
Generasi yang berbeda memiliki karakteristik, nilai, dan pengalaman hidup yang unik. Perbedaan ini juga tercermin dalam cara mereka berorganisasi, terutama dalam konteks kehidupan mahasiswa. Mari kita bahas lebih dalam tentang perbedaan gaya berorganisasi antara generasi X, Y, dan Z.
Generasi X: Formal dan Hierarki
Generasi X yang tumbuh di era pasca-orde baru, cenderung lebih formal dalam berorganisasi. Mereka terbiasa dengan kejelasan struktur organisasi, ketegasan hierarki dan aturan baku. Alhasil, organisasi mahasiswa di generasi X memiliki ciri khas tertentu.
Salah satu cirinya adalah fokus pada struktur yang menekankan kepada kejelasan organisasi serta peran dan tanggung jawab dengan definisi lebih baik. Gaya seperti ini seringkali melahirkan kepemimpinan yang kuat dalam organisasi mahasiswa generasi X.
Buktinya, lihat saja banyak eks aktivis 1998 yang menjadi tokoh-tokoh masyarakat terkemuka saat ini. Sementara kegiatan-kegiatan yang dilakukan mahasiswa organisasi generasi X lebih banyak yang bersifat formal, seperti seminar, diskusi panel, dan lomba-lomba akademik.
Generasi Y (Milenial): Kolaborasi dan Kreativitas
Sementara generasi milenial lebih mengedepankan kolaborasi, kreativitas, dan inovasi. Organisasi generasi Y ini lebih banyak fokus pada isu-isu sosial utamanya pasca orde baru. Isu-isu sosial itu meliputi kemanusiaan, lingkungan, kesetaraan gender, dan lainnya.
Gaya organisasi era milenial pun mulai memanfaatkan teknologi untuk mempermudah kegiatan organisasi. Di antaranya seperti membuat website, media sosial dan beberapa aplikasi dasar. Kegiatan-kegiatan kreatif seperti festival musik, pameran seni, atau kompetisi inovasi, sangat menjamur dilakukan organisasi generasi Y.
Generasi Z: Digital dan Berorientasi Tujuan
Bersambung ke halaman selanjutnya –>