Oleh: M. Haidar*

Kita barangkali sering berpikir saat ngefans berat kepada seseorang bermarwah besar, karena kegeniusannya atau kehebatannya, lalu mengatakan orang-orang seperti itu hanya lahir sekali dalam seribu tahun. Seperti sosok Murtadha Muthahhari yang merupakan filsuf, fakih sekaligus cendikiawan hebat di abad ini. Seorang yang dikenal punya andil besar bagi Revolusi Islam di Iran, sehingga sukses menumbangkan Rezim Syah dan melepas negerinya dari cengkraman hegemoni AS waktu itu. Meskipun, ya, kita selalu yakin: mati satu, tumbuh satu trilliun.
Murtadha Muthahhari lahir pada 2 Februari 1920, di Fariman, kota yang berdekatan dengan kota Masyhad yang juga pusat studi keagamaan di Iran. Saat usianya 12 tahun, ia menempuh pendidikan formal keagamaannya dan di sinilah dikatakan cintanya kepada ilmu Filsafat Islam itu tumbuh bersemi. Ia lelaki yang juga saat dewasanua sering keluar-masuk penjara karena akitivitas politiknya. Pada 1 Mei 1979, Muthahhari lalu dibunuh setelah memimpin rapat Dewan Revolusi Islam oleh satu kelompok yang diketahui anti-revolusi Islam di Iran.
Ia mungkin telah wafat, tapi orang-orang akan selalu mengingat sumbangsih besarnya bagi ilmu pengetahuan, terutama khazanah keilmuan Islam. Muthahhari yang mungkin juga kita kenal sebagai pengajar pehamaman dasar ihwal kehidupan. Banyak kumpulan ceramah dan materi ajar dalam perkuliahannya yang disusun menjadi buku-buku dan sudah dialih-bahasakan ke bahasa Indonesia. Begitupun karya tulisnya yang sudah banyak tersebar luas. Seperti buku Man and Universe, Teori Pengetahuan, ‘Amar Ma’ruf Nahyi Munkar dan seterusnya. Gaya pemaparannya yang sederhana itu membuat banyak orang mampu memahami dengan mudah topik-topik Filsafat yang berat sekalipun.
Muthahhari juga menaruh perhatiannya terhadap topik Amar Makruf Nahi Mungkar. Topik yang dianggap sering luput dari pembicaraan dan ceramah keagamaan. Padahal ialah salah satu ajaran mendasar dalam Islam yang pengaruhnya, selain bagi pribadi Muslim itu sendiri, juga mengefek kepada tatanan sosial dan politik.
Amar Makruf bermakna seruan untuk berbuat baik, berbudi pekerti yang luhur, berilmu, membela kehormatan jiwa raga dan tanah air, beribadah dan banyak lagi. Sedang Nahi Mungkar artinya perintah mendiskriminasi sifat dan perbuatan tercela nan sia-sia—seperti syirik, munafik, fasik, kebodohan, kelalaian, ingkar janji, berdusta, berbuat zalim dan mendukung kezaliman, dan seterusnya. Ajaran yang cakupannya amat luas, meliputi setiap perbuatan baik dan buruk dalam hidup.
Menyerukan Kebaikan dengan Kebaikan
Bersambung ke halaman selanjutnya –>
Ketika pesan ajaran suci dari Tuhan disampaikan oleh pesuluk/penempuh jalan Tuhan, maka gaungnya membangunkan jiwa-jiwa insani.
Amar makruf nahi mungkar berbanding lurus dengan sikap menentang kolonialisme, kezaliman dan ketidakadilan di muka bumi.
Salam bagi jejiwa insani yang mengaktualkan pesan moral dan akal budinya.
sejatinya seorang insan adalah “berperang”, ya berperang melawan “nafsu” angkara murka tidak secara sporadis dan serampangan, melainkan dibangun dengan akal yang dikoordinir sedemikian rupa hingga menjadi sesuai yang terkoordinir secara rapi seperti bangunan yang kokoh. “Kebaikan yang tidak terorganisir akan kalah oleh kejahatan yang terorganisir dengan baik (Ali Bin Abi Thalib)”.
Membela Palestina adalah membela yang dzhalim dari petbuatan si dzhalim. Itu adalah kewajiban kita semua sebagai orang beriman, harus kita laksanakn semampu kita.
Bela Palestina bela kemerdekaan seluruh negara didunia .
Kemerdekaan negara-negara didunia belum seutuhnya karena masih dikuasai penjajah.
Betul, syarat ummat terbaik itu adalah menyuruh yg baik dan mencegah dan memerangi kemungkaran abad skrg ini kpd ummat islam adalah membela palestina yg digenodida, dihancurkan dan dirampas tnh airnya, dan skrg penduduknya mau diusir dari tanah air mereka. Anda diam dan tidak peduli Palestina, anda adalah bagian dari penjajah tersebut, baik anda sadari ataupun tidak!!