More

    Krisis Ekonomi Iran: Faktor Internal dan Eksternal

    Dari Protes Ekonomi ke Destabilisasi Politik

    Untuk kasus Iran, secara khusus ada tiga mekanisme utama yang menjelaskan hal ini:

    Pertama, serangan spekulatif, di mana jaringan keuangan besar dan spekulan pasar menjual mata uang secara masif, menyebarkan kepanikan, dan mendorong masyarakat beralih ke dolar atau emas. Kedua, sanksi finansial dan pembatasan/pengetatan akses ke sistem keuangan global yang membuat pasar kehilangan kepercayaan secara mendadak. Ketiga, perang psikologis ekonomi, melalui narasi media tentang “ekonomi runtuh” dan “mata uang akan kolaps”, yang memicu panic selling dan rush ke dolar—sebuah bentuk financial warfare. [1]

    - Advertisement -

    Kasus Iran sangat konkret. Pada awal 2025, kurs pasar bebas masih berada di sekitar 817.500 rial per USD. Menjelang akhir 2025 hingga awal 2026, nilainya merosot ke 1,4–1,6 juta rial per USD. Lebih dari separuh nilai uang hilang dalam waktu singkat—sesuatu yang hampir mustahil dijelaskan hanya oleh faktor domestik. [1]

    Yang mencurigakan, protes yang awalnya berupa keluhan ekonomi—bahkan sempat dibiarkan berlangsung damai—dengan cepat berubah menjadi kekerasan perkotaan terkoordinasi. Terjadi serangan terhadap aparat, fasilitas publik, dan tenaga medis, dengan penggunaan senjata api jarak dekat. Dukungan terbuka dari AS dan Israel terhadap kekerasan ini semakin menguatkan argumen adanya orkestrasi geopolitik.[2]

    Ketika akses internet dibatasi, intensitas protes langsung menurun drastis. Fakta ini menimbulkan pertanyaan serius tentang spontanitas gerakan tersebut dan menguatkan tesis bahwa krisis ekonomi sedang dieksploitasi sebagai alat destabilisasi politik. Yang menarik, Iran ternyata mampu mengendalikan eskalasi tersebut. Meskipun Amerika Serikat dilaporkan memberikan dukungan teknologi komunikasi alternatif seperti Starlink untuk menjaga konektivitas para aktor di lapangan, jaringan tersebut berhasil di-jamming. [3] Akibatnya, komunikasi antarkelompok terputus, koordinasi lapangan melemah, dan skenario eskalasi menuju penggulingan rezim tidak berkembang lebih jauh. Pemutusan mata rantai komunikasi ini menjadi faktor kunci yang membatasi transformasi protes ekonomi menjadi krisis politik nasional.

    Di titik ini, analogi dengan Indonesia pada krisis moneter 1998 menjadi relevan. Indonesia juga mengalami kejatuhan nilai mata uang yang ekstrem, inflasi tinggi, dan tekanan eksternal yang besar. Namun, krisis ekonomi tersebut berujung pada kejatuhan rezim, bukan semata karena faktor eksternal, melainkan karena faktor internal yang akut: korupsi sistemik, despotisme politik, hilangnya legitimasi moral, serta keterputusan rezim dari aspirasi masyarakat. Fakta bahwa negara-negara lain di kawasan Asia—seperti Malaysia, Thailand, dan Korea Selatan—mengalami krisis serupa namun tidak runtuh secara politik menunjukkan bahwa krisis ekonomi saja tidak otomatis menjatuhkan negara atau pemerintahan.

    Iran dan Imperialisme Amerika

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    9 COMMENTS

    1. Indonesia vs Iran bagaikan bumi dan langit.
      Akhlak, moralitas, kapasitas, dan integritas sebagai penjaga bangsa tidak dimiliki negara kita. Unsur inilah yang semakin mempermudah negara lain menyetir kebijakan dalam negeri Indonesia.

      • Paling tidak pemerintah Indonesia, masih mampu menyediakan air bersih, listrik untuk Rakyatnya, masih mampu menjaga nilai tukar Rupiah (walaupun sekarang melemah), masih mampu menjaga inflasi.

    2. Bila pemerintahan teokrasi IRAN tidak memberikan ruang kepada para “reformis”, dan memberikan celah sistem kapitalis digunakan, bisa jadi IRAN dapat memenangkan gelanggang sejak lama.

      Sebagai contoh, belum lama berhasil menumbangkan syah Reza Pahlevi, pemimpin boneka Kapitalis, revolusi IRAN diuji dengan perang sewindu dengan irak.
      IRAN dikeroyok seluruh dunia dibelakan irak, tapi IRAN dapat keluar sebagai pemenangnya.

      Lalu kini dengan kemajuan di segala bidang khususnya roket dan Satelit, tak ada yg dapat menghadang kemajuan IRAN menggapai cita citanya

    3. Apa yang terjadi di Iran adalah sejarah yang akan menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara lain kedepannya. Kunci dari pertahanan dan perlawanan bangsa dan negara terhadap hegemoni Barat yang didalangi Amerika adalah bersatunya unsur rakyat dan pemerintahnya, kuatnya kepercayaan publik kepada pengelola negara. Kepercayaan tentu tidak datang di ruang hampa, ia adalah proses panjang dan pembuktian bahwa negara memang berpihak pada rakyat, bukan pemerintahan yang elitis, yang hanya mementingkan kelompok penguasa. Semoga Indonesia juga bisa belajar dari Iran.

    4. Kebenaran (kemanusiaan) akan selalu menjadi musuh imperialis..DAN pilihannya hanya dua tuntuk pada_nya ..atau di jatuhkan dengan dan berbagai cara_
      .
      .

    5. Dalam ilmu politik dan pembangunan, itu bahkan dikenal sebagai fondasi ketahanan negara (state resilience). Negara yang mampu menjamin kebutuhan dasar rakyatnya biasanya memiliki tiga kekuatan utama:

      1. Legitimasi internal yang kuat
      Jika rakyat merasa:
      -. perutnya kenyang
      -. anaknya bisa sekolah
      -. sakit bisa berobat
      -. ada pekerjaan dan harapan hidup
      maka akan tumbuh kepercayaan pada negara. Tanpa kepercayaan itu, propaganda asing, provokasi, dan tekanan eksternal sulit masuk.

      2. Stabilitas sosial
      Krisis biasanya bukan dimulai dari serangan asing, tapi dari:
      -. pengangguran massal
      -. harga pangan melonjak
      -. layanan publik runtuh
      -. ketimpangan ekstrem
      Di situ konflik internal muncul. Kekuatan asing biasanya hanya memanfaatkan retakan yang sudah ada, bukan menciptakan dari nol.

      3. Sejarah membuktikan
      Banyak contoh negara runtuh bukan karena invasi langsung, tetapi karena:
      -. ekonomi hancur
      -. elite korup
      -. rakyat putus harapan
      Sebaliknya, negara yang rakyatnya relatif sejahtera (misalnya negara Nordik, Jepang pascaperang, Korea Selatan) tetap stabil meski berada di tekanan geopolitik besar.

    6. Rakyat Iran negara yang membentengi diri nya dgn taat pada pemimpin spiritual,yakin pada kemampuan diri mereka walaupun ada para pemberonrak dan kaum munafiq yang masih di manfaatkan oleh rezim syah yg berafiliasi dgn israel cs..Iran sudah waspada dan akan selalu siaga,penguatan dengan ilmu dan spiritual..Bravo iran

    7. Saya pribadi dan tentu bnayak org yg bisa berfikir waras,merasa dan sangat kagum akan ketangguhan RII dalma menghadadapi tekanan pilitik/ekonomi embargo .dll..oleh zionis amrik dan sekutu² nya….

      Saya yakin dan pasti berkat ketangguhan, kecerdasan dan soliditas rakyat Iran pada kebanyakan ..akan bisa melewati masa berat ini.

      Doa dan dukungan sellau bersama pemimpin dan rakyat Iran…..
      .Amiiin

    8. Sejarah Iran menunjukkan bahwa ketahanan bangsa lahir dari kesadaran kolektif, rakyat yang sadar, pemimpin yang amanah, dan orientasi kebijakan yang berpihak pada yang lemah.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here