
BANDUNG, KabarKampus – Institut Teknologi Bandung (ITB) kembali menjadi ruang strategis pertemuan gagasan terkait masa depan pembangunan nasional. Dalam dua agenda berbeda yang digelar berdekatan, ITB menjadi titik temu pembahasan transisi energi berkelanjutan sekaligus penguatan peran teknologi, industri, dan sumber daya manusia (SDM) dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) menjadikan ITB sebagai kampus pertama yang dikunjungi dalam rangka penguatan peran generasi muda untuk mengawal transisi energi nasional. Kegiatan yang dikemas dalam bentuk bincang energi ini digelar di Auditorium CC Timur ITB Kampus Ganesha, Jumat (30/1).
Ketua Umum METI, Zulfan Zahar, yang juga alumni ITB Program Studi Teknik Sipil angkatan 2004, menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam membentuk sumber daya manusia yang memahami secara komprehensif tantangan dan peluang transisi energi.
Dalam kegiatan tersebut, METI menekankan pentingnya inisiatif METI Muda sebagai ruang pembelajaran dan partisipasi generasi muda dalam isu energi terbarukan. “ITB kami pilih sebagai kampus pertama karena kami percaya perguruan tinggi memiliki peran kunci dalam membangun pemahaman, nalar kritis, dan solusi konkret terkait transisi energi,” ujarnya seperti dikutip dari situs ITB.
Mahasiswa dinilai memiliki posisi strategis untuk melahirkan gagasan kontekstual yang berangkat dari kondisi riil di berbagai daerah. “Kami tidak membatasi jumlah keterlibatan generasi muda. Harapannya, semakin banyak anak muda yang paham dan terlibat, semakin kuat pula pengawalan terhadap transisi energi ini,” kata Zulfan.
METI juga menyoroti bahwa transisi energi tidak semata soal pergantian sumber energi, tetapi membuka peluang besar bagi penciptaan lapangan kerja hijau, penguatan ekonomi sirkular, dan pertumbuhan ekonomi daerah. “Jika dikelola dengan baik, transisi energi dapat menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional,” ujarnya.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), proses transisi dirancang bertahap dengan gas sebagai energi jembatan dan energi terbarukan sebagai tulang punggung jangka panjang. Selain itu, METI menegaskan pentingnya kepatuhan terhadap perizinan lingkungan dalam pengembangan energi terbarukan.
Zulfan mengapresiasi langkah pemerintah dalam menegakkan aturan lingkungan dan mendorong agar izin lingkungan menjadi syarat utama dalam pengadaan proyek energi terbarukan. “Energi terbarukan pada dasarnya tidak melawan alam. Karena itu, kepatuhan terhadap izin lingkungan adalah hal yang mutlak,” kata Zulfan.
METI juga menilai Jawa Barat memiliki potensi energi terbarukan yang besar, mulai dari tenaga air, angin, hingga panas bumi. “Jawa Barat punya kombinasi potensi energi yang lengkap. Ini menjadi alasan kuat mengapa wilayah ini penting dalam pengembangan energi terbarukan,” ujarnya.
Wilayah ini dipandang strategis sebagai titik awal penguatan transisi energi nasional sebelum diperluas ke provinsi lain. Di waktu yang berdekatan, ITB juga menjadi tuan rumah Seminar Nasional bertajuk “Strategi Teknologi, Industri, dan SDM Menuju Indonesia Emas 2045” yang digelar Ikatan Alumni ITB Angkatan 1980 (ITB80), Sabtu (31/1).
Seminar ini merespons tantangan pertumbuhan ekonomi nasional yang dinilai perlu melampaui jebakan pertumbuhan di kisaran 5 persen. Seminar tersebut menghadirkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek), Brian Yuliarto.
Bersambung ke halaman selanjutnya –>






