More

    Krisis Ekonomi Iran: Faktor Internal dan Eksternal

    Manipulasi Keuangan Eksternal dan Runtuhnya Rial

    Protes terkini memang dipicu oleh inflasi pangan yang mencapai sekitar 60% dan merosotnya nilai tukar rial terhadap dolar. Namun, penurunan mata uang sebesar 30–40% secara tiba-tiba bukanlah gejala ekonomi normal. Seperti ditulis Prashad (2026), “Ini adalah ciri klasik manipulasi keuangan eksternal.”[1]

    Pengalaman Indonesia pada krisis moneter Asia 1997–1998 memberi contoh sangat jelas bagaimana kejatuhan nilai mata uang secara tiba-tiba sering kali melibatkan tekanan eksternal, yang bertemu dengan kerentanan domestik, bukan semata kegagalan ekonomi domestik. Dalam hitungan bulan, nilai rupiah anjlok dari kisaran Rp2.300-2.600 per dolar AS hingga sempat menembus kisaran Rp14.000–Rp15.000 pada 1998, atau kehilangan lebih dari 80% nilainya. Kejatuhan ini terlalu cepat dan terlalu dalam untuk dijelaskan hanya oleh faktor fundamental ekonomi atau satu sebab tunggal.

    - Advertisement -

    Krisis tersebut dipicu oleh serangan spekulatif terhadap mata uang, penarikan modal besar-besaran, serta hilangnya kepercayaan pasar yang membesar karena rapuhnya perbankan dan tingginya utang valas sektor swasta seraya ketidakpastian dan syarat-syarat paket bantuan internasional pada fase penanganan krisis ikut memperkuat kepanikan pasar. Kebijakan penyesuaian struktural yang dipaksakan—pengetatan moneter ekstrem, pembukaan sektor keuangan secara mendadak, dan pencabutan subsidi—justru memperdalam krisis sosial dan politik. Inflasi melonjak, harga pangan meroket, dan daya beli rakyat runtuh dalam waktu singkat.

    Yang penting dicatat, krisis nilai tukar ini segera bertransformasi menjadi krisis politik. Ketidakstabilan ekonomi menciptakan ketegangan sosial yang meluas, membuka ruang bagi tekanan elite global, dan akhirnya berujung pada perubahan rezim pada 1998. Pola ini—kejatuhan mata uang mendadak, krisis sosial, lalu tekanan politik—sangat mirip dengan apa yang kini terlihat di Iran, meski konteks dan skalanya berbeda.

    Dengan kata lain, pengalaman Indonesia menunjukkan bahwa runtuhnya mata uang bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi bisa menjadi instrumen geopolitik. Dalam kerangka ini, penurunan tajam nilai rial Iran patut dibaca bukan sekadar sebagai akibat inflasi domestik, melainkan sebagai bagian dari perang keuangan modern yang bertujuan menciptakan instabilitas internal dan tekanan politik jangka panjang.

    Dari Protes Ekonomi ke Destabilisasi Politik

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here