
BANDUNG, KabarKampus – Pemuda dan warga Bandung yang mengatasnamakan Rakyat Golput menggelar Panggung Golput di kawasan reruntuhan rumah warga Taman Sari, Bandung, Sabtu malam, (13/04/2019). Di kawasan rumah yang telah digusur tersebut mereka berorasi secara bergantian, sekaligus mendeklarasikan diri Golput.
Ada lebih dari 20 perwakilan komunitas dan kelompok yang menaiki panggung Golput tersebut. Mereka diantaranya warga Taman Sari Bandung, Aliansi Rakyat Anti Penggusuran, Kolektif Angin Malam, Kolektifa, Sebumi-KASBI, , Kamisan Bandung,serta Aliansi Mahasiswa Papua.
Feru Jaya Wardani, inisiator Panggung Golput mengatakan, Panggung Golput merupakan tolak ukur, demokrasi hari ini tidak sedang baik-baik saja. Mulai dari demokrasi yang dikepung para oligarki, hingga pelanggar HAM yang berada di kedua kubu Calon Presiden di Pemilu 2019.
“Makanya adanya Panggung Golput ini sebagai tindakan nyata mengoreksi demokrasi,” terang Feru yang merupakan mahasiswa UIN Bandung ini.
Untuk kasus pelanggaran HAM, menurut Feru, hingga hari ini tidak kunjung tuntas. Seperti kasus Munir, Tragedi Trisakit, Tragedi Semanggi, kasus Talang Sari, Tanjung Priok, dan sebagainya. Belum lagi, mereka yang mendapat refresi dari aparat dan masyarakat yang digusur oleh negara.
“Sementara bagi keluarga korban pelanggaran HAM, tidak ada yang namanya luka lima tahun sekali,” ungkapnya.
Sehingga bagi Feru, Pemilu tidak benar-benar menyelamatkan mereka dari penindasan, kemiskinan, dan kapitaslime. Untuk itu, baginya, rakyat perlu menyatakan sikap.
Semnetara itu Eva Eyanti, warga korban penggusuran Taman Sari mengatakan, penggusuran yang mereka alami sudah jelas menunjukkan negara tidak berpihak kepada rakyat kecil. Program yang katanya dibuat untuk kaum yang lemah juga tidak dilaksanakan.
“Jadi lihatlah kami rakyat kecil yang akhirnya digusur,” kata Eva.
Sehingga, lanjut Eva, tidak ada jaminan, ketika mereka memilih dalam Pemilu 2019 tidak ada penggusuran lagi. Selain itu tidak mungkin juga, mereka memilih diantara yang terburuk.
“Saya mewakili masyarakat tergusur menyatakan diri Golput,” tegas Eva.
Selain di Bandung, Panggung Golput digelar juga di Malang, Yogyakarta, dan Jakarta. Untuk Bandung, acara tetap berlanjut meskipun diguyur hujan.[]






