
BANDUNG, KabarKampus – Sebanyak delapan mahasiswa membacakan kembali dokumen TPF (Tim Pencari Fakta) Munir di reruntuhan RW 11, Taman Sari Bandung, Rabu malam, (20/11/2019). Pembacaan TPF ini sebagai upaya menggemakan perjuangan Munir dalam membela Hak Asasi Manusia (HAM), sekaligus mengingat kembali 15 tahun terbunuhnya Munir yang kasusnya hingga kini belum terungkap.
Para mahasiswa yang membacakan TPF ini adalah Khaeril Fahri, Penti Aprianti, Geraldi Renaldi, Hasna Syakira, Kevin Ghiffari, Revi Nurmaola, Kelana Wisnu, dan Siti Rukoyah. Mereka membacakannya di hadapan lebih dari 100 anak muda Bandung yang memenuhi reruntuhan RW 11 Taman Sari.
Penti, salah satu panitia kegiatan mengatakan, sejak terbunuhnya Munir Said Thalif secara berencana 15 tahun lalu, hingga kini kasusnya belum terungkap seutuhnya. Upaya pencarian kebenaran melalui pencarian fakta secara independen oleh TPF pada tahun 2004 lalu juga belum lengkap.
Belum lengkap ini, kata Penti, karena belum diumumkannya dokumen TPF atas terbunuhnya Munir oleh pemerintah, seperti diatur dalam Pasal 9 Keppres 111/2004. Padahal pengungkapan kebenaran dan penegakan hukum yang independen dan berkeadilan merupakan syarat mutlak untuk mencegah kejadian serupa di masa mendatang.
Oleh karena itu, mereka Solidaritas Bersama di Bandung ingin mengajak publik untuk mengingat perjuangan Munir dalam memperjuangkan HAM. Hal ini juga sekaligus untuk memelihara ingatan kolektif dan mewariskannya dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
“Ingatan kolektif inilah yang diharapkan akan membuat suara-suara Munir, suara tentang kebenaran dan keadilan terus bergema dan diperjuangkan,” terang Penti.
Selanjutnya, untuk Bandung sendiri, menurut Penti, membaca Munir juga menjadi penting untuk mereka belajar melipatgandakan semangat, berjejaring dan meningkatkan solidaritas. Karena di Bandung dan Jawa Barat memiliki sederet masalah, mulai dari pembungkaman kebebasan berekspresi, HAM, dan penggusuran yang terjadi di mana-mana.
Kegiatan ini selenggarakan Aksi Kamisan Bandung bersama Taman Sari Melawan. Didukung juga oleh PBHI, Martiva KontraS, dan solidaritas kolektif lainnya. Selain membacakan TPF Munir, digelar juga diskusi yang menghadirkan Yati Andriyani (KontraS), Suciwati Munir (Omah Munir), Fariz Lazuardi (Aksi Kamisan Bandung), dan Deti Sopandi (PBHI Bandung).






