More

    Dies Natalis ke-76 UGM Tegaskan Peran Kampus Sehat, Riset Inovatif, dan Solusi Lingkungan Berkelanjutan

    Penguatan Kewirausahaan dan Inovasi Berbasis Riset

    Semangat membangun generasi sehat dan mandiri juga tercermin dalam penyerahan Anugerah Universitas Gadjah Mada bidang pengembangan kewirausahaan kepada Prof. (em) Eka Sari Lorena Soerbakti. Ia berperan aktif dalam pengembangan ekosistem UGM Preneurs bersama Fakultas Teknologi Pertanian dan sejumlah fakultas lain untuk menjembatani riset akademik dengan kebutuhan masyarakat dan industri.

    Eka menambahkan bahwa penguatan kewirausahaan harus ditopang oleh ekosistem kolaboratif antara universitas, industri, dan masyarakat agar inovasi dapat tumbuh berkelanjutan. “Kami ingin mahasiswa UGM mandiri, berani menciptakan hal baru, dan membawa riset agar manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” tuturnya.

    - Advertisement -

    Dengan dukungan tersebut, mahasiswa diharapkan mampu berkiprah di tingkat nasional maupun global. “UGM memiliki potensi besar, mahasiswanya tidak kalah pintar dari mahasiswa asing. Jadi saya yakin UGM bisa melahirkan wirausaha berkarakter yang berkontribusi bagi bangsa,” ungkapnya.

    Apresiasi atas riset berdampak juga diberikan kepada Prof. Abdul Rohman dari Fakultas Farmasi melalui Anugerah UGM bidang pengembangan riset kehalalan produk. “UGM hadir untuk menjawab tantangan riset halal melalui pendekatan ilmiah yang kuat dan berkelanjutan,” katanya.

    Dari situ ditegaskan pentingnya riset halal berbasis sains untuk menjawab kebutuhan regulasi dan perlindungan konsumen. Selain penguatan riset dan kewirausahaan, UGM juga mendorong solusi konkret atas persoalan lingkungan melalui pengembangan maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF). 

    Larva ini dikenal mampu mengurai sampah organik sekaligus memiliki potensi ekonomi sebagai sumber protein pakan ternak. Dosen Fakultas Peternakan UGM, Dr. Muhsin Al Anas, S.Pt., menjelaskan bahwa kebutuhan protein dalam industri pakan nasional yang mencapai lebih dari 21 juta ton per tahun menjadi tantangan besar.

    Ia menambahkan bahwa larva BSF tidak hanya berfungsi sebagai bahan baku pakan, tetapi juga sebagai feed additive dan feed supplement yang mampu meningkatkan kesehatan saluran pencernaan dan imunitas ternak. “Maggot menawarkan solusi berkelanjutan karena mampu mengubah sampah organik menjadi sumber protein pakan yang bernilai ekonomi,” ujar Dr. Muhsin dalam Workshop Pengolahan Sampah Batch 2 di Fakultas Peternakan UGM, Rabu (17/12).

    Inovasi maggot farming juga berkontribusi pada pengelolaan sampah terpadu.  “Lewat pengembangan teknologi pelet pakan berbasis BSF, produktivitas ternak dapat ditingkatkan sekaligus menekan ketergantungan pada bahan pakan impor,” jelas Dr. Muhsin.

    Limbah rumah tangga, industri unggas, hingga Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dapat dimanfaatkan sebagai media tumbuh larva, menghasilkan produk turunan berupa tepung dan minyak larva berbasis riset. Koordinator Proyek CircuLife, Rima Amalia Eka Widya, S.S., M.A., menekankan pentingnya peran aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah guna menciptakan solusi lingkungan yang berkelanjutan dan berdampak nyata. 

    Workshop ini juga menghadirkan sesi pengolahan sampah organik melalui ecoenzyme yang disampaikan oleh Drs. Sarwa Sigid dari Komunitas Ecoenzyme Nusantara. Peserta dibekali pemahaman praktis untuk mengolah limbah organik rumah tangga menjadi produk ramah lingkungan yang aplikatif.

    Rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-76 UGM ini menegaskan peran kampus sebagai ruang bertemunya ilmu pengetahuan, empati, dan inovasi. Dari refleksi kemanusiaan, penguatan riset, hingga solusi lingkungan berbasis sains.

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here