3. Luangkan Waktu
Menonton film, main musik, baca novel, atau sekadar nongkrong bareng teman bisa menjadi “vitamin jiwa”. Aktivitas ini membantu meredakan stres dan menjaga mood tetap positif. Self-care bukan kemewahan, tapi kebutuhan.
4. Batasi Media Sosial
FOMO (Fear of Missing Out), perbandingan sosial, dan berita negatif bisa memicu stres yang tidak perlu. Coba atur waktu khusus untuk membuka media sosial agar kamu tidak tenggelam dalam dunia digital. Coba ‘detoks’ medsos minimal 1 hari dalam seminggu.
5. Jaga Koneksi
Berbagi cerita dengan teman, keluarga, atau komunitas kampus bisa meringankan beban mental. Jangan ragu untuk terbuka saat sedang merasa tertekan. Kesehatan mental bukan tentang menghindari masalah, tapi punya tempat aman untuk bercerita.
6. Kenali Batasan
Kamu tidak harus aktif di semua organisasi, menerima semua ajakan nongkrong, atau mengambil beban kuliah maksimal setiap semester. Menghormati kapasitas diri adalah bentuk mencintai diri sendiri. Prioritaskan yang penting, bukan yang mendesak.
7. Cari Bantuan Profesional
Jika kamu merasa cemas berlebihan, sering overthinking, atau mulai kehilangan motivasi, jangan ragu untuk berkonsultasi ke psikolog kampus atau layanan konseling. Mental health is real health. Bukan berarti kamu lemah. Justru itu langkah berani untuk sembuh.






