Oleh: Dwi Wahyu*

Pagi di bulan November 2024, awan kelabu mewarnai cakrawala. Seperti biasa, saya menyalakan laptop dan membaca beberapa surel yang masuk. Belum habis menelaah pesan dalam inbox, tetiba di pojok kiri laptop masuk notif website berita dari salah satu surat kabar yang beroplah besar di jaman orde baru.
Sejenak mata tertuju ke website yang sepersekian detik, telah mencuri mata dan perasaan karena judulnya yang mengusik. ”Karena Teroris Hamas, Anak-Anak Gaza Menederita.” Terpampang dengan huruf tebal di atas gambar. Jelas terlihat beberapa balita tergeletak di sekitar reruntuhan bangunan. Bak perang dalam film-film hollywood.
Tak susah mengindentifikasi tempat kejadian tersebut karena di pojok bawah gambar berita tertulis jalan Al-Rasheed Gaza. Salah satu daerah kantung di palestina. Terbaca di plang petunjuk jalan yang miring hampir terlepas.
Sekian banyak bangunan porak poranda hancur tak berbentuk hampir rata dengan tanah. Bertubi-tubi serangan zionis menyasar warga sipil gaza. Perang tak seimbang antara Pejuang Palestina dan penjajah.
Masih memandangi foto dalam berita tersebut, seolah larut merasakan detik-detik serangan mencekam. Diawali dengan raungan pesawat tempur keluaran terbaru. Konon katanya mempunyai kemampuan siluman. Serangannya entah tepat sasaran atau hanya acak.
Belum hilang kaget dengan raungan pesawat yang memekakkan telinga, terdengar dentuman yang dapat menghentikan jantung pasca dijatuhkannya bom berton-ton. Hingga menimbulkan cendawan raksasa berwarna jingga. Perlahan naik ke udara menyisakan penampakan yang sangat memilukan.
Alih alih yang diabadikan dalam foto berita tersebut korban para pejuang Palestina, melainkan anak-anak dengan hampir keseluruhannya tergeletak dengan tubuh yang nyaris berwarna sama. Ya, warna yang sama. Abu-abu! Karena seluruhnya tertimbun debu reruntuhan bangunan.
Masih dalam lamunan menatap gambar dalam berita. Semakin dalam! Seakan larut terbawa menembus ruang dan waktu. Ikut merasakan kepanikan yang terdampak oleh bom-bom yang dijatuhkan.
Kesunyian untuk beberapa waktu pecah dengan hiruk pikuk, teriakan, rintihan, tangisan, takbir, seiring asap keabu-abuan. Serasa ada aroma mesiu tajam, perlahan naik ke permukaan disapu udara khas daerah pesisir.
Bapak mencari anak, anak mencari bapak, ibu mencari anak, anak mencari ibu, kakak mencari adik, adik mecari kakak, nenek dicari, kakek dicari, saya mencari saya..!? Ya! Saya mencari diri saya sendiri. Di manakah saya? Di manakah saya saat anak-anak itu membutuhkan pertolongan?!
Apa yang sudah saya lakukan untuk mereka? Bukankah diajarkan mendahulukan orang orang yang teraniaya. Pikiran berkecamuk. Hingga, saya dikagetkan dengan jatuhnya tutup gelas. Tak sengaja tersenggol tangan yang meremas gelas terbawa gundah. Serasa tak berarti diri ini.
Saat mengambil tutup gelas yang jatuh, dalam hati terpatri janji. Walau tragedi kemanusiaan terjadi ribuan mil jaraknya, akan kujadikan wasilah jalan pulang. Atas izin Sang Empunya wasilah. Bismillah!
*Penulis adalah anggota FPN (Free Palestine Network)
Di ujung malam
Kutemukan kawan
Tak lagi sendirian
Meniti jalan pulang
Hanya setitik yg bisa kita lakukan, tapi tak ada garis panjang tanpa titik-titik. GBU.
Apakah anda setuju dengan pernyataan karena teroris Hamas anak anak Gaza menderita? Kirain mau mengupas judul tulisan itu…
Panjang umur Palestina
Panjang umur Perlawanan.. Merdeka Palestina…
Tulisannya sangat enak dibaca, dan dgn bahasa jiwa yg ikut terluka, memberikan gambaran kpd kita tentang derita Palestina yg menjadi korban pemusnahan, pembunuhan, penghancuran dan genosida oleh zionesme Israel atas ijin setan besar Amerika. Benar kata bu dina kita sudah logika terbalik. Alih menyalah pelaku pemerkosaan, malah korbannya yg disalahkan, dgn bla bla.. Dan org yg menyelamatkan korban dgn memukuli pelakunya, justru yg disalahkan knp membantu korban perkosaan.?? itulah media besar dan kebanyakan media dunia lainya. Sudah hilang dirinya dan jiwanya. Sehingga banyak manusia tidak tau jln pulang kpd fitrah suci agama dan kemanusiaannya.!!! Mereka buta dan tuli bagai org linglung tidak tau jln pulang kpd substansi jiwanya!
Masya Allah,kata kata yg sangat menyentuh , mengingat kan diri apa yang sudah saya perbuat untuk Palestina
Menggetarkan . Terima kasih mas Dwi.
Akan selalu ada-ada misah heroik maupun sufistik tentang bagaimana jalan pulang dari peristiwa yang dialami Bangsa Palestina di sepanjang sejarahnya.
Kemanusiaan yang memanggil..dan Q menyahuti seruan_nya..
Tulisannya sangat enak dibaca, bagus, dan dgn bahasa jiwa yg ikut terluka. memberikan gambaran kpd kita tentang derita Palestina yg menjadi korban pemusnahan, pembunuhan, penghancuran dan genosida oleh zionesme Israel atas ijin setan besar Amerika. Benar kata bu Dr dina Sulaiman kita sudah pakai logika terbalik. Alih2 kita malah, menyalahkan pelaku pemerkosaan, justru korbannya yg kita salahkan, dgn berbagai narasi bla bla..? Dan org yg menyelamatkan korban dgn memukuli pelakunya, (dibilang kelompok Teroris??? ) justru yg disalahkan, knp membantu korban perkosaan.?? itulah media besar yg memakan asupan Informasi Elit Global dan kebanyakan media dunia lainya agar bisa tetap mkn.!! . Sudah hilang Edialisme dirinya, dan jiwanya. Sehingga banyak manusia tidak tau jln pulang, kpd Fitrah Suci Agama dan kemanusiaannya.!!! Mereka buta dan tuli bagai org linglung tidak tau jln pulang kpd substansi jiwanya! “Maka berbahagialah org 2 yg tau jln pulang, menuju TuhanNya.” !!
Kebebasan Imaginasi seorang penulis atas dasar moral dan keimanan kadar sang penulis..berusaha menuangkan rasa yg ada pada momen tersebut karena sang penulis dan kita di Indonesia jauh dari posisi TKP..sikap kepedulian yg timbul dan hanya bisa mendoakan dan menulis wujud dari rasa persaudaraan sesama. Alhamdulillah Saya paham yang dimaksud penulis.. seandainya kita yang disana insyaallah kita yang terdepan menghadapi musuh musuh Alloh..kerena janji Alloh terhadap syuhada sangatlah luar biasa.. Barakallah
Jangan biarkan Palestina sendirian
Lantunan ayat-ayat suci
Dilangitkan anak-anak Gaza
Dengan suara khidmat
dan mata berkaca-kaca
Mengirim rindu Rabb Kekasih..
Terluka tiada mengeluh
Tercabik tiada mengumpat
Tuhan…aku ingin menggandeng
Tangan anak-anak Gaza
Bersama meniti jalan pulang.
Jos
MasyaaAllah…
Sukses berkah pakde.
Tulisannya sangat menyentuh.
Turut bantu doa untuk kemerdekaan Palestina.
Bertambah sadarkan diri untuk prioritaskan kemanusiaan di tengah gaya hidup hedonisme ala penjajah
Free Palestine
perlawananan atas penjajahan adalah hak asasi manusia yang paling dasar
bhsnya sederhana pesannya tersampaikan menggugah empati
selalu tersentuh ketika melihat berita-berita tentang Palestine terutama perihal anak-anak disana. Free Palestine
️
Untuk bangsa Palestina, di sini kalian punya saudara.
Tulisannya menarik, tema yang diangkat juga sangat bagus, serta bahasa yang digunakan menyentuh hati. Ditunggu tulisan-tulisan selanjutnya
Awalnya sy berfikir tulisan ini pekat dg narasi politis, namun ternyata sangat filosofis dan emosional, dg gaya penulisan naratif dan deskriptif, gaya bahasa rangkaian kata yg easy reading…anda sgt mahir di ranah rasa pak…
Sy yakin dan berharap ini bukan tulisan yg terakhir, tp awalan yg jd wasilah mengantarkan sy juga utk kembali menorehkan aksara yg kelak mungkin menjadi saksi perjalanan hidup sebelum berpulang.
Sungguh suatu karangan singkat
Dengan satu samudra perasaan
Luapan semangat yang tertuangkan
Air mata pun tertumpah kan
Sadar diri tak berarti tanpa sifat manusiawi
Ya Rab sadarkan diriku karena terbuai dengan dunia
Terlalu terlena dengan kehidupan
Sehingga teralihkan dari kenyataan dimana para saudara tertawan, anak² menangis, para ibu mendiamkan para bayi, para syuhada berperang tanpa takut mati
Janji yang kubuat mulai hari ini
Para pembaca sekalian lah yang menjadi saksi
Jika untuk keadilan nyawa dibutuhkan
Semua nyawaku akan kuserahkan
Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar



Free Palestine
Dalam hening si aku “memotret” segala kepedihan yang melintas, merasakan semua kesan yang muncul dan menuliskan semua yang terlihat dengan kata-kata dan ungkapan-ungkapan yang tak disesaki kemarahan dan sumpah serapah… Semua yang ia saksikan melalui laptop terekam dalam sanubari. Bunyi denting tutup gelas yang jatuh ke lantai menyudahi keterpanaan atas segala yang ia lihat namun di akhir si aku tergerak dalam sebuah kesadaran yang melahirkan sebuah komitmen…
Dwi punya bakat menulis yang akan hebat jika dia tekun berlatih. Bravo!!!
Setiap darah yang menetes di tanah Gaza menandakan ketidakadilan hak asasi manusia dalam hidup. Maka perangilah penjajahan
Setiap kali mendengar dan melihat kejadian di Palestina saya hanya bisa berucap doa, karena saya yakin janji Allah untuk palestina itu nyata.
Luar biasa sobat teruslah gali potensi dan bakat terpendamnya.
Dalam kemanusiaan jarak dilipat,
Deritamu jadi deritaku, dukamu jadi dukaku.
Kemarahanmu juga kemarahanku.
Dalam kemanusiaan riak-riak berkumpul menjadi gelombang tsunami..
Dalam kemanusiaan wasilah terdekat adalah pengorbanan.