More

    Manfaatkan Perangkat Google Untuk Cegah Kabar Bohong di Media

    Kegiatan pelatihan Cek Fakta Google News Lab di Sekretariat AJI BAndung, Sabtu, (23/11/2019). Dok. Fauzan

    BANDUNG, KabarKampus.com – Sebanyak 13 jurnalis dari berbagai media mengikuti pelatihan Cek Fakta di Sekretariat AJI Bandung, Sabtu (23/11/2019). Dalam kegiatan yang digelar AJI Bandung bersama Google News Lab ini para jurnalis mendapat materi seputar perangkat google untuk memverifikasi informasi di internet.

    Pelatihan cek fakta ini dibimbing oleh dua mentor Google News Inisiative, yaitu Adi Marsiela dan Dian Wahyu. Selama kurang lebih tujuh jam, kedua mengajak seluruh peserta melakukan cek fakta dengan menggunakan beberapa alat dari Google. 

    Abdul Manan, Ketua Umum AJI Indonesia menjelaskan, kegiatan ini dilatarbelakangi fenomena cepatnya penyebaran informasi di era digital, terutama melalui media sosial. Muatan dari informasi itu beragam, mulai dari informasi yang bermanfaat dan dibutuhkan publik hingga informasi palsu (hoaks), disinformasi, atau kabar bohong.

    - Advertisement -

    Menurut Manan, penyebaran informasi palsu berupa teks, foto hingga video itu memiliki tujuan beragam. Ada yang sekedar untuk lelucon, tapi ada juga yang mengandung kepentingan politik atau ekonomi. 

    “Yang merisaukan, hoaks ini menyebar sangat mudah cepat di sosial media. Tidak sedikit publik yang serta merta mempercayainya,” kata Manan di Jakarta, Sabtu (23/11/2019). 

    Sementara itu Mega Dwi Anggraeni menambahkan, penyebaran berita palsu bukan hanya publik yang mempercayai dan menyebarluaskannya, terkadang, media pun turut mendistribusikannya. Hal ini terjadi karena berbagai faktor, diantaranya ketidaktahuan, sekadar ingin menyampaikan ‘informasi’ secara cepat, atau sengaja untuk tujuan-tujuan tertentu. 

    Penyebabnya, lanjut Mega, dipicu diantaranya oleh kurangnya pemahaman dan pengetahuan tentang apa itu informasi palsu dan bagaimana cara mendeteksinya. Sehingga materi yang diberikan dalam pelatihan ini meliputi teknik mendeteksi informasi palsu, selain bagaimana berselancar di dunia digital yang sehat dan aman.

    “Salah satu tujuan praktis dari kegiatan ini adalah agar media dapat melakukan verifikasi sendiri terhadap informasi yang beredar di dunia digital, khususnya media sosial,” kata Mega.

    Selain di Bandung, kegiatan juga dilakukan secara serentak di 22 kota lain di Indonesia. Seperti Gorontalo (Gorontalo), Palu (Sulawesi Tengah), Mamuju (Sulawesi Barat), Bulukumba (Sulawesi Selatan), Jakarta (Jakarta), Surakarta (Jawa Tengah), Banjarbaru (Kalimantan Selatan), Pontianak (Kalimantan Barat), Malang, Kediri (Jawa Timur),  Yogyakarta, Tanjungpinang, Banda Aceh (Aceh), Ambon (Maluku), Padang (Sumatera Barat), Kotamobagu (Sulawesi Utara), Bima, Mataram (Nusa Tenggara Barat), dan Denpasar (Bali).[]  

    Supaya jurnalis lebih memperhatikan berita yang akan disampaikan kepad masyarakat. Sehingga berita yang disampaikan terverifikasi secara benar.

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here