
BANDUNG, KabarKampus – Dosen Universitas Indonesia (UI) meresmikan “Museum Sanghyang Dedari Giri Amertha”. Pendirian museum untuk mencegah punahnya tradisi ritual tarian panen di wilayah Bali.
Para dosen yang menggagas museum adalah Tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya
Universitas Indonesia (FIB UI). Mereka terdiri dari Dosen Filsafat FIB UI
Dr. LG Saraswati Putri dan Dosen Arkeologi FIB UI Dr. Ali Akbar, S.S.,
M.Hum berkolaborasi dengan Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat UI (DRPM UI). Dalam membangun museum ini, mereka juga menggandeng Masyarakat Adat Geriana Kauh.
Museum Sanghyang Dedari Giri Amertha diresmikan pada di Desa Adat Geriana Kauh, Karangasem, Bali, Selasa, (12/11/2019). Peresmian dihadiri oleh Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumantri ; Kasubdit Riset RPM UI Dede Djuhana ; Dekan FIB UI Adrianus L.G Woworuntu, serta Ketua Desa Adat Nyoman Subratha.
Museum dengan luas bangunan berkisar 100 meter persegi ini berdiri di
tengah Desa Adat Geriana Kauh yang asri, hijau dan sarat akan budaya.
Desa setempat dikenal sebagai desa dengan sawah padi organik yang
memiliki daya tarik wisatawan. Museum tersebut akan menjadi pusat
dokumentasi Tari Sang Hyang Dedari baik itu foto, tulisan, maupun
tayangan audio visual serta lontar berisi nyanyian Tari Sang Hyang
Dedari.
Pendirian Museum telah dimulai pada 30 Oktober 2016 dan fisik
museum telah tuntas diselesaikan pada akhir November 2018. Pengerjaan
Museum sempat terhenti akibat diterpa bencana meletusnya Gunung Agung pada September 2017. Namun, bangunan tetap berdiri kokoh dan penataan interior serta diorama yang menampilkan Tarian Sang Hyang Dedari dan kebudayaan lainnya tetap dilanjutkan.
Tari Sang Hyang Dedari merupakan tarian sakral yang telah ditetapkan
oleh Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Ilmu
Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia. Saat ini, Desa Adat Geriana Kauh menjadi satu-satunya Desa di Bali yang secara konsisten menjalankan praktik ritual Tari menyambut
panen “Tari Hyang Dedari”. Tarian ini melibatkan anak-anak perempuan
sebagai penari, komunitas penyanyi gending, dan seluruh masyarakat desa
untuk mempersiapkan ritual persembahan lainnya.
“Di tengah dinamika globalisasi yang menjadikan sebagian wajah Bali sebagai Kota Metropolitan, kami memiliki kekhawatiran bahwa Tarian Sang Hyang Dedari akan terancam punah.” Ujar Saraswati.
Saraswati dan tim telah terjun langsung ke Desa Adat tersebut sejak
tahun 2016, untuk memahami, berafeksi dan berinteraksi dengan masyarakat setempat. Saraswati menambahkan, mereka melihat bahwa masyarakat Desa Adat Geriana Kauh menyadari akan pentingnya melestarikan warisan budaya leluhur.
“Untuk itu, kami menggagas pendirian museum ini sehingga dapat menopang keberadaan Tari Sang Hyang Dedari,” ungkapnya.
Usai peluncuran, museum yang didirikan ini akan diserahkan kepada masyarakat. Sehingga bangunan akan menjadi milik komunitas yang nantinya akan dijalankan untuk kepentingan warga desa.
“Kami mengarahkan warga adat setempat untuk dapat mempertahankan tradisi mereka sehingga ke depannya diharapkan Desa Adat Geriana Kauh dapat menjadi pusat ekowisata desa,” tambah Saraswati.
Tidak sebatas membangun dan mengisi Museum, Tim Pengmas FIB UI juga
turut meningkatkan kapasitas masyarakat dengan memberikan edukasi
pengelolaan Museum sehingga masyarakat setempat dapat menjalankan
operasional muesum secara swadaya dan profesional. Selain itu, Tim
Pengmas juga membagikan ilmu mitigasi bencana. Pengetahuan ini menjadi sangat krusial mengingat Desa Adat Geriana Kauh berlokasi di kawasan rawan bencana, khususnya dari ancaman lahar serta awan panas letusan api Gunung Agung.[]






