More

    BDS Soroti Dampak Kebijakan Israel terhadap Krisis Pertanian India dan Agresi di Gaza

    BDS dan Kritik terhadap Diplomasi Bantuan Pembangunan Israel

    Lebih luas, BDS menggambarkan MASHAV bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan alat politik Israel untuk memperluas pengaruhnya di negara-negara Afrika dan Asia. Melalui program pelatihan dan proyek irigasi, Israel disebut berupaya memperkuat posisi diplomatiknya di PBB dan mengimbangi pengaruh negara-negara Arab.

    Meskipun diklaim sebagai program pembangunan untuk perdamaian, BDS menilai inisiatif tersebut justru melanggengkan perusahaan-perusahaan yang mendapat keuntungan dari ekspansi permukiman ilegal dan pendudukan wilayah Palestina. 

    - Advertisement -

    Dalam berbagai laporannya, BDS menyebut MASHAV sebagai misi diplomasi pembangunan Israel yang bertujuan memoles citra rezim Tel Aviv di mata dunia Selatan, sembari mengabaikan penderitaan rakyat Palestina yang terus kehilangan tanah dan sumber kehidupannya.

    Sementara itu, situasi di Jalur Gaza terus memburuk akibat operasi militer Israel yang berkelanjutan. Menurut laporan lapangan pada Kamis (17/7), pasukan pendudukan Israel kembali melakukan penghancuran besar-besaran di wilayah utara dan selatan Gaza. 

    UNRWA (Badan PBB untuk Pengungsi Palestina) melaporkan bahwa sebagian besar bangunannya di Kota Gaza mengalami kerusakan berat akibat serangan udara dan artileri. Di Rumah Sakit Al-Awda, Al-Nuseirat, dilaporkan seorang warga Palestina meninggal akibat tembakan saat mengumpulkan kayu bakar di timur Kamp Al-Bureij. 

    Serangan juga dilaporkan terjadi di Rafah dan Khan Younis, di mana sejumlah bangunan hancur total. Sayap militer Hamas, Brigade Al-Qassam, menyatakan telah menyerahkan jenazah salah satu tentara Israel kepada Komite Palang Merah Internasional, setelah ditemukan di kawasan Shuja’iyya, Gaza timur. 

    Proses ini dilakukan sebagai bagian dari kesepakatan sementara dengan mediator Mesir, di tengah upaya negosiasi pertukaran tahanan yang masih berjalan sulit. Sejak 7 Oktober 2023, agresi Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 68.000 warga Palestina dan melukai sekitar 170.000 orang, mayoritas perempuan dan anak-anak.

    Ribuan lainnya masih tertimbun reruntuhan bangunan. Meski ada kesepakatan gencatan senjata sementara yang difasilitasi oleh mediator internasional, pasukan Israel masih terus melancarkan serangan dan mempertahankan blokade yang membuat lebih dari 80% penduduk Gaza bergantung pada bantuan kemanusiaan.

    Dua situasi berbeda yaitu kebijakan pembangunan Israel di India dan agresi militer di Gaza, memperlihatkan pola serupa dalam pandangan gerakan BDS tentang penggunaan proyek pembangunan dan teknologi pertanian sebagai instrumen politik. Di satu sisi, Israel menampilkan diri sebagai mitra pembangunan global. Di sisi lain, ia dituduh menggunakan diplomasi tersebut untuk menutupi pelanggaran kemanusiaan di wilayah pendudukan. Gerakan BDS menyerukan kepada komunitas internasional, termasuk lembaga pendidikan dan riset, untuk meninjau kembali kerja sama dengan lembaga-lembaga yang terkait langsung dengan kebijakan Israel, serta mendorong pembangunan yang berpihak pada rakyat dan berkeadilan sosial.

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here