Oleh: Ahmad Abu Musa Al Asyari*

TUNIS, KabarKampus – Di bawah naungan sejarah panjang peradaban Islam di Tunisia, Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia resmi memperingati hari Milad yang ke-32, Ahad (22/2/2026). Momentum tiga dekade ini menjadi ruang refleksi bagi para diaspora pelajar atas kontribusi intelektual yang telah dibangun di tanah perantauan.
Pada perayaan tahun ini, PPI Tunisia mengusung manifesto “Empower Waves”. Tema tersebut membawa pesan bahwa setiap pelajar Indonesia di Tunisia merupakan energi potensial yang, jika disatukan, akan menjadi gelombang perubahan signifikan bagi inovasi dan solusi nyata di tanah air.
Acara puncak peringatan ini dihadiri langsung oleh Duta Besar RI untuk Tunisia, Bapak Zuhairi Misrawi. Dalam pidatonya, beliau menyampaikan kabar prestisius mengenai penobatan PPI Tunisia sebagai Salah Satu PPI terbaik di seluruh dunia. Penghargaan ini merupakan hasil pemantauan intensif sejak tahun 2022 terhadap dinamika organisasi yang dinilai rasional, progresif, serta berdampak nyata di lingkungan Universitas Zaitunah dan Universitas Manouba.
Kualitas organisasi ini tercermin dari capaian akademik para anggotanya. Hingga saat ini, diaspora pelajar di Tunisia telah mencetak 10 Doktor (Ph.D), 50 Magister (MA), dan ratusan Sarjana. Menanggapi data tersebut, Dubes Zuhairi memberikan apresiasi secara langsung. “Ini adalah bukti dedikasi tinggi putra-putri terbaik bangsa di tanah para ulama,” tegas Zuhairi.
Beliau juga menegaskan komitmen KBRI untuk terus mendukung penuh aktivitas mahasiswa, baik dalam eksplorasi budaya maupun kajian mendalam mengenai filsafat dan Maqasid Syariah.
Selain pencapaian akademik, Bapak Dubes turut membagikan filosofi hidup “Ghadan Asyaddu Isyraqan” yang bermakna bahwa hari esok harus lebih cerah dari hari ini. Beliau merefleksikan perjalanan hidupnya dari seorang pemuda asal Sumenep hingga menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar dan menjadi representasi negara. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa setiap dedikasi mahasiswa saat ini adalah investasi jangka panjang bagi masa depan Indonesia.
Sebagai penutup, beliau menekankan pentingnya menjaga hubungan bilateral melalui memori sejarah kedekatan Presiden Soekarno dan Presiden Habib Bourguiba. Saat ini, tongkat estafet diplomatik berada di tangan generasi muda untuk merawat kerja sama ekonomi, politik, dan pendidikan sebagai bentuk tanggung jawab sejarah.
Peringatan Milad ke-32 ini menjadi penegas bahwa pelajar Indonesia di Tunisia adalah duta bangsa yang tangguh dan siap berkontribusi bagi dunia.
*Mahasiswa Universitas Az-Zaitunah, Tunisia, selalu panitia milad 32 Tahun PPI Tunisia.






