Iran dan Imperialisme Amerika
Pelajaran pentingnya adalah ini: ketika Iran tidak runtuh meskipun diguncang serangan ekonomi, tekanan geopolitik, dan problem internal, hal itu menunjukkan bahwa pemerintah Iran masih memiliki kapasitas negara yang kuat dan tingkat penerimaan sosial yang signifikan. Ketahanan ini tidak berarti absennya masalah, tetapi menandakan bahwa basis legitimasi politik Iran—baik melalui nasionalisme, ideologi negara, resistensi terhadap intervensi asing, maupun struktur negara—masih cukup kokoh untuk mencegah skenario keruntuhan rezim seperti yang terjadi di Indonesia pada 1998.
Dengan kata lain, krisis ekonomi bisa menjadi pemicu, tetapi kejatuhan rezim hanya terjadi ketika krisis itu bertemu dengan delegitimasi total di mata rakyat. Dalam konteks Iran hari ini, titik delegitimasi itu belum tercapai.
Analisis ini sejalan dengan pandangan ekonom pemenang Nobel, Joseph E. Stiglitz, yang menyebut kebijakan luar negeri Amerika Serikat hari ini sebagai tanda memasuki “era baru imperialisme”. Dalam esainya America’s New Age of Empire (2026), Stiglitz menegaskan bahwa tindakan sepihak, pelanggaran hukum internasional, dan penggunaan tekanan ekonomi sebagai alat politik bukanlah ekspresi kekuatan, melainkan gejala kemunduran hegemonik. Ketika “might makes right” menggantikan aturan hukum dan norma global, tekanan terhadap negara-negara seperti Iran tidak lagi berfungsi sebagai stabilisasi, tetapi sebagai pemicu ketidakpastian, instabilitas, dan resistensi. Dalam kerangka ini, krisis ekonomi Iran tidak dapat dipisahkan dari konteks imperialisme ekonomi global yang justru semakin memperlihatkan keterbatasan dan kelelahan strategis Amerika Serikat sendiri.[4]
Penutup
Pada akhirnya, krisis ekonomi Iran memperlihatkan bahwa stabilitas sebuah negara tidak ditentukan oleh absennya tekanan, melainkan oleh kemampuan negara dan masyarakatnya mengelola tekanan tersebut. Serangan ekonomi, manipulasi keuangan, dan destabilisasi politik adalah realitas keras dalam tatanan global hari ini, tetapi dampaknya tidak bersifat deterministik. Pengalaman Iran menunjukkan bahwa selama negara masih memiliki kapasitas institusional, kendali strategis, dan—yang paling krusial—legitimasi sosial yang memadai, krisis tidak serta-merta berujung pada keruntuhan pemerintah. Ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perubahan politik ke arah yang lebih baik dan berkelanjutan tidak bisa lahir dari rekayasa eksternal atau guncangan buatan, melainkan dari proses internal yang berakar pada relasi sehat antara negara dan masyarakatnya.
*Dina Yulianti adalah dosen Hubungan Internasional Unpad, Vita Sarasi adalah dosen Ekonomi dan Bisnis Unpad.
Referensi:
[1] Prashad, V. 2026. Six points to navigate the turmoil in Iran. https://peoplesdispatch.org/2026/01/13/six-points-to-navigate-the-turmoil-in-iran/
[2] Dabashi, H. 2026. How Israel and the US are exploiting Iranian protests
https://www.middleeasteye.net/opinion/how-israel-and-us-are-exploiting-iranian-protests
[3] Doffman, Z. 2026. Kill Switch’—Iran Shuts Down Musk’s Starlink For First Timehttps://www.forbes.com/sites/zakdoffman/2026/01/13/kill-switch-iran-shuts-down-starlink-internet-for-first-time
[4] Stiglitz, J.E. 2026. America’s New Age of Empire







Indonesia vs Iran bagaikan bumi dan langit.
Akhlak, moralitas, kapasitas, dan integritas sebagai penjaga bangsa tidak dimiliki negara kita. Unsur inilah yang semakin mempermudah negara lain menyetir kebijakan dalam negeri Indonesia.
Paling tidak pemerintah Indonesia, masih mampu menyediakan air bersih, listrik untuk Rakyatnya, masih mampu menjaga nilai tukar Rupiah (walaupun sekarang melemah), masih mampu menjaga inflasi.
Bila pemerintahan teokrasi IRAN tidak memberikan ruang kepada para “reformis”, dan memberikan celah sistem kapitalis digunakan, bisa jadi IRAN dapat memenangkan gelanggang sejak lama.
Sebagai contoh, belum lama berhasil menumbangkan syah Reza Pahlevi, pemimpin boneka Kapitalis, revolusi IRAN diuji dengan perang sewindu dengan irak.
IRAN dikeroyok seluruh dunia dibelakan irak, tapi IRAN dapat keluar sebagai pemenangnya.
Lalu kini dengan kemajuan di segala bidang khususnya roket dan Satelit, tak ada yg dapat menghadang kemajuan IRAN menggapai cita citanya
Apa yang terjadi di Iran adalah sejarah yang akan menjadi pelajaran berharga bagi negara-negara lain kedepannya. Kunci dari pertahanan dan perlawanan bangsa dan negara terhadap hegemoni Barat yang didalangi Amerika adalah bersatunya unsur rakyat dan pemerintahnya, kuatnya kepercayaan publik kepada pengelola negara. Kepercayaan tentu tidak datang di ruang hampa, ia adalah proses panjang dan pembuktian bahwa negara memang berpihak pada rakyat, bukan pemerintahan yang elitis, yang hanya mementingkan kelompok penguasa. Semoga Indonesia juga bisa belajar dari Iran.
Kebenaran (kemanusiaan) akan selalu menjadi musuh imperialis..DAN pilihannya hanya dua tuntuk pada_nya ..atau di jatuhkan dengan dan berbagai cara_
.
.
✋
Dalam ilmu politik dan pembangunan, itu bahkan dikenal sebagai fondasi ketahanan negara (state resilience). Negara yang mampu menjamin kebutuhan dasar rakyatnya biasanya memiliki tiga kekuatan utama:
1. Legitimasi internal yang kuat
Jika rakyat merasa:
-. perutnya kenyang
-. anaknya bisa sekolah
-. sakit bisa berobat
-. ada pekerjaan dan harapan hidup
maka akan tumbuh kepercayaan pada negara. Tanpa kepercayaan itu, propaganda asing, provokasi, dan tekanan eksternal sulit masuk.
2. Stabilitas sosial
Krisis biasanya bukan dimulai dari serangan asing, tapi dari:
-. pengangguran massal
-. harga pangan melonjak
-. layanan publik runtuh
-. ketimpangan ekstrem
Di situ konflik internal muncul. Kekuatan asing biasanya hanya memanfaatkan retakan yang sudah ada, bukan menciptakan dari nol.
3. Sejarah membuktikan
Banyak contoh negara runtuh bukan karena invasi langsung, tetapi karena:
-. ekonomi hancur
-. elite korup
-. rakyat putus harapan
Sebaliknya, negara yang rakyatnya relatif sejahtera (misalnya negara Nordik, Jepang pascaperang, Korea Selatan) tetap stabil meski berada di tekanan geopolitik besar.
Rakyat Iran negara yang membentengi diri nya dgn taat pada pemimpin spiritual,yakin pada kemampuan diri mereka walaupun ada para pemberonrak dan kaum munafiq yang masih di manfaatkan oleh rezim syah yg berafiliasi dgn israel cs..Iran sudah waspada dan akan selalu siaga,penguatan dengan ilmu dan spiritual..Bravo iran
Saya pribadi dan tentu bnayak org yg bisa berfikir waras,merasa dan sangat kagum akan ketangguhan RII dalma menghadadapi tekanan pilitik/ekonomi embargo .dll..oleh zionis amrik dan sekutu² nya….
Saya yakin dan pasti berkat ketangguhan, kecerdasan dan soliditas rakyat Iran pada kebanyakan ..akan bisa melewati masa berat ini.
Doa dan dukungan sellau bersama pemimpin dan rakyat Iran…..
.Amiiin
Sejarah Iran menunjukkan bahwa ketahanan bangsa lahir dari kesadaran kolektif, rakyat yang sadar, pemimpin yang amanah, dan orientasi kebijakan yang berpihak pada yang lemah.