Dalam pidato perwakilan lulusan, Ezz El-Din Lulu, hadirin dibuat terdiam. Ia mengisahkan bahwa selama menempuh pendidikan, dirinya kehilangan 20 anggota keluarga, termasuk sang ayah yang hingga kini masih tertimbun reruntuhan. Namun, alih-alih menyerah, ia memilih bertahan dan menyelesaikan studinya sebagai bentuk perlawanan paling sunyi.
Sementara itu, Raghad Hassouna menegaskan makna simbolis nama angkatan mereka. “Ini adalah nubuat yang menjadi nyata. Kami bangkit dari penderitaan dan kehancuran. Dari perang yang mencoba mematahkan kami, lahir tekad yang lebih kuat untuk hidup, mengabdi, dan berhasil,” ujarnya.
Kesaksian serupa disampaikan oleh Dr. Alaa Zaqout, lulusan Universitas Islam Gaza. Ia menceritakan bahwa masa studinya bertepatan dengan perang yang merenggut keluarga, teman, dan rekan sejawatnya di dunia medis. Berita duka yang datang silih berganti menjadi beban psikologis berat, bahkan sempat menunda kelulusannya selama enam bulan.
Namun baginya, setiap kehilangan justru memperkuat tekad untuk menyelesaikan pendidikan dan menyelamatkan lebih banyak nyawa di masa depan. Kondisi yang tak kalah berat dialami Dr. Reham Al-Souri, lulusan Universitas Al-Azhar Gaza. Ia menjalani praktik medis di tengah keterbatasan ekstrem akibat blokade, mulai dari kekurangan alat kesehatan, obat-obatan, hingga pemadaman listrik dan internet yang berkepanjangan.
Meski demikian, ia tetap melayani pasien di Rumah Sakit Syuhada Al-Aqsa. Baginya, setiap pasien yang selamat menjadi bukti bahwa kehidupan selalu menemukan jalannya, bahkan ketika dunia di sekeliling runtuh. Hal senada diungkapkan dr. Shams Abu Suweireh yang menyoroti tantangan pengungsian, keterbatasan fasilitas belajar, serta ketergantungan pada perangkat elektronik di tengah krisis energi dan transportasi.
Namun, semua rintangan itu tak pernah memadamkan mimpinya. “Kami menentang segalanya karena keyakinan pada mimpi kami. Tidak ada perang, tidak ada reruntuhan, yang bisa menghentikan hati yang ingin menyembuhkan,” tegasnya
Upacara wisuda tersebut turut dihadiri para dekan fakultas kedokteran dan tokoh pendamping mahasiswa, yang menyampaikan rasa bangga serta harapan agar para lulusan ini kelak menjadi cahaya penyembuh, tidak hanya bagi Gaza, tetapi juga bagi dunia.
Di tengah kehancuran dan duka yang belum berakhir, Gaza kembali membuktikan bahwa ia tak hanya melahirkan kesedihan, tetapi juga harapan. Dari reruntuhan itulah 230 dokter muda melangkah maju, membawa luka, keteguhan, dan sumpah untuk mengabdi pada kemanusiaan seperti phoenix yang bangkit dari abu perang.






