Lebih dari Sekadar Prestasi
Bagi Jesselyne, kemenangan ini bukan sekadar gelar juara atau penghargaan di panggung ilmiah. Kepuasan sejati justru hadir ketika ia menyelami data, menemukan pola, dan menyadari bahwa hasil risetnya berpotensi memberi harapan nyata bagi pasien. Baginya, ilmu kedokteran adalah amanah untuk melayani sesama, bukan sekadar pengetahuan yang berhenti di ruang kelas atau laboratorium.
“Menjadi dokter adalah perjalanan panjang yang tidak hanya berbicara soal kemampuan medis, tetapi juga empati, ketulusan hati, dan kerelaan untuk terus belajar demi orang lain. Saya berharap pengalaman ini bisa menjadi motivasi bagi teman-teman dan adik-adik seperjuangan, khususnya di lingkungan preklinik UPH. Ini bukti bahwa kita tidak perlu menunggu hingga resmi menjadi dokter untuk mulai berdampak nyata. Rasa ingin tahu, ketekunan, dan kepedulian kita hari ini bisa menjadi benih dari inovasi medis di masa depan,” tuturnya.
Dukungan Dosen dan Lingkungan Kampus
Keberhasilan Jesselyne juga tidak terlepas dari bimbingan para dosen FK UPH, yaitu Dr. dr. Theo Audi Yanto, Sp.PD, FINASIM, AIFO-K; Dr. dr. Andree Kurniawan, Sp.PD-KHOM, FINASIM; dan dr. Jeremia Immanuel Siregar, BMedSc, Sp.PD. Bagi Jesselyne para dosen pembimbingnya punya peranan penting dalam membuka dan mendorong ruang belajar baginya.
“Dengan mengisi libur semester melalui magang preseptor setiap hari dan mengikuti berbagai event ilmiah, Jesselyne menunjukkan dedikasi tinggi di bidang metabolik, kardiologi, dan nefrologi. Ide penelitiannya tentang penggunaan SGLT2 inhibitor pada gagal jantung usia lanjut dengan mempertimbangkan frailty, menjadi bukti ketekunan dan rasa ingin tahu ilmiah yang luar biasa. Prestasi ini menjadi kebanggaan sekaligus inspirasi bagi kita semua,” ucap Dr. Theo.
Selain bimbingan dosen, pengalaman organisasi turut memperkaya langkah Jesselyne. Ia aktif di SECRET (Science, Education, Clinical Research, Evidence-Based-Medicine, and Technology), organisasi riset mahasiswa FK UPH yang menjadi wadah pertama baginya belajar menulis systematic review dan meta-analysis. Dari sinilah ia menumbuhkan keberanian untuk melangkah ke level kompetisi nasional.
Tentang JNM 2025
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






