More

    Wisuda 230 Dokter Gaza di Tengah Reruntuhan

    230 mahasiswa kedokteran resmi diwisuda di tengah puing reruntuhan Rumah Sakit Al-Shifa, Gaza, Sabtu, (3/1). (Foto: Mina News)

    Dalam pidato perwakilan lulusan, Ezz El-Din Lulu, hadirin dibuat terdiam. Ia mengisahkan bahwa selama menempuh pendidikan, dirinya kehilangan 20 anggota keluarga, termasuk sang ayah yang hingga kini masih tertimbun reruntuhan. Namun, alih-alih menyerah, ia memilih bertahan dan menyelesaikan studinya sebagai bentuk perlawanan paling sunyi.

    GAZA, KabarKampus – Di tengah debu puing bangunan dan sisa kehancuran akibat agresi militer yang berkepanjangan, Jalur Gaza kembali menyuguhkan sebuah peristiwa yang menggugah nurani dunia. Sebanyak 230 mahasiswa kedokteran resmi diwisuda dalam sebuah prosesi kelulusan yang jauh dari kata biasa, namun sarat makna dan keteguhan.

    Upacara wisuda tersebut berlangsung pada di halaman Kompleks Medis Al-Shifa, Sabtu (3/1), rumah sakit terbesar di Gaza yang kini sebagian besar bangunannya hancur akibat serangan militer Israel. Alih-alih digelar di aula kampus atau gedung megah, para lulusan memilih lokasi yang menjadi saksi luka kemanusiaan, sekaligus simbol ketahanan hidup.

    Para dokter muda ini merupakan lulusan dari Universitas Al-Azhar Gaza dan Universitas Islam Gaza, tergabung dalam angkatan yang diberi nama penuh makna, Angkatan Phoenix 2025. Nama tersebut melambangkan kebangkitan dari kehancuran, sebagaimana burung phoenix yang bangkit dari abu.

    - Advertisement -

    Momen wisuda ini terekam dalam sejumlah video dan foto yang dibagikan melalui media sosial, salah satunya oleh akun Instagram @m.saed.gaza. Dalam rekaman tersebut, para wisudawan tampak mengenakan toga lengkap, berdiri tegak di tengah reruntuhan, sembari mengibarkan bendera kecil Palestina sebagai penanda identitas dan cinta tanah air.

    Pemilihan RS Al-Shifa sebagai lokasi wisuda bukan tanpa alasan. Rumah sakit ini sebelumnya menjadi pusat layanan kesehatan utama Gaza, sebelum dua kali diduduki dan diluluhlantakkan dalam agresi militer. Di antara bangunan bedah yang runtuh, terpajang foto-foto tenaga medis yang gugur, disertai tulisan yang menggugah, “Kami mengikuti jejakmu dan melanjutkan perjalanan kedokteran dan kemanusiaan.”

    Lapangan wisuda juga dipenuhi potret para mahasiswa dan staf fakultas kedokteran yang syahid. Di bawahnya tertera kalimat, “Mereka bersama kami, meski tak berdiri secara fisik di podium wisuda.” Pemandangan ini menegaskan bahwa prosesi tersebut bukan sekadar seremoni akademik, melainkan pernyataan kolektif bahwa pendidikan dan kemanusiaan tak bisa dihancurkan oleh perang.

    Bersambung ke halaman selanjutnya –>

    - Advertisement -

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here