More

    Krisis Ekonomi Iran: Faktor Internal dan Eksternal

    Oleh: Dina Yulianti & Vita Sarasi

    Uang Republik Islam Iran. (Foto: The Cradle)

    Krisis ekonomi yang tengah melanda Republik Islam Iran tidak bisa dipahami secara sederhana sebagai akibat kegagalan kebijakan domestik semata. Ia merupakan hasil dari akumulasi tekanan internal dan eksternal yang bekerja secara simultan dan berlapis, dalam konteks geopolitik yang sangat tidak bersahabat.

    Tekanan Eksternal: Imperialisme dan Perang Hibrida

    - Advertisement -

    Tantangan paling signifikan bagi Republik Islam Iran datang dari imperialisme Amerika Serikat dan sekutunya, terutama Israel. Sejak Revolusi Islam 1979, Iran terus berada dalam radar upaya pelemahan sistematis: mulai dari dukungan AS terhadap perang Irak–Iran, operasi sabotase, pembunuhan tokoh ilmuwan dan militer Iran, hingga serangan langsung ke wilayah Iran.

    Pola ini semakin jelas dalam beberapa tahun terakhir: pembunuhan Jenderal Qassem Soleimani (2020), serangan besar terhadap Hizbullah di tengah genosida Gaza dan pembunuhan Sayyid Hassan Nasrallah (2024), serta kejatuhan pemerintah Suriah pada Desember 2024 yang diikuti pengangkatan figur berlatar belakang al-Qaeda sebagai presiden di Damaskus. Semua ini menunjukkan satu garis besar: upaya sistematis untuk mengikis posisi strategis Iran di kawasan.

    Di saat yang sama, elit lama Iran—yang berakar pada rezim monarki Shah—terus berusaha kembali berkuasa dengan dukungan Eropa dan AS. Shah sendiri, yang berkuasa sejak 1941, sempat dipaksa menerima pemerintahan demokratis (1951–1953) sebelum digulingkan melalui intervensi intelijen Barat. Sejak saat itu, monarki menjalankan kekuasaan absolut hingga Revolusi 1979. Blok monarki, kini dipimpin Reza Pahlavi yang tinggal di Los Angeles, tetap dipromosikan AS sebagai alternatif kepemimpinan Iran.[1]

    Keterbatasan Internal: Kelas Sosial, Neoliberalisme, dan Tekanan Hidup

    Di sisi internal, Republik Islam juga menghadapi keterbatasan struktural. Revolusi tidak sepenuhnya membongkar elite lama; sebagian dari mereka tetap mempertahankan properti dan posisi ekonomi, sehingga terbentuk sistem kelas bertingkat yang menguntungkan pemilik aset dan kelas menengah baru.

    Pasca wafatnya Ayatollah Ruhollah Khomeini (1989) dan berakhirnya Perang Iran-Irak, Iran mulai mengadopsi kebijakan penyesuaian struktural ala IMF, meski pemerintahan Islam Iran tidak pernah bekerja sama dengan IMF. Para menteri yang “reformis” melakukan reformasi mata uang, perbankan, dan integrasi hati-hati ke ekonomi global untuk memperkuat stabilitas makro tertentu, tetapi juga memperlebar kesenjangan sosial. Dampak gabungan sanksi AS-Eropa, ancaman militer yang memaksa pengeluaran pertahanan tinggi, dan kebijakan ekonomi yang condong ke neoliberal inilah yang memicu siklus protes ekonomi: 2017–2018, 2019, 2025, hingga 2025–2026.[1]

    Manipulasi Keuangan Eksternal dan Runtuhnya Rial

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    9 COMMENTS

    1. Indonesia vs Iran bagaikan bumi dan langit.
      Akhlak, moralitas, kapasitas, dan integritas sebagai penjaga bangsa tidak dimiliki negara kita. Unsur inilah yang semakin mempermudah negara lain menyetir kebijakan dalam negeri Indonesia.

      • Paling tidak pemerintah Indonesia, masih mampu menyediakan air bersih, listrik untuk Rakyatnya, masih mampu menjaga nilai tukar Rupiah (walaupun sekarang melemah), masih mampu menjaga inflasi.

    2. Bila pemerintahan teokrasi IRAN tidak memberikan ruang kepada para “reformis”, dan memberikan celah sistem kapitalis digunakan, bisa jadi IRAN dapat memenangkan gelanggang sejak lama.

      Sebagai contoh, belum lama berhasil menumbangkan syah Reza Pahlevi, pemimpin boneka Kapitalis, revolusi IRAN diuji dengan perang sewindu dengan irak.
      IRAN dikeroyok seluruh dunia dibelakan irak, tapi IRAN dapat keluar sebagai pemenangnya.

      Lalu kini dengan kemajuan di segala bidang khususnya roket dan Satelit, tak ada yg dapat menghadang kemajuan IRAN menggapai cita citanya

    3. Apa yang terjadi di Iran adalah sejarah yang akan menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara lain kedepannya. Kunci dari pertahanan dan perlawanan bangsa dan negara terhadap hegemoni Barat yang didalangi Amerika adalah bersatunya unsur rakyat dan pemerintahnya, kuatnya kepercayaan publik kepada pengelola negara. Kepercayaan tentu tidak datang di ruang hampa, ia adalah proses panjang dan pembuktian bahwa negara memang berpihak pada rakyat, bukan pemerintahan yang elitis, yang hanya mementingkan kelompok penguasa. Semoga Indonesia juga bisa belajar dari Iran.

    4. Kebenaran (kemanusiaan) akan selalu menjadi musuh imperialis..DAN pilihannya hanya dua tuntuk pada_nya ..atau di jatuhkan dengan dan berbagai cara_
      .
      .

    5. Dalam ilmu politik dan pembangunan, itu bahkan dikenal sebagai fondasi ketahanan negara (state resilience). Negara yang mampu menjamin kebutuhan dasar rakyatnya biasanya memiliki tiga kekuatan utama:

      1. Legitimasi internal yang kuat
      Jika rakyat merasa:
      -. perutnya kenyang
      -. anaknya bisa sekolah
      -. sakit bisa berobat
      -. ada pekerjaan dan harapan hidup
      maka akan tumbuh kepercayaan pada negara. Tanpa kepercayaan itu, propaganda asing, provokasi, dan tekanan eksternal sulit masuk.

      2. Stabilitas sosial
      Krisis biasanya bukan dimulai dari serangan asing, tapi dari:
      -. pengangguran massal
      -. harga pangan melonjak
      -. layanan publik runtuh
      -. ketimpangan ekstrem
      Di situ konflik internal muncul. Kekuatan asing biasanya hanya memanfaatkan retakan yang sudah ada, bukan menciptakan dari nol.

      3. Sejarah membuktikan
      Banyak contoh negara runtuh bukan karena invasi langsung, tetapi karena:
      -. ekonomi hancur
      -. elite korup
      -. rakyat putus harapan
      Sebaliknya, negara yang rakyatnya relatif sejahtera (misalnya negara Nordik, Jepang pascaperang, Korea Selatan) tetap stabil meski berada di tekanan geopolitik besar.

    6. Rakyat Iran negara yang membentengi diri nya dgn taat pada pemimpin spiritual,yakin pada kemampuan diri mereka walaupun ada para pemberonrak dan kaum munafiq yang masih di manfaatkan oleh rezim syah yg berafiliasi dgn israel cs..Iran sudah waspada dan akan selalu siaga,penguatan dengan ilmu dan spiritual..Bravo iran

    7. Saya pribadi dan tentu bnayak org yg bisa berfikir waras,merasa dan sangat kagum akan ketangguhan RII dalma menghadadapi tekanan pilitik/ekonomi embargo .dll..oleh zionis amrik dan sekutu² nya….

      Saya yakin dan pasti berkat ketangguhan, kecerdasan dan soliditas rakyat Iran pada kebanyakan ..akan bisa melewati masa berat ini.

      Doa dan dukungan sellau bersama pemimpin dan rakyat Iran…..
      .Amiiin

    8. Sejarah Iran menunjukkan bahwa ketahanan bangsa lahir dari kesadaran kolektif, rakyat yang sadar, pemimpin yang amanah, dan orientasi kebijakan yang berpihak pada yang lemah.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here