUNG, KabarKampus –  Menjelang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019, suara mahasiswa tak terdengar diantara perhelatan pesta demokrasi lima tahunan tersebut. Padahal suara mahasiswa diharapkan menjadi poros ketiga alias bisa memberikan kritik pada konstestasi antara Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo Sandi itu.

    Hal ini diungkapkan Deni Ahmad Haidar, Ketu PW GP Ansor Jawa Barat, dalam diskusi, “Jalan Panas Politik Mahasiswa di Pilpres 2019” di Aula Student Centre UIN Bandung, Kamis, (21/03/2019). Kegiatan ini digelar oleh Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman UIN Bandung.

    Deni melihat dalam proses Pemilu 2019, wacana yang muncul adalah masing-masing pendukung menuhankan atau memuja tokoh pujaannya. Bahkan diramaikan dengan suasana kebencian. Sementara mahasiswa tidak mampu mengartikulasi dirinya sebagai penyeimbang diantara para pemuja tersebut.

    - Advertisement -

    “Pikiran-pikiran alternatif teman-teman mahasiswa di medsos tidak ketemu. Bahkan sekedar sayup-sayupnya pun tak ada. Di jalanan juga sepi, lebih banyak pamplet atau selebaran yang isinya ajakan untuk memilih salah satu calon,” kata Deni.

    Bagi Deni, bila ruang publik hanya diisi oleh pendukung kedua Capres-Cawapres, maka yang dibicarakan adalah bagaimana calonnya  harus menang dan bagaimana dirinya menjadi bagian dari kemenangan itu. Bukan membicarakan negeri ini agar lebih baik.

    Zona Nyaman Mahasiswa?

    Dari banyaknya mobil dan motor di parkiran kampus saat ini, Deni menduga mahasiswa sudah nyaman dengan dirinya sendiri. Mereka merasa dirinya sudah sejahtera. Sehingga mahasiswa tidak lagi merasa perlu memperjuangkan apapun.

    “Atau mahasiswa anggap demokrasi saat ini baik-baik saja. Begitu juga dengan penyelengaraan pemilu yang mereka anggap sudah keren, sempurna seperti malaikat,” ungkapnya.

    Bagi Deni, sejarah Indonesia ada pada generasi muda. Mahasiswa adalah pelopor utama reformasi.

    “Bila mahasiswa tidak menjaga reformasi, lantas kepada siapa masyarakat bisa berharap? Pada Tentara?” tutup Deni.

    Selain Deni diskusi ini juga dihadiri oleh Bilven Sandalista, Pegiat Literasi dan Penerbit Ultimus Bandung, dan Ina Wiyadiri, Gerakan Muslimat Indonesia Jawa Barat.[]

     

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here