Dalam pemaparannya, Brian menegaskan bahwa target pertumbuhan ekonomi tinggi hanya dapat dicapai melalui peningkatan produktivitas berbasis sains dan teknologi. “Saya diundang oleh alumni ITB 80 untuk seminar Nasional mendorong produktivitas untuk pertumbuhan ekonomi 8 persen. Tentu ini bagian dari upaya mendukung apa yang diinginkan presiden dan seluruh bangsa bahwa bangsa kita harus melaju cepat dan di sinilah peran yang vital adalah munculnya industri berbasis sains dan teknologi, itu yang akan memiliki efek berlipat untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi,” ujar Brian seperti dikutip dari Detik.
Menurutnya, industri berskala besar membutuhkan dukungan riset, inovasi, dan SDM dengan keterampilan berisiko tinggi. Di sinilah peran perguruan tinggi dan alumni menjadi sangat krusial. “Di situlah peran dari perguruan tinggi sangat dibutuhkan, saya dalam paparan terlihat bahwa untuk industri besar kebutuhan high risk skill, riset, inovasi itu tinggi. Jadi kita berharap di sinilah perguruan tinggi dan alumni bisa mengakselerasi,” katanya.
Brian menilai alumni perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai penghubung antara dunia akademik dan industri. “Karena alumni memiliki sumber daya manusia, pengalaman luas, jejaring luas dan beberapa dari mereka memiliki industri, dengan adanya kolaborasi ini perguruan tinggi bisa melakukan riset untuk mendukung industri yang ada,” ungkapnya.
Untuk memperkuat ekosistem tersebut, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi telah menyiapkan program riset hilirisasi yang dirancang langsung menjawab kebutuhan industri. “Kami Kemendiktisaintek punya program yaitu riset hilirisasi, jadi industri kita tanya apa kebutuhannya, apa yang mesti diriset, kebutuhan inovasi apa, nanti kementerian akan mencarikan guru besar dan peneliti yang sesuai bidangnya, bahkan kita akan mendanai melalui program pendanaan riset untuk mendukung kebutuhan industri,” jelas Brian.
Ia berharap pendekatan tersebut mampu meningkatkan daya saing industri nasional. “Harapannya industri memiliki kekuatan inovasi, riset dan dengan begitu industri semakin tinggi produktivitas dan menjadi industri berkelas,” ucapnya.
Brian juga mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyiapkan basis data komprehensif mengenai potensi perguruan tinggi dan akademisi di Indonesia sebagai tindak lanjut arahan Presiden. “Kita punya database perguruan tinggi, guru besar, bahkan pak presiden meminta dilakukan kajian soal kebutuhan bangsa kita sudah kita klaster yang diisi dosen dan guru besar lintas perguruan tinggi,” tuturnya.
Sementara itu, Rizal Affandi Lukman, alumni ITB80 yang juga tim ahli Kemenko Perekonomian, menyoroti momentum bonus demografi Indonesia yang diperkirakan mencapai puncak pada periode 2035–2040. “Bonus demografi tidak akan berarti jika tidak dididik menjadi tenaga terampil. Tenaga terampil diperlukan untuk meningkatkan peran AI dan digital teknologi dalam dunia UMKM yang jumlahnya amat banyak,” ujar Rizal.
Menurutnya, peningkatan kualitas keterampilan akan berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi nasional. “Pendorong utama pertumbuhan ada tiga yaitu inovasi, produktivitas, dan peningkatan kualitas SDM,” katanya.
Melalui rangkaian kegiatan ini, ITB menegaskan perannya sebagai pusat pertukaran gagasan strategis antara akademisi, pemerintah, industri, dan generasi muda dalam menjawab tantangan transisi energi dan pembangunan ekonomi berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045.






