
Layar tancep memiliki fungsi penting sebagai medium kohesi sosial. Aktivitas menonton bersama di ruang terbuka mendorong interaksi antarwarga, membangun semangat gotong royong, serta memperkuat ikatan sosial yang kerap tergerus oleh hiburan lewat gawai yang serba personal dan tertutup. Warga terlibat sejak tahap persiapan, mulai dari penataan ruang, penyediaan perlengkapan, hingga makan bersama pasca pemutaran, yang secara alami membangun rasa memiliki dan kebersamaan.
Dari sisi literasi, film menjadi sarana pembelajaran yang kontekstual dan mudah diakses. Melalui narasi visual, masyarakat diajak membaca realitas sosial, memahami nilai-nilai kemanusiaan, serta mengasah kemampuan berpikir kritis. Diskusi ringan setelah pemutaran film menjadi bagian integral dari kegiatan, mendorong warga untuk bertukar pandangan dan mengekspresikan pendapat secara terbuka.
Inisiatif ini juga sejalan dengan pendekatan literasi kontemporer yang menekankan pentingnya literasi visual dan media sebagai pelengkap literasi baca-tulis. Dalam dunia yang dipenuhi arus informasi audiovisual, kemampuan memahami pesan film, gambar, dan cerita visual menjadi kompetensi penting bagi masyarakat.
Luminesa menilai bahwa layar tancep adalah bentuk literasi yang membumi dan inklusif. Menjembatani hiburan, pendidikan, dan interaksi sosial dalam satu ruang yang egaliter. Dengan menghadirkan film di ruang publik, literasi tidak lagi terasa elitis, melainkan hadir sebagai praktik budaya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ke depan, Luminesa memiliki program workshop film untuk orang muda sebagai pelatihan intens membuat film. Luminesa juga berkomitmen untuk terus mengembangkan program layar tancep literasi sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang tidak hanya terhibur, tetapi juga kritis, berempati, dan solid secara sosial. Melalui film dan kebersamaan, Luminesa percaya bahwa literasi dapat menjadi jalan untuk memperkuat ikatan sosial dan nilai gotong royong di tengah masyarakat.






